
"Sya, jangan sembunyi kamu! Beraninya kamu rampok isi kulkasku, ya! Cepat buka pintunya," seru Mbak Lasmi dari luar. Sesuai dugaanku mereka akan berdemo di rumahku. Menyebalkan.
Aku membuka pintu setelah menyeduh teh manis dengan sedikit es. Semoga ini bisa jadi ikhtiar mendinginkan kepala mereka yang berasap.
"Apa kamu tak punya uang sampe harus ngerampok buah di kulkasku, hah?" Mbak Lasmi dan Mbak Nadin menerobos masuk sebelum pintu terbuka sempurna. Aku duduk menyilangkan kaki sambil menyeruput es teh manisku. Percuma bicara, karena aku akan tetap disalahkan.
"Wah, segar sekali minuman ini. Hmmm, sejuuuuuk," ujarku sambil melirik kedua iparku yang menyebalkan itu. Jelas mereka semakin marah karena kemarin aku sudah menyuruh tukang untuk memasang pintu pembatas antara ruang tamu dengan dapur. Pintu sudah ku gembok dan kulkas ada di dapur. Gak bisa kan ambil buahnya lagi?
Mbak Nadin langsung duduk di sampingku saat melihatku sedang menyeruput teh. Mbak Lasmi yang masih kesal terpaksa mengikuti. Amarah di kepala mereka sedikit mereda lalu mengomel lagi. Tapi setidaknya volumenya mengecil sehingga gendang telingaku tak akan pecah karenanya.
"Kualat kamu ya Syasa. Sudah dekil, miskin, pencuri juga gak bisa punya anak dan …."
"Cukup Mbak Lasmi. Jangan sampai aku kehilangan rasa hormat kepadamu. Jangan pancing ikan jahat dalam hatiku," bentak ku. Awalnya aku tadi tersinggung karena disebut tak punya anak, itu hak prerogatif Allah untuk mempercayakannya pada siapa. Banyak yang sudah punya keturunan tapi lalai menjaganya.
Aku masih terima dikatai miskin, jelek dan hinaan serupa tapi tidak dengan yang ini. Karena berkata spontan aku sampai mengucapkan kata yang menggelitik. 'Jangan memancing ikan jahat dalam hatiku'. Istilah dari mana itu. Hampir saja aku meluapkan tawa, tapi karena mereka terkejut lalu mundur teratur, tawa itu urung jua. Setelah mereka pergi, barulah aku tergelak sampai mengurut perutku.
Duh mulut ini tak biasa mengucapkan kata-kata makian sehingga aku tak bisa menemukan kata selain jahat, usil dan menyebalkan untuk mereka. Keceplosan sedikit malah jadi terdengar aneh. Auh ah.
***
Suara Abang tukang sayur terdengar lewat dan berhenti tak jauh dari rumahku. Aku segera keluar untuk membeli ikan sebelum ibu-ibu tukang rumpi berkumpul. Langkahku perlahan memelan karena ternyata gerobak si Abang sudah dipadati emak-emak.
"Mau masak apa nih Sya? Eh kamu gemukan deh? Pakai bedak apa sih? Kok muka kamu bersih dari jerawat walaupun mukamu standar sih?" celetuk Bu RT, wartawan tak bergaji. Aku tak tahu apakah hasil wawancaranya selama ini sudah diterbitkan di majalah, koran atau bahkan televisi. Menyebalkan.
"Kok diam sih? Cantik-cantik kok budeg?" ujarnya lagi setelah aku diam dan sibuk memilih ikan merah.
__ADS_1
"Makasih ya, Bu, udah puji aku cantik walau ada hinaan yang menyertai. Aku diam karena bingung jawab yang mana. Pertanyaanya banyak banget." Aku menjawab sambil menyerahkan ikan yang kupilih untuk ditimbang. Aku termasuk orang yang santuy menghadapi orang seperti ini, mubazir energi.
"Belagu amat sih, suaminya hanya karyawan dengan gaji pas-pasan sudah sok sedekah," celetuk Bu Nuri saat aku tak menerima uang kembalian lima ribu perak dari tangan si Abang.
"Ya wajar keles, suaminya kan naik jabatan," ungkap Bu Tanti yang suaminya satu kantor dengan Mas Arga. Aku mendelik kesal karena kedua kakak iparku baru saja datang tepat setelah Bu Tanti menyelesaikan kalimatnya.
"Ibu Nuri mau juga?" tanyaku mengabaikan kasak-kusuk mereka sembari merogoh uang dalam dompet.
"Mau dong, mau …." Semua ibu-ibu yang berpenampilan necis dan bedak menor itu kompak berucap. Emang aku pejabat yang lagi bagi-bagi sembako? Pemilu masih lama woy.
