Sukses Setelah Di Hina

Sukses Setelah Di Hina
Ocehan Mertua


__ADS_3

Hari yang kutunggu-tunggu telah tiba. Yaitu tanggal empat. Tanggal di mana aku setiap bulannya menerima gaji dari hasil aku menulis.


Bulan-bulan sebelumnya, setiap bulan aku hanya mendapatkan tiga juta lima ratus ribu, berbeda dengan bulan ini. Kali ini aku mendapatkan lebih banyak transfer yaitu delapan juta.


Bukan hanya nominal yang semakin banyak yang membuatku girang, tetapi uang sebanyak ini bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhanku sendiri.


Ya, tekadku sudah bulat. Aku tak mau menggunakan uang ini untuk menutupi kebutuhan rumah tangga, tapi ku gunakan untuk diriku sendiri.


Rasanya aku sudah rindu sekali makan sate ayam, minum jus alpukat dingin dan juga membeli aneka cemilan di April market.


Kali ini aku akan membeli makanan apapun yang sejak dulu hanya bisa kubayangkan.


****


Aku tersenyum penuh rasa syukur dan bahagia saat melihat saldo di rekeningku yang semula hanya tujuh puluh ribu kini berganti dengan jutaan rupiah.


Aku memencet menu penarikan tunai lalu ku tekan angka demi angka hingga keluarlah lima lembar uang pecahan seratus ribuan.


Setelah uang itu keluar langsung kumasukkan ke dalam dompet. Begitu pun dengan kartu ATM-nya ku sembunyikan kembali di celah-celah dompet. Tentu agar tak ketahuan oleh Mas Adam.


Ya, rekening ini ku buat setelah aku bergabung di dunia literasi, dan aku membuatnya tanpa sepengetahuan lelaki yang bergelar suamiku itu.


Aku meminta ojek online itu mengantarkan aku ke penjual sate, jus buah dan terakhir di April market untuk membeli aneka cemilan yang aku inginkan.


"Uh, akhirnya bisa memanjakan lidahku juga setelah sekian lama hanya makan makanan seadanya." Kedua mataku berbinar saat melihat satu porsi sate ayam, jus alpukat sudah terhidang di depan mata. Tak lupa aku juga tadi menyempatkan diri untuk membeli bakso.


Air liurku seperti ingin menetes, tak sabar rasanya ingin ku santap aneka makanan melezatkan itu.


Untuk pertama kalinya, janin yang ada di kandunganku mendapatkan nutrisi dan gizi yang selayaknya.


Kuambil satu tusuk sate itu lalu ku gigit dan kunyah. Saat aku ingin menelannya, tiba-tiba wajah Mas Adam berkelebatan di pelupuk mataku hingga membuatku menelan makanan lezat ini dengan begitu susah payah. Bahkan aku harus minum dulu agar kunyahan sate itu bisa melewati tenggorokanku.


Entah kenapa, ada rasa tak tega menikmati makanan ini seorang diri. Padahal aku yakin betul kalau Mas Adam pasti sering sekali jajan di luar sana bahkan sering kali mengajakku.


Ah, ini bawaan bayi


Meskipun wajah suamiku terus bergentayangan, ternyata aku telah menghabiskan lima tusuk sate. Sekarang masih tersisa lima tusuk juga yang ada di piring.

__ADS_1


"Ah, makan aja sekalian! Lama banget kan nggak makan makanan kayak gini." Akhirnya aku memutuskan untuk menghabiskan satu porsi makanan kesukaanku itu.


Aku melahap sisa makanan tersebut. Setelah makanan pertamaku habis, aku langsung mengambil mangkuk dan menuang bakso ke dalamnya.


Aku menggelengkan kepala saat melihat bungkus makanan yang ada di hadapanku. Entah kerasukan setan kelaparan atau bagaimana kok aku bisa menghabiskan makanan sebanyak itu seorang diri.


"Ya Allah, dari tadi Ibu salam nggak denger-denger ternyata kamu ada di sini?!"


Deg!


Seketika jantung seperti berhenti berdetak saat mendengar suara yang amat ku kenali.


