
Empat belas tahun berlalu, Syasa dan Tia dan Zahra sudah berubah menjadi gadis dewasa, ketiganya sibuk dengan kesibukannya masing masing.
Syasa, yang sudah menikah, di boyong suaminya untuk ikut tinggal bersama mertuanya, di desa Beruntung keluarga mertuanya tidak ada yang eau jika Syasa, pewaris tunggal perusahaan bonafit yang sekarang sedang ramai ramainya.
"Mas hari ini kayaknya bakal pulang telat, Dek. Ada meeting. Kamu tidur aja duluan."
"Iya, Mas."
"Ini uang lembur Mas bulan ini. Dapat sejuta, kita bagi dua, ya?" ucapnya sambil menyodorkan lima lembar berwarna merah.
"Alhamdulillah, makasih, Mas," ucapku.
"Sama-sama. Jangan boros-boros, ya."
Aku mengangguk, kata-kata itu memang sudah menjadi andalannya setiap kali memberi uang yang tak seberapa ini. Namun, aku tetap bersyukur.
Aku mengantar Mas Arga, setelah mobilnya tak kelihatan lagi, aku berbalik masuk ke dalam rumah.
"Syasa!" teriak Ibu mertuaku.
"Huh, ini masih pagi, Bu. Kenapa harus teriak, sih?" gumamku sambil berjalan menghampirinya.
"Kenapa, Bu?" tanyaku.
"Syasa, kamu mau bikin ibu diabetes? Ini manis sekali!"
"Maaf, Bu. Syasa lupa memasukkan gula kebanyakan," jawabku.
"Berapa sendok yang kamu masukkan?" tanyanya.
"Dua sendok, Bu," jawabku lagi.
"Apa? Pantas saja teh ini terasa begitu manis!"
Aku memutar bola mata. Malas rasanya. Sudah dua tahun menjadi menantu di keluarga ini, namun tak pernah dihargai.
Mas Arga, suamiku, menikahiku dulu karena amanat dari bapaknya. Entah, apa yang dulu almarhum bapaknya bicarakan sehingga ia mau menerimaku.
Beruntungnya, sifat Mas Arga tak menurun dari ibu mertuaku. Dia, merupakan sosok lelaki yang selalu memperhatikanku.
"Syasa minta maaf, Bu."
"Sudahlah. Sana, kerjain lagi semua kerjaan rumah. Sudah jelek, malas pula."
__ADS_1
Aku menghembuskan napas pelan. Memang beliau selalu begitu. Di matanya, aku bagai si buruk rupa. Padahal, ini karena aku tak memakai make up.
Dulu, berdandan sudah menjadi rutinitas aku. Namun, sejak menikah, tak pernah sekalipun aku memakai barang-barang itu lagi.
Bukan malas ataupun bosan, tapi Mas Arga selalu mengeluarkan kalimat gombal sejuta umat.
"Aku suka kamu yang natural, Sayang."
Dulu, aku memang bahagia kala ia mengucapkan itu, namun semenjak keuangan diambil alih oleh Ibu mertua, aku jadi tahu kalau itu hanya kebohongan semata.
Meskipun baik, Mas Arga sama pelitnya dengan ibunya. Seperti tadi, masalah teh manis saja sudah berlebihan.
Sebenarnya bukan karena masalah manisnya, tapi ibu merasa sayang menggunakan gula banyak-banyak. Pernah sekali aku membuat kolak, beliau langsung memarahiku dan mengungkitnya hingga kini.
"Kamu itu mau bikin kita semua diabetes, Syasa? Kolaknya manis sekali!" ucapnya kala itu yang langsung kujawab dengan kata maaf.
Kuambil sapu, lalu mulai menyapu kamarku.
"Syasa!"
"Hadeh, mulai lagi," gumamku sambil berjalan menuju sumber suara.
"Iya, Bu?"
"Kamu lagi ngapain, sih? Dipanggil-panggil lama banget!"
"Yaudah, habis itu masak gulai ayam, bikin perkedel, ikan mas goreng, sama sambal terasi. Nih, uangnya," ucap Ibu sambil menyodorkan satu lembar uang berwarna biru.
Mataku melebar. Bagaimana bisa, uang segitu cukup untuk belanja bahan-bahan makanan yang beliau sebutkan tadi?
"Tapi, Bu, ini sepertinya kurang."
"Pakai uangmu dulu."
Aku menghembuskan napas. Uang dari mana? Lemburan yang cuma 500.000 itu?
Semenjak ibu tahu jika aku dijatah menggunakan uang lemburan itu, beliau selalu saja membahasnya.
Aku segera berjalan menuju pasar yang dekat dengan rumah.
"Gulai ayam, ikan goreng, perkedel, sambel. Gimana caranya aku bisa membuat hidangan itu tanpa mengurangi uangku? Ah, iya!"
Aku segera menuju tukang ayam. "Mang, beli cekernya setengah kilo, sama kepalanya setengah kilo juga, ya!"
__ADS_1
"Siap, Neng!"
Setelah mendapatkan ayam tadi, aku segera menuju tukang ikan, kulihat ada kepala ikan mas yang masih berjejer rapi.
"Mang, kepala ikan mas sekilo berapa?"
"Dua puluh ribu, Neng!"
"Yaudah, sekilo, ya, Mang!"
Setelahnya, aku menuju tukang sayuran. Masih ada sisa 15 ribu lagi. Santan di rumah masih ada, meskipun instan.
"Mang, beli cabe bawang tomat 5.000 sama kentangnya seperempat."
Setelah mendapat semua, aku segera berjalan pulang.
Kuambil gawai yang sedari tadi nangkring di sakuku. Ada sebuah pesan dari Indah, asistenku di kantor.
Ya, aku pemimpin perusahaan namun sekarang perusahaan di pegang penuh oleh sekertaris kepercayaan ku sekaligus sepupu dari pihak ibu, yang tak diketahui oleh keluarga suamiku. Sengaja aku tak bilang, karena ingin melihat sifat asli mereka dulu. Dan ternyata? Ibu dan adik iparku pelit, tapi mereka serakah.
[Syasa, kapan ngantor mumet aku ngerjain semua sendiri, dan ini juga suami kamu lagi Deketin cewek baru di kantor]
Deg!
Gegas aku menuju rumah, lalu masuk ke dalam kamar setelah menaruh barang belanjaan di dapur.
Kubuka video rekaman cctv. Benar! Itu Mas Arga. Untuk apa dia menuju ruangan staf biasa? bukan kan dia sekarang di di bagian management pemasaran
"Hay mbak Karyawan baru ya, siapa namanya"
"hay Shelina."
Deg!
Shelina?
Tak aku lanjutkan melihat perkenalan mereka biarkan saya.
Aku kembali ke dapur untuk memasak. Rumah besar ini tak memiliki pembantu. Dulu ada, lalu setelah aku menikah, pembantu itu dipecat. Yah, mungkin mereka berpikir daripada aku nganggur di rumah, aku dijadikan pembantu gratisan saja.
Ketika melewati pintu belakang, aku mendengar Ibu mertua tengah berbincang dengan seseorang.
Yang membuatku terkejut adalah, alasan utama Mas Arga menikahiku.
__ADS_1
Jadi...
Hallo para pembaca mohon maaf ya baru Update lagi, jangan lupa like komen dan vote