Sukses Setelah Di Hina

Sukses Setelah Di Hina
melawan ipar part 2


__ADS_3

"Ka-kamu ngancam aku Arga? Setidaknya kalau Syasa gak mau mencuci pakaianku, dia bisa menyimpannya. Kenapa harus dibuang?" tantang Mbak Lasmi. Dia berkacak pinggang setelah menyingsingkan lengan bajunya.


"Akan ku panggil Mas Bimo biar kalian tahu rasa. Baju mahal ku harus kalian ganti," tandasnya lalu ngeloyor pulang setengah berlari setelah memasukkan sesuatu ke dalam minumanku. Aku sudah menunduk dan memberi kode agar suamiku mengamati. Dan benar saja, pil pencegah kehamilan itu belum larut. Saat berseteru seperti ini dia masih sempat-sempatnya menjalankan misinya. Aku mengurut pelipis ku untuk mengurangi sakit kepala yang mendera saat melihat kelakuannya iparku. Sungguh melampaui batas.


Saat aku masih gadis, aku berdoa agar mendapatkan suami yang bisa menyempurnakan hidupku. Aku juga berdoa agar mendapat mertua lengkap agar aku memiliki pengganti orang tuaku yang jauh dariku.


Alhamdulillah Mas Arga baik, tapi aku punya mertua dan ipar yang toxic. Suamiku sudah Yatim sebelum aku jadi istrinya. Untung saja ada abang dan kakak ipar yang sudah berkeluarga. Mereka juga tinggal dekat dengan kami membuatku berpikir bahwa aku masih punya keluarga. Namun harapan tak seindah impian. Aku menganggap mereka keluarga, aku ikhlas disuruh-suruh dan melayani mereka. Apa yang kudapat? Mereka tak menganggap ku keluarga, kecuali Mas Bimo. Bagi mereka aku hanya orang lain sehingga mereka sampai hati membuatku tak kunjung hamil demi ambisi mereka. Demi bisa terus disuruh dan diintimidasi.


Hidup kadang seaneh itu mempermainkan kita. Aku yang dulu ikhlas membantu mendadak hilang ketulusan menyadari kebaikan yang ku tanam tidak dihargai.


Aku menyandarkan kepalaku ke dada Mas Arga dan mendapati detak jantungnya yang berirama lebih cepat. Mungkin benar perkataannya kalau ia juga ikut terluka saat melihat hatiku teriris sembilu.


"Mas, kalau Mas Bimo benar-benar datang, bela aku ya Mas!" ujarku ketakutan. Mas Arga mengelus kepalaku yang masih tertutup jilbab.


"Mas Bimo tak mungkin datang marahi kamu Dek. Dia paling akan menyalahkan Mbak Lasmi. Memangnya kenapa kamu buang Dek bajunya?" Mas Ilham membingkai wajahku dengan kedua tangannya.


"Aku menyedekahkan bajunya Mas. Mbak Lasmi menyuruh aku mencuci daleman mereka sekeluarga Mas, bahkan beberapa celana bekas menstruasi Meli juga ada. Aku jijik Mas dan itu gak sopan. Itu yang aku buang"." Aku bergidik membayangkan betapa joroknya Meli keponakanku. Penampilannya professionals tapi membersihkan ********** saja tak bisa. Orang yang sesungguhnya bersih adalah orang yang mau membersihkan yang jorok, bukan malah membiarkan.


Amit-amit dah punya anak kayak Meli. Ibunya juga terlalu mikirin dirinya sendiri sehingga lupa mengajarkan hal sepenting itu pada putrinya. Semoga saja masalah adab mandi besar setelah haid sudah Meli ketahui. Kalau tidak, entah bagaimana sholatnya selama ini.

__ADS_1


"Ya Allah Dek, kalau tadi kamu bilang masalah itu Mas bisa lebih tegas lagi. Itu penghinaan bagimu Dek."


"Sudahlah Mas. Kita tak perlu memikirkannya lagi. Semoga pekerjaan Mas lancar, masalah kakak ipar, aku akan atasi sendiri Mas," tandas aku mengakhiri obrolan tentang mereka.


🌈🌈🌈


Sudah dua hari Mbak Lasmi tak pernah datang ke rumah padahal rumahku tak lagi kunci. Dia tak memperpanjang masalah pakaiannya lagi. Mbak Nadin juga tak pernah menitipkan Zaki lagi ke rumahku. Sepanjang hari aku bisa melakukan pekerjaan rumah dengan lega tanpa hambatan.