Aku menolehkan kepala. Benar saja, saat ini ibu sudah ada di sini.


"Kamu makan apa, sindy?"


Ah! Kenapa juga Ibu datang di waktu yang sangat tidak tepat? Mana semua bungkus makanan masih ada di atas meja pula.


"Habis makan siang, Bu."


Saat tinggal memasukkan sampah itu, tiba-tiba ibu menyerobotnya.


"Ini yang kamu makan setiap harinya selama Adam sedang bekerja?!" pekik Ibu setelah membongkar kantong berisi pembungkus makanan tersebut.


Ya, Tuhan ... bantu aku. Apa yang harus aku katakan saat ini? Tak mungkin jika aku harus jujur kalau aku juga memiliki penghasilan setiap bulannya.


Sindy!


Ayo berpikirlah!


Ah! Otak! Kenapa kau lama banget loading nya di saat situasi segenting ini?


Tok!


Tok!


Tok!

__ADS_1


Suara ketukan pintu terdengar, dan mungkin ini adalah salah satu bentuk wujud bantuan dari Tuhan.


"Sebentar, Bu. Ada tamu," ucapku lalu melenggang pergi meninggalkan ibu.


Aku bernapas lega, keadaanku untuk sementara aman terkendali.


Bergegas aku membuka pintu utama, dan ternyata ibu mengikuti langkah kakiku.


Begitu pintu terbuka, terlihat Bu Minah salah satu tetanggaku yang rumahnya tepat di samping kananku. Tetangga yang selama ini sangat baik terhadapku. Wanita asli kota ini yang berusia empat puluh tahun.


"Eh, Bu Minah. Kiriman dari Bu Minah sudah tiba, udah aku makan semuanya. Btw, terima kasih banyak ya, bu. Semoga rejeki Bu Minah semakin lancar dan dapat bonus lagi, biar bisa sering-sering traktir aku." Bu Minah terlihat bingung, terbukti kedua alisnya yang saling bertautan dan bibir yang melongo.


Aku mengedip-ngedipkan mataku sebagai bentuk isyarat permintaan tolong ku. Terlihat Bu Minah menggerakkan kepalanya, seolah-olah sedang bertanya tentang apa maksudnya.


Aku menolehkan kepala ke arah Ibu yang ada di sampingku.


"Ini loh, Bu, tetangga yang selalu baik sama Sindy. Sejak kemarin Bu Minah ini selalu kasih makanan ke aku karena katanya sepupunya dapat bonus gede dari tempat kerjanya. Sate, bakso dan cemilan tadi juga dibelikan oleh Bu Minah loh, Bu. Baik kan dia? Makanya Sindy doakan semoga keponakan Bu Minah setiap minggu bisa dapat bonus biar bisa traktir Sindy, terus, Bu. He he he."


Kembali aku menatap ke arah Bu Minah.


"Terima kasih ya, Bu. Meskipun Bu Minah hanyalah tetangga, tapi sangat baik pada Nika."


Lagi, aku mengedipkan mataku.


"Eh– iya. Iya. Sama-sama. Nggak usah pakek bilang makasih berkali-kali juga."


Plak!


Bu Minah menepuk bahuku dengan keras hingga membuat bibirku nyengir kesakitan dan tubuhku sedikit terhuyung. Untung saja nggak sampai terjatuh.


"Ini ada pisang goreng, dimakan lagi ya, biar dedeknya selalu sehat." Bu Minah mengulurkan piring yang berisi beberapa potong pisang goreng yang di atasnya terdapat lumeran coklat yang terlihat begitu melezatkan.


Setelah kuucapkan terima kasih, Bu Minah berpamitan untuk pulang.


Bergegas aku dan Ibu kembali masuk dan melangkah ke ruang tengah. Sembari berjalan, Ibu menyomot pisang goreng lalu masukkan ke dalam mulutnya.


"Kamu ini loh, Sindy, kok bisa-bisanya bikin malu! Minta traktir sama tetangga. Kayak-kayak kamu tuh nggak pernah dikasih makan enak aja sama suamimu! Malu-maluin!"

__ADS_1


__ADS_2