
Sambil menunggu aku iseng kembali memainkan hp kembali membuka aplikasi berlogo "f". men scroll beranda. Rupanya ada sudah status yang menarik perhatian ku. , mantan Suami mbak Anggi. membuat status sebuah foto seseorang dari belakang, dengan kata.
Aku merindukan waktu kita bersama, tapi sayang sekarang kita sudah tak bersama lagi.
dengan latar foto, baju yang di kenakan aku seperti tak asing, setelah mengingat cukup lama ya, aku ingat itu mbak Anggi, baju yang ia kenakan adalah baju ku yang di ambil secara paksa. di saat Dulu aku masih berjuang berjualan online.
"tumben sekali Bang Devan menulis status, tapi status ini di tunjukkan untuk siapa. mbak Anggi atau istri barunya itu" pikir Sindy
"sudahlah itu bukan urusanku" gumam Sindy
Gegas Sindy, menaruh hp di tas selempangnya, tak lama Adam keluar kamar dengan pakaian yang sudah rapih.
"dek sebelum kita pergi makan ke luar, kita berkunjung dulu ke rumah mamah untuk memberikan uang yang semalam aku sudah bilang, sedangkan untuk ibu sudah aku TF tadi siang" ucap Adam
"iya mas" balas Sindy
gegas kami berdua Menaiki kuda besi menuju rumah orang Sindy, memakan waktu 30 menit di perjalanan tak ada obrolan apa apa. kami menikmati perjalanan berdua.
"walau sering kali keluar bersama. namun kali ini Rasanya berbeda sekali mungkin karena akhir akhir ini mas Adam, jujur terhadap ku dan juga ibu sudah berkurang merecoki hari hari ku" pikir Sindy
Setelah sampai, pintu rumah terkunci
gegas Sindy, keluarkan benda pipih dari tas Sling bag yang di kenakan nya.
saat mau menghubungi orang tuaku rupanya sudah ada, Adikku yang memberi tahu jika ayah dan mamah berada di restoran.
rupanya mamah dan ayah sedang makan malam di restoran milik adikku, yang berada tak jauh dari rumah gegas Sindy dan Adam menghampiri nya, ke restoran yang tempo hari mereka makan berdua. di sambut dengan baik dan hangat justru hali itu membuat Adam, semakin malu.
"sambutan hangat dari kedua orang tua, Sindy membuatku malu, Sindy di perlakukan kurang baik di oleh ibu dan Kakakku. kali ini aku akan berjuang lebih giat lagi untuk membahagiakan Sindy" Batin Adam dengan penuh tekad.
di sela canda tawa, tak sengaja kedua bola mata Sindy, menatap seseorang yang sedang duduk termenung di pojok ujung kanan cafe. orang yang menghilangkan Setelah perceraian dengan kakak iparnya. kini sedang duduk merenung sendirian. ya itu Devan.
entah apa yang di lakukannya di Kota ini, seperti sedang mencari ketenangan dan kenyamanan.
Sindy, yang melihat itu sontak Saja membisikan sesuatu kepada Adam.
__ADS_1
"Mas, ada mantan kakak ipar" bisik Sindy seraya menunjuk di Mana Devan, duduk dengan lirikan matanya.
setelah mendapat bisikan dari Istrinya, gegas Adam, melihat apa yang di tunjukkan istrinya.
"ada apa, dengan Mas Devan, tak biasa nya merenung sendirian, lantas di mana anak dan istrinya" pikir Adam.
sedangkan orang yang sedari tadi di perhatikan oleh mantan adik iparnya, hanya diam saja seolah tak melihat mereka, padahal sebelum Sindy, dan Adam, melihat Devan, yang duduk sendirian termenung di pojokkan. Devan sudah melihat mereka, Dulu Devan, begitu sombong. dan sering merendahkan Adik iparnya, tapi sekarang apa yang mau di banggakan.
