
Anggi dan Firman, telah sampai di Resto Hotel memasuki sebuah ruang viv walau Anggi, merasa heran namun kakinya tetap ikut melangkah tangan Anggi, tak lepas dari gandengan Firman.
Setelah sampai di sebuah ruangan yang begitu Romantis, alunan musik merdu dan sebuah meja dengan terhidang makanan Serta. Ada seseorang yang memainkan biola dengan alunan yang begitu merdunya.
Anggi, merasa tidak salah memilih pasangan hidup oleh karena itu, ia sangat menyayangi Sya'sa.
Mereka menikmati makan berdua, Selesai makan Firman mengeluarkan sesuatu dari balik sakunya.
sebuah Hadiah, yang akan ia berikan kepada Istrinya.
"Sayang, terimakasih telah mau menikah denganku" ucap Firman dengan sendu seraya menyerahkan kota yang cukup besar berbetuk love.
"sama sama, mas ini apa?" tanya Anggi Seraya menerima sebuah kotak itu.
"ini Hadiah, dariku karena telah bisa merebut hati Putri ku dan juga hatiku" balas Firman
"Terimakasih, Tanpa Hadiah inipun aku akan tetap membuat mu jatuh cinta kepadaku" ucap Anggi dengan santai
"wah rupanya sudah pandai menggoda ya" balas Firman.
Jam sudah menunjukan pukul delapan malam, setelah obrolan mereka gegas, mereka kembali ke dalam kamar hotel untuk istirahat, menikmati waktu berdua dengan kekasih halal membuat mereka lupa akan waktu.
Di dalam kamar hotel menikmati waktu berdua bercanda tertawa, tawa yang sudah lama hilang dari kehidupan mereka kini kembali lagi.
sama sama di tinggalkan oleh tambatan hati membuat mereka berdua memposisikan diri sebagai obat untuk pasangannya.
💙💙💙
lain Hal dengan Sindy, setelah pulang dan tiba di rumah, dengan lembut dan hati hati Adam, menanyakan perihal kepemilikan mobil. karena mamah Alma, mengatakan jika itu memang mobil milik Sindy.
"dek, jawab jujur mobil ini milik siapa?" tegur Adam dengan hati hati
"itu mobilku mas, selama ini aku punya penghasilan dari berjualan online lewat aplikasi toktok" sengaja Sindy tak jujur jika ia memiliki pendapat dari penulis novel, ia hanya ingin tau sejauh mana Adam. tak berpihak kepada ibunya, Adam sering berubah rubah dan berubah pikiran.
setelah mendengar jawaban Dari Sindy, Adam tak memperpanjang tentang mobil itu sebenernya milik siapa. Adam, percaya jika itu memang hasil Sindy berjualan di akun toktonya.
💙💙💙💙
ke esok paginya dua insan yang sedang jatuh cinta tak kembali pulang mereka menikmati waktu seharian bersama. tak terasa
Senja berlalu, menyisakan kelam di langit yang perlahan semakin memekat, menghadirkan sedikit demi sedikit hening, menyiapkan waktu kepada jiwa-jiwa lelah untuk memeluk lelap.
Anggi Dan Firman masih berdua, menyusuri kembali jalan yang tadi dilewati bersama, membawa keindahan yang telah tercipta dalam setiap jengkalnya. Dia mengarahkan mobil dalam diam, tapi riak wajahnya bahagia. Senyum tipis khasnya sesekali hadir, bersama itu dia akan menatapku yang curi-curi melirik. Beberapa kali satu tangannya lepas dari kemudi, beralih menggenggam erat tanganku, mengalirkan hangat yang cepat merambat ke relung hati.
“Kita mampir ke kedai dulu, ya.” Akhirnya dia memecah hening juga.
“Kedai?”
__ADS_1
“Iya, kita makan dulu. Kamu lapar?” tanyanya sambil menatapku sebentar.
“Lapar, sih. Tapi, apa gak sebaiknya kita pulang saja, Mas. Kita sudah sejak siang. Apa Ibu sama Sya'sa gak nyariin?” sahutku.
Sebenarnya aku senang saja menghabiskan waktu bersama. Hanya saja tidak enak juga sama Ibu karena sebelumnya cuma izin sebentar.
“Saya sudah kasi kabar ke Ibu. Sya'sa tadi sempat merajuk, sih, kata Ibu. Karena kamu gak pulang-pulang.” Dia bicara sambil kembali menoleh padaku.
“Terus kenapa gak langsung pulang saja kalau tahu Sya'sa merajuk?” protesku.
“Tidak apa. Kita begini juga tidak tiap hari,” sahutnya tetap fokus melajukan mobil.
“Ya,” jawabnya singkat dan tegas. Lama-lama aku terbiasa dengan gaya tegasnya dalam berbicara, menyiratkan bahwa dia lelaki yang kokoh dalam pendirian. Tidak plin plan. Disiplin dan menepati janji. Ya, katanya, maka realisasinya pasti, ya. Begitu pula sebaliknya.
Mobil yang kami kendarai melintasi tol Landak. Jangan bayangkan tol Landak ini sebagai jalan-jalan tol di kota besar yang bebas hambatan. Melainkan tempat ini justru menjadi pusat macet pada jam-jam pulang dan pergi kerja. Aku sendiri bingung kenapa jalan ini di sebut tol.
Jalan ini mulai lengang ketika kami melintas. Tidak ada lagi sisa-sisa kemacetan sama sekali. Mobil yang dia kendarai berlalu dengan lancar, kembali membelah pusat kota, memasuki area yang terlihat cukup pikuk.
