
Bukan, iya tak ingin mengakui Sya'sa, putrinya tapi ia takut ada ucapan yang menyakiti hati Putrinya dan berujung buruk untuk psikisnya.
mereka berdua berjalan.
💙💙💙
setibanya di rumah Sindy, Rupanya pemilik rumah sedang duduk santai di depan rumah, Sya'sa yang melihat Sindy, gegas berlari menghampirinya.
sikap Anggi, sudah banyak berubah sejak menikah dengan Firman dia, tak Seperti dulu, Sekarang lebih baik dari sebelumnya.
"Assalamualaikum" Seraya menghampiri adik iparnya yang terduduk di kursi depan rumah.
"wa'alaikumsalam, mbak mari duduk" ajak Sindy
"Sindy, kamu kenapa pucat begitu?" Tanya Anggi
"Sindy, lagi ga enak badan mbak" balas Adam
Tak lama Firman datang menyusul membawa banyak Camilan dan martabaknya coklat. melihat Sindy yang begitu lahap memakan martabak coklat mereka mengira Sindy, Sedang merasa lapar saja. namun tak lama Sindy, berlari ke kamar mandi.
Hoek Hoek
Terdengar seperti seorang sedang muntah gegas Anggi, menyusul menepuk punggung Sindy, pelan selesai menumpahkan semua makanannya.
Sedari pagi Sindy, sudah pucat seperti orang sakit namun setiap di suruh berobat dia hanya minta istirahat dan tidur siang saja.
baru saja melangkah dua langkah dari kamar mandi, ternyata Sindy kembali merasakan mual yang luar biasa.
Anggi, merasakan jika Sindy bukan sakit namun sedang berbadan dua karena tak mau menduga duganya sendiri. gegas Anggi ke depan dan berkata kepada Adam.
"Adam, bawa istrimu ke klinik ya, aku rasa seperti nya dia sedang hamil" ucap Anggi
__ADS_1
"iya mbak, tapi aku takut seperti kejadian dulu mba, mengira Sindy hamil tapi ternyata dia belum juga isi" balas Adam dengan lesu
"yaudah bawa aja dulu hasilnya gimana nanti, kasian Sindy dari tadi muntah mut'ah terus" balas Firman
Adam, yang merasakan trauma akan perkiraan Sindy, hamil kembali'terbayangkan pertengkaran dengan Ibunya.
flashback
3 Minggu yang lalu, Bu Sela datang menghampirinya dan berkata
“Sindy, Ibu tidak akan bertele tele. Ibu minta pengertianmu. Adam satu satunya anak lelaki kebanggaan keluarga...” Suara Ibu lugas terdengar.
Aku menghentikan aktifitas makan. Menunggu beliau melanjutkan ucapannya. Kedatangan Ibu sudah kuduga akan membahas hal ini lagi. Atmosfer dalam rumah sedang tidak baik baik saja semenjak kedatangan Ibu pagi ini.
“Jika tiga bulan ke depan kamu belum juga hamil, relakan Adam menikah lagi atau kamu harus mau diceraikan!”
Seketika jantung berdenyut nyeri mendengar kata yang dilontarkan Ibu mertua. Pelan aku mengangkat kepala dan memandang air muka ibu dengan perasaan tak percaya. Sikap Ibu jauh berubah. Penyebabnya sudah jelas. Memasuki tahun ke-empat pernikahan aku belum bisa memberikan keturunan. Ibu nampak tak sabar. Ingin segera menimang cucu dari anak laki lakinya.
Mas Adam yang duduk di sebelahku terdengar menghela nafas panjang. Ia meletakkan sendok dan garpu. Sama sepertiku. Selera makan Mas Adam pasti menguap entah kemana.
“Ibu, bisa berhenti membahas itu sekarang? Kita sedang makan. Sindy juga gak bisa hamil kalo Ibu terus terusan buat dia stres seperti ini.”
“Alaah!! dua tahun sebelum ini Ibu diam saja. Dia juga gak hamil hamil!” sengit Ibu dengan lirikan tajam kearahku.
“Ibu mau kamu mendengar perkataan Ibu! Tiga tahun waktu yang cukup buat Sindy membuktikan bahwa dia tidak mandul!”
Aku meremas kedua tangan bergantian. Sekuat tenaga menjaga sikap jangan sampai lepas kontrol seperti sebelumnya. Aku sadar. Membantah ucapan Ibu adalah kesia-siaan. Hanya menimbulkan perang dunia dimeja makan seperti sebelumnya.
Dua bulan yang lalu, seminggu setelah Idul Fitri. Berulangkali ibu menyindir dan mengatakan aku tidak akan bisa memberikan keturunan kepada keluarganya.
Aku yang terbawa emosi tak bisa menerima. Meski Mas Adam memintaku untuk diam. Hatiku begitu sakit. Perdebatan terjadi. Membantah ucapan Ibu yang berujung pertengkaran ku dengan Mas Bayu setelah Ibu pergi meninggalkan rumah dalam keadaan marah.
__ADS_1
flashback off.
"Adam, kamu ini kebiyasaan di suruh apa apa malah melamun cepat bawa Sindy, ke rumah sakit atau klinik" titah Anggi dengan tegas
"ii iya mba" balas Adam, dengan terbata
gegas Adam, membawa Sindy, ke klinik terdekat di ikuti oleh mobil Firman, Rupanya Firman menjemput ibu sela dahulu ke rumahnya.
Setibanya di klinik, Antrian sedang kosong setelah satu pasien yang sedang di periksa gegas Sindy, di panggil untuk di periksa.
Selesai melakukan Rangkain pemeriksa, Sindy di rujuk ke bagian Poly kandungan Rasanya tidak yakin Jika Sindy, Hamil terutama Bu sela terus saja sibuk dengan gadgetnya. bercengkrama lewat handphone aplikasi berwarna hijau, bersama grup sosialitanya.
Di Poly kandungan Sindy, menyerahkan sebuah kertas' yang di bawa dari poli umum dan di minta berbaring di sebuah bed dan seorang suster membatu dokter Perempuan bernama Maria. terlihat jelas dari nama tag nya.
Dokter, dengan lugas Bertanya
"kapan terakhir haid" ucap dokter
"sekitar 2 bulan yang lalu, siklus haid saya tidak lancar Bu kadang 3 atau 2 bulan baru haid" balas Sindy
. yaudah kita coba USG Dulu Aja ya.
"Bu mohon maaf ya" ucap suster seraya mengoleskan jel dan Menggerakkan alat Usg, di atas perut Sindy
dokter Maria menjelaskan jika Kantung janin sudah terlihat dan Sindy, sedang mengandung sekitar 4 Minggu.
Adam, yang sedari tadi hanya diam saja, tak henti hentinya mengucapkan syukur ketika tau Sindy, sedang mengandung buah hati mereka.
Bu Sela, yang tau Sindy, hamil berucap syukur dan tak banyak berbicara seperti biasanya. mimik wajahnya menggambarkan jika ia bahagia.
bersambung
__ADS_1