Karena aku tak punya kesibukan, aku mulai menanam sayur kangkung, bayam, kacang panjang, daun ubi serta cabe beberapa batang. Pekarangan samping rumah kami cukup lebar, sayang kalau dibiarkan. Aku memanfaatkannya untuk membuat kebun mini aneka sayur dan rempah-rempah. Lumayan untuk bisa berhemat dan juga membuat kesibukan baru saat bosan menulis.


Notifikasi berdenting dari hapeku, mungkin pemberitahuan komentar dari aplikasi menulis. Benar saja, ratusan komentar pada cerbungku membuatku bersemangat menulis. Aku membaca komen mereka dan tersenyum sendiri sembari memberikan reaction dan terkadang balasan. Satu akun menarik perhatianku.


Aku tersenyum miris membaca komentar Mbak Nadin. Dialah ipar nyebelin yang ku maksud, dan ia memaki dirinya sendiri. Dia tak terima kalau ada di posisiku tapi memperlakukan aku semena-mena. Dia pasti gak kenal akunku karena menggunakan foto animasi. Aku juga sudah mengubah nama tokoh dan menambahi adegan fiksi lainnya. Dunia maya ini tak ada batas, siapa saja bisa mengaksesnya. Untung aku menggunakan nama samaran sehingga aib keluargaku tetap aman dan terpenting bebas dari amukan.


Melihat akun Mbak Nadin , aku jadi iseng mencari nama mereka di aplikasi yang berbeda. Oh, pantas saja mereka tak mengganggu dua hari ini karena Mbak Sania dan Mbak Lasmi sedang liburan di Tor Sibohi, hotel yang dibangun di sebuah bukit dengan menyuguhkan pemandangan yang indah.


Semoga dengan liburan itu, otak mereka kembali normal.


***

__ADS_1


"Syasa! Kamu dimana Dek? Mbak ada oleh-oleh." Suara Mbak Lasmi terdengar saat aku menyiram sayuranku. Aku bergegas membukakan pintu. Aku tidak sedang mengunci pintu dan hanya menutupnya. Kenapa Mbak Lasmi tak langsung masuk?


"Masuk Mbak, Zaki," ucapku saat mendapati tak hanya Mbak Lasmi saja, tapi ada Mbak Nadin dan Zaki.


"Ini oleh-oleh dari kami Dek. Kami baru pulang liburan. Itung-itung sebagai permintaan maaf atas insiden yang terjadi diantara kita," ucap Mbak Nadin sembari tersenyum. Apa aku tak salah dengar? Minta maaf bukanlah bagian dari kebiasaan mereka. Ini diluar dugaanku. Kukira mereka akan mengeroyokku tapi ternyata liburan membuat pikiran mereka ikut bersih.


"Harusnya gak usah repot-repot Mbak. Makasih loh Mbak. Aku ambil minum dulu ya," ucapku sembari berlalu ke dapur membuatkan teh manis. Ya, mungkin sudah saatnya kami berdamai.


Aku menyuguhkan minuman untuk mereka yang sudah menghidupkan film animasi. Zaki begitu menikmati tontonannya. Aku duduk ikut nimbrung dengan mereka dan menyeruput tehku. Seperti sengaja, atau aku salah lihat, Mbak Lasmi menumpahkan sedikit minuman. Aku langsung berdiri untuk mengambil kain pel.


Langkahku terhenti saat melihat tangannya Mbak Sania memasukkan pil lagi ke dalam gelasku. Aku sengaja mengintip dari balik pintu karena curiga dengan perubahan sikap mereka. Oh, ternyata kalian belum taubat iparku? Mereka hanya berusaha mengecoh ku dengan berpura-pura baik. Baiklah, ku terima tantangan itu. Aku akan bersandiwara mengikuti permainan kalian.


Aku mengambil minyak jelantah dan berjalan memutar dari luar. Aku menumpahkan minyak di depan pintu yang tertutup lalu bergerak cepat agar mereka tak curiga.


"Aku pel dulu ya Mbak," ucapku pada Mbak Nadin agar ia mengangkat kakinya. Mbak Nadin dan Mbak Lasmi malah berdiri.


"Kami ada urusan sebentar. Titip Zaki sebentar ya," pamit mereka tetap dengan senyuman palsu yang langsung ku angguki. Sesuai dugaan, mereka datang karena ada maunya.


Knop pintu terbuka dan suara benda besar yang terjatuh terdengar kemudian. Aku segera menutup mulut agar tawaku tak meledak melihat dua iparku yang malang.

__ADS_1


__ADS_2