Dia mengarahkan mobil menuju jalan Gajah Mada. Kemudian berhenti pada salah satu rumah makan. Kedai Sya'sa, cukup gamblang nama yang diberikan. Aku terpaku sejenak menatap plang nama itu. Kedai yang cukup terkenal di lingkungan tempat tinggal ku.
Tempat ini menyediakan makanan khas lamongan yaitu pecel ayam, lele, bebek, dan nila. Makanan sederhana dengan harga yang sederhana pula ini cukup favorit di daerah ini.
Ada banyak warung tenda pinggir jalan yang menyediakan makanan serupa. Namun, kedai Sya'sa ini ku ketahui banyak dituju pelanggan karena sambalnya yang khas. Sangat enak. Pedas dan perpaduan rasa yang lain sangat memanjakan lidah.
Sambal bagi orang Indonesia adalah magnet dalam dunia kuliner. Bahkan ada sebagian orang yang bisa makan tanpa lauk dan sayur, tapi tidak bisa ketinggalan sambal.
Dia tersenyum, “Punya kita,” jawabnya sambil menggandengku masuk.
“Kamu sering makan ke sini,” tanyanya.
“Tidak sering, tapi pernah beberapa kali. Cuma waktu itu masih warung tenda. Sekarang sudah mewah ….” Netraku perlahan mengitari ruangan itu. Ruangan yang ditata dengan kesederhanaan, tapi justru membuatnya terlihat elegan.
“Iya, Alhamdulillah pelanggan selalu ramai. Di warung tenda kadang banyak yang tidak dapat tempat duduk. Rezeki cukup akhirnya kita beli ruko ini,” jelasnya.
“Siapa yang mengelola?” tanyaku karena tahu dia sibuk dengan tugasnya.
“Saudara dari Jawa. Saya hanya mengecek saja, memastikan bahwa pengelolaan keuangan bersih, tidak ada seleweng menyeleweng, juga kualitas menu selalu terjaga.” Aku mengangguk paham.
“Kamu suka menu di sini?” tanyanya setelah kami duduk di salah satu meja. Meja paling ujung yang terletak di sudut ruangan.
Tempat duduk yang disediakan berupa lesehan, dengan dekorasi papan selebar telapak tangan anak kecil, ditata apik dan rapi secara vertical.
Lampu dipasang di setiap meja dan hanya temaram, dengan aksesoris caping sebagai penyangga, menjadikan suasana terasa nyaman. Wajar jika kedai ini melesat dan menjadi pilihan warga. Karena mampu menyediakan cita rasa yang lezat dan suasana yang nyaman tanpa harus merogohkan kantong terlalu dalam, jadi dapat menjangkau semua kalangan.
“Suka, sambalnya enak,” jawabku jujur.
“Iya, saya riset cukup lama untuk racikan sambal itu." Ia tersenyum bangga. Wajar saja, sih, bangga.
__ADS_1
"Jadi, Mas, yang nemu resep sambalnya?" Ia mengangguk. Duh, semakin tidak pede masak kalau punya suami jago masak. Aku mendengkus pelan.
"Sukanya menu apa di sini?” tanyanya sambil memberi kode pada salah satu karyawan agar mendekat.
“Biasanya aku pesan ayam,” sahutku.
“Tidak pengen nyoba yang lain? Bebeknya juga enak,” tawarnya. Aku menggeleng. Bebek menurutku dagingnya keras dan sedikit.
“Ya, Sudah.” Dia memesan satu ayam untukku dan bebek untuknya.
“Apa gak puyeng, Mas, memikirkan usaha, padahal Mas di kantor juga sibuk?” tanyaku di sela menunggu pesanan diantarkan.
“Lebih puyeng lagi kalau istri selalu ngeluh uang belanja kurang,” jawabnya pelan, tapi berenergi.
“Maksudnya?” tanyaku sedikit tersinggung. Apa maksudnya? Istri? Aku?
"apa apa serba mahal, teman teman ku banyak yang mengeluh perihal uang belanja yang kurang"
“Dari situlah saya berpikir untuk membangun usaha, dan kebetulan saya ditugaskan ke luar kota selama setahun. Hasilnya lebih dari cukup untuk modal. Ketika kerja selesai, saya pulang dengan harapan baru.
Dia beringsut, dari posisi berhadapan denganku, beralih di sampingku.
“Habiskan,” ucapnya lembut sambil tersenyum, mengulurkan piring dari tangan pramusaji kepadaku. Aku menunduk. Jangan-jangan dia ingat bahwa aku makannya banyak, seperti makan nasi goreng buatannya malam itu.
Setelah membersihkan tangan, aku mulai menyuir ayam, memadukannya dengan sambal dan nasi, kemudian memasukkannya ke dalam mulut.
“Enak?” tanyanya sambil memasukkan suapan pertamanya pula. Aku mengangguk.
“Mau coba bebek?” tawarnya. Aku menggeleng.
“Kenapa?”
“Apa gak keras?”
“Ya, enggak. ‘Kan sudah diolah,” jawabnya kemudian menyuir sedikit daging bebeknya. Menambahkan sambal dan nasi.
“Coba.” Ia mengulurkan satu suapan padaku. Aku bergeming, menatap ragu.
“Ayo,” pintanya sambil menganggukkan kepala, memberi kode agar aku membuka mulut. Aku menurut. Jari kasarnya menyuapiku.
Aku sedikit kikuk disuapi, ditambah tangannya yang kekar menyebabkan beberapa butir nasi tertahan di bibir. Begitu pula dengan minyak sambal, ada yang menempel di sana.
Dia menggerakkan ibu jarinya, menyapu butiran nasi dan sisa sambal itu.
“Enak? Empuk Kan?” tanyanya sembari mengisap dalam ibu jari yang tadi ia gunakan membersihkan bibirku. Aku mengangguk.
bersambung
__ADS_1