"Nih, bagi-bagi yah. Jangan rebutan," pungkas ku sembari berlari kecil meninggalkan kerumunan itu. Entah memaki atau rebutan, yang jelas, beberapa keping uang pecahan seribuan itu membuat suasana makin semarak.
Aku heran deh, saat ada bagi-bagi bansos, mereka akan berlagak paling miskin. Tapi saat ke pesta mereka bagaikan toko emas berjalan. Saat aku tak mengambil sisa kembalian belanjaku yang cuma lima ribu, dikatai sok kaya. Ku Tawarin uang langsung karatan matanya. Menyebalkan.
Karena Bu Tanti sudah nyebarin berita kalau suamiku naik jabatan, tanggal muda lusa sepertinya aku harus ekstra hati-hati. Bisa-bisa uang suamiku dirampok iparku tepat di hadapanku.
***
Uh, kalian bisa bayangin gak punya ipar yang perindu begini. Ikan merah baru saja ku kasih perasan jeruk nipis dan garam, duo ipar nyebelin sudah nongol aja. Pemukiman kami aman dari maling dan aku sungguh sering malas mengunci pintu disiang hari, kecuali lagi tidur atau di halaman belakang.
Tiada hari tanpa mereka. Kadang aku berpikir, kenapa sih mereka betah banget bertandang ke rumahku? Maksudnya rumah pusaka yang jadi bagian suamiku. Apa pesonaku paling bersinar se-jagat raya, se-alam semesta, se-planet bumi serta se-Indonesia raya? Sampai-sampai mereka merasa hampa bila tak melihatku sehari saja.
"Nanti kalau Arga gajian, kita rayain dimana, Sya? Gaji pertama boleh dong kita ikut nikmati. Kok kamu gak bilang-bilang kalau Dek Arga naik jabatan." Mbak Lasmi cengengesan dengan suara mendayu-dayu. Mataku terpaut pada gembok yang baru kubeli. Aha! Sepertinya aku harus praktik seperti buku yang pernah kubaca.
"Masak sup gembok kayaknya enak deh Mbak," cetusku.
__ADS_1
"Apa?" Mereka kompak menjawab. "Mana bisa gembok di sup?" gumam Mbak Nadin sembari menutup mulutnya. Mereka melihatku ketakutan.
"Apa kamu tidak waras?" timpal Mbak Lasmi. Ia menaruh telapak tangannya ke dahiku. Aku gak demam woy.
"Sup gembok itu lezat. Kalau tidak percaya, ayo kita praktik di rumah Mbak saja. Sekalian masukin sosmed ya!" usulku. Mbak Lasmi dan Mbak Sania setuju.
Aku mencuci gembok baru itu dengan bersih sementara Mbak Lasmi memasak air di panci besar. Aku meminta Mbak Sania memotong bawang merah, bawang putih dan seledri juga bawang prei sedangkan rempah sup sachet sudah kubawa dari rumah.
"Mbak, ada kentang sama wortel? Biar gak kuah sup gemboknya saja," ucapku.
"Ada, ambil saja. Tapi kalau sampe tak enak, kamu harus ganti rugi," sahutnya. Kusiapkan kentang juga wortel yang sudah dipotong Mbak Sania , mencucinya lalu memasukkan ke dalam air yang mendidih. Ku tumis bawang-bawang lalu menyemplungkannya juga.
"Mbak punya daging atau ayam? Biar makin enak, " celetukku pada Mbak Lasmi yang sedang membuat video siaran langsung.
"Ada di kulkas daging, sudah empuk. Ambil saja," jawabnya tanpa menoleh. Ia terus mengarahkan kamera ke dalam panci sembari terus bernarasi.
Sempurna. Ada satu kilo daging yang sudah empuk. Kumasukkan semua dan Mbak Lasmi yang pelit ini tak protes sama sekali. Setelah rasa sudah pas ku hidangkan satu mangkok untuk dicicipi.
"Wow, emejing gaes. Sup gemboknya top markotop, sedap, mantul deh pokoknya," ujar Mbak Lasmi mengakhiri siaran langsungnya lalu makan dengan lahapnya.
"Mbak, aku ambil sedikit untuk Mas Ilham ya," ucapku yang hanya dijawab dengan jempol.
Aku harus cepat nih, sebelum komentar penonton menyadarkannya. Aku yakin, akan ada yang berkomentar yang intinya begini;
[Itu sih bukan sup gembok Mbak. Tapi memang sup daging. Mau aja dikibuli]
__ADS_1
Hahahaha. Kalau tak begini caranya, mana pernah ku cicipi apapun yang dibuat dan dibeli dengan uangnya.