"Melihat mu bahagia satu hal yang terindah satu hal anugerah cinta yang pernah aku punya" batin Devan
Masih jelas Teringat pelukannya yang hangat seakan semua tak mungkin hilang, namun kini hanya kini tinggal kenangan yang telah Devan, tinggalkan mengapa masih Ada hal yang membuat ku merindukanmu, di saat semua sudah aku lupakan. Mampukah Devan bertahan tanpa hadir nya Anggi. dia yang meninggalkan namun Sekarang iya juga yang merasakan lantas kemana Istri dan anaknya sekarang ?.
Ayah dan Ibu Sindy, yang melihat itu hanya diam pura pura tidak tau, karena itu bukan ranah mereka. Lagi pula Devan, sudah lama menceraikan, kakak ipar dari anaknya.
setelah, selesai makan gegas mereka ber Empat, pulang ke rumah mamah jam menunjukan pukul tujuh malam.
sebelum berpamitan kepada kedua orang tua Sindy. Adam, terlebih dahulu berbicara kepada kedua mertuanya.
"mah, Kedatangan aku dan Sindy Kesini mau memberikan sedikit rejeki untuk kalian, dan aku minta doanya agar selalu di berikan kesehatan dan Rejeki yang halal" tutur Adam dengan lembut, seraya menyerahkan uang dari dalam saku celananya sengaja sudah di siapkan di dalam amplop coklat.
"Alhamdulillah, berkah mamah dan ayah selalu mendoakan kalian" ucap mamah Alma
" iya hati hati, mamah titip Sindy sama kamu" ucap Bu Alma
Adam tak berkata apa apa ia hanya mengangguk dengan mantap.
keduanya kembali ke halaman rumah di iringi oleh mertua Adam, mereka berdua Menaiki sepeda motor sebelum kendaraan roda dua itu melaju, Sindy, melambaikan tangan kepada orang tuanya.
singkat cerita
keduanya sudah sampai di rumah Sindy, membersihkan tangan dan kakinya berganti pakaian. lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur.
sedangkan Adam, masih duduk termenung di ruang tengah entah apa yang di pikirkan olehnya.
di restoran
__ADS_1
Seakan semua tak mungkin menghilang, kini hanya tinggal kenangan yang telah Devan Tinggalkan. Mengapa masih ada sisa rasa di dada saat aku pergi begitu saja.
"Tuhan Sampaikan rinduku untuknya, masih tersimpan setiap kenangan bersamanya" batin Devan.
Setelah merenung cukup lama, akhirnya Devan memutuskan untuk pulang, namun saat ia berbalik untuk menuju kasir, rupanya Anggi baru saja masuk menuju resto bersama sahabatnya.
detak jantung Devan, tak karuan sama seperti halnya dulu saat ia, akan melamar Anggi Sungguh amat sangat menyesal. dulu ia meninggalkan Anggi Karena perihal belum memiliki anak. namun sekarang Anggi, seperti permata yang berkilau di Antara bebatuan. Devan yang melihatnya gegas menundukkan kepala, dan berjalan menuju meja kasir. membayar pesanan gegas keluar menuju parkiran.
hatinya tak karuan ketika melihat Wanita yang sudah ia tinggalkan berubah menjadi wanita karir. menjadi sosok perempuan Idaman semua pria. mandiri, disipilin. dan memiliki penghasilan sendiri.
"Sungguh aku tak bisa melupakan mu, andai waktu bisa di putar tak akan aku ceroboh, dan berharap bisa kembali lagi bersama mu" batin
Devan
Devan, terus saja melamun memperhatikan Anggi, dari luar Restoran sebuah telpon masuk membuyarkan lamunannya.
Dert
dert
.sebuah Panggilan masuk Dari Istrinya Ratna.
Devan, hanya berdecak kesal karena sudah mengganggunya.
"assalamualaikum, mas kamu di mana" cecar Ratna dengan pertanyaan nya.
"wa'alaikumsalam, ini di jalan dek mau pulang, ada yang mau kamu titip" tanya Devan, dengan lembut walau bagaimana pun sekarang ia Sadar istrinya adalah Ratna, bukan lagi Anggi.
"gx mas tanya aja, aku khawatir kamu belum ada pulang, yaudah hati hati di jalan aku tutup telponnya" ucap Ranta penuh perhatian.
tutt.
tuuut
Tut.
__ADS_1
telpon di tutup.
bersambung....