
"Sayang, kenapa? Kok kamu kelihatan sedih? kamu dimarahin Ibu lagi ya?" mas Adam dengan wajah sedih saat aku kembali ke dapur. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi tapi belum ada satu suap pun makanan yang masuk ke dalam perut karena mama mertua melarang kami makan.
Aku menggelengkan kepala lalu tersenyum lembut. Berusaha menutupi gundah dan sakit hati pada mama mertua yang saat ini kurasakan. Aku tak mau mas Adam tahu kalau perkataan ibu mertua, seringkali melukai perasaanku.
"Nggak papa, Sayang. Nggak ada apa-apa kok. Oh ya, kamu sudah makan?" tanyaku.
"Belum, Dek. Kan Ibu gak boleh kita ngabisin makanan. Jelas Mas Adam
Mendengar jawabannya, aku menghela nafas. Perih.
"Kamu sudah lapar mas? Kalau kamu lapar, kita keluar aja yuk, cari makanan di luar," ujarku
"Memangnya kamu punya uang? Makan di luar kan mahal, Dek?
“aku masih megang uang mas” balas Sindy
__ADS_1
Setelah selesai menata semua ke dalam paper bag untuk di bagikan kepada
Teman teman sosialita mertuanya.
Sindy, gegas ke luar rumah lewat pintu belakang berjalan kaki menuju ke rumahnya, Sedangkan Adam masih menunggu perintah lain di dapur.
30 menit berlalu Sindy, sudah kembali dengan memakai setelan tangan panjang serta celana kulot dan juga kerudung yang senada serta tas selempang.
Baru saja Sindy menduduki bokongnya di atas kursi, bu Sela sudah menghampirinya ke dapur.
“tumben kamu rapih bgt mu kemana, biasanya juga dasteran, oh tau kamu pikir kamu ya yang akan membagikan paperbag berisi camilan ini” ucap bu Sela dengan Sinis.
“oh yasudah sanah, pergi tenaga kalian sudah tidak di butuhkan lagi di sini” ucap bu Sela dengan sombong
“ yaudah kalo gitu Adam pamit bu,
__ADS_1
Assalamualaikum” sengaja Adam memotong pembicaraan istri dan ibunya agar tidak semakin lama di sana.
“waalaikumsalam” ucap Bu Sela
Gegas Adam dan Sindy, keluar lewat pintu belakang menuju ke halaman rumah karena sepeda motornya terparkir di sana.
Mereka berdua sengaja lewat belakang karena tak mau semakin menjadi bahan obrolan. Setelah menaiki kuda besinya Adam, melanjutkan kendaraan roda duanya bukan menuju arah rumah mertuanya tepat di pertigaan Adam. memilih jalan menuju Danau, buatan yang di kelola oleh pemerintah langsung di sana banyak kedai dan warung warung yang menjual aneka macam makanan muai dari makana ringan hingga makanan berat.
Memakan waktu tiga puluh menit untuk sampai ke pinggiran danau. Sindy begitu menikmati perjalanan mereka berdua.
Setelah sampai di tempat tujuan Adam memarkirkan kendaraannya di tempat yang sudah di sediakan, memakan waktu sekitar sepuluh menit untuk berjalan kaki, sampai ke warung di pinggir danau, Adam sengaja memilih danau untuk beristirahat sejenak, setelah penat membantu ibu dan istrinya.
sebuah warung Sate khas daerah Purwakarta, menjadi pilihan menu makan mereka berdua. menikmati waktu berdua momen yang jarang mereka dapatkan.
Sindy, memilih Menu andalan di warung ini Sate Ayam serta es jeruk, lengkap dengan nasi putihnya. menu yang sama di pilih oleh suaminya.
__ADS_1
sambil menunggu Makana di hidangkan mereka berdua bercanda bercerita layaknya sepasang kekasih.
Tak lama pesanan datang, Sindy dan Adam menikmati'makan mereka dengan tenang. .