Sukses Setelah Di Hina

Sukses Setelah Di Hina
membungkam mulut mbak Ipar


__ADS_3

"Kamu jahat ya Sya. Gara-gara kamu Zaki jadi sakit perut. Sambalnya kamu pakai cabe rawit kan?" seru Mbak Nadin saat aku dan suamiku sedang bercengkerama.


"Iya Mbak. itu kan kesukaannya Mas Arga," jawabku sembari melirik suamiku yang keheranan. Kami berdua memang pecinta pedas.


"Udah tahu anak saya nggak suka pedas, kenapa kamu kasih cabe rawit. Kamu ingin anakku sakit agar sama kayak kamu tak punya anak?" hardik Mbak Nadin nyelekit hati. Apa dia tak pernah bersisir sebelum berkaca, berpikir sebelum berucap.


"Lho aku kan masak untukku sama suamiku bukan untuk Mbak dan keluarga," sahutku tak terima dituduh ingin mencelakai.


"Lihat istri kamu Arga. Dia makin kurang ajar sama Mbak. Harusnya kamu didik jangan cuma cari duit aja. Itu tanggung jawab kamu lho Arga." Mbak Nadin sok menasehati. Suamiku ingin menjawab hingga suara yang lain teriak.


"Ibuuuu! Katanya Zaki gak boleh keluar karena Ibu mau beli es krim. Kok malah ke rumah Tante?" Aku, Mbak Nadin dan Mas Arga sama-sama terkejut. Kebohongan terbukti tanpa harus ku buktikan.


Mbak Nadin, yang muka merah entah menahan amarah atau malu karena ketahuan berbohong, gegas pergi ke luar rumah. seraya menggendong Zaki.


"Kan udah ibu bilang jangan keluar. Gak jadi beli es kirimnya lagi. Kamu nakal sih," bisik Mbak Nadin di telinga Zaki yang masih kudengar samar. Suamiku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah kakaknya. Kalau sampe suamiku ikut menzolimi ku mungkin aku akan memilih untuk menghilang dari keluarga aneh ini. Tapi Allah masih memberikanku suami yang selalu mengutamakan fakta dan tidak gegabah. Dan ia tahu betul sifatku dan kakak-kakaknya. Mungkin dulu ia sempat salah arah dan salah langkah, untungnya sebelum semua terlambat dis telah Berubah.


"Gak mau. Pokoknya beli. Ibu pembohong," teriak Zaki histeris.


Iapun merosot ke lantai sambil menghentak-hentakkan kakinya.


Ia meraung sekuatnya hingga Mbak Nadin kewalahan mendiamkannya.


Aku geleng-geleng kepala melihat tingkah iparku ini, dia ingin memfitnahku setelah menghabiskan hampir seluruh masakanku. Bukannya terima kasih, ia malah mengarang cerita yang tak masuk akal.


Telingaku sungguh tak nyaman dengan volume suara tangisan Zaki. Kalau dibiarkan lama-lama, polusi suara ini sangat menggangguku dan bisa mengundang perhatian tetangga. Aku mendekatinya lalu berkata, "Zaki udah makan belum?"


"Belum Tante. Ibu cuma masak telur pedas. Zaki belum bisa makan pedas. Ibu sama Bapak yang abisin. Zaki cuma kebagian kuning telurnya sedikit," adunya sesenggukan. Mata Mbak Nadin melotot berusaha mengintimidasi Zaki.

__ADS_1


Aku tersenyum miring saat iparku yang ingin membuat keributan itu bungkam dan salah tingkah. "O, semuanya Ibu sama Bapak yang abisin. Baiklah, kalau telor dadar mau?"


Aku melirik Mbak Nadin yang mulai gelisah. "Mau Tante," jawab Zaki antusias.


Ini memang awal bulan dan aku belum berbelanja. Aku hanya memiliki sisa beberapa telur saja. Kuambil tiga biji lalu menyerahkannya pada Mbak Sania.


"Lain kali jangan mengada-ngada ya Mbak. Jangan terlalu membenci seseorang, nanti bisa jatuh cinta loh Mbak. Tolong masakin sendiri telor ini untuk Zaki ya dan ingat jangan dihabisin. Hari libur itu waktuku untuk quality time dengan suamiku," usirku halus. Mbak Nadin meraih plastik biru berisi telur itu. Ia mengambil botol minyak gorengku yang tinggal sedikit kemudian menarik tangan anaknya.


Ya Allah, apa Mbak Nadin semiskin itu? Apa aku yang tak tahu kalau mungkin keluarga iparku sedang kesusahan? Dan ia sekarang sedang mencari perhatian adiknya? Tapi, suaminya lebih tinggi gajinya dari suamiku. Hmm, mungkin aku harus sedikit care kepada mereka. Iparku bisa saja cari perhatian karena mereka memang butuh bantuan. Sejahat-jahatnya keluarga suamiku tetaplah keluarga. Mereka yang akan membantuku dan suami jika terjadi apa-apa dengan kami.


"Dek, kita berangkat yuk!" ajak suamiku. Aku mengiyakan dan segera bersiap-siap. Aku dan suami naik sepeda motor jadul yang melegenda. Motor yang jadi andalan kami untuk mengukir kenangan kisah kasih yang semoga abadi. Aku ingin berjodoh dengan Mas Arga hingga maut dan dihidupkan kembali. Dalam doa besar harapan, dengan bermurah hati Allah memberikan catatan amal di tangan kanan dan kami bisa masuk dalam surga yang sama. Berjodoh di dunia akhirat.


Tujuan kami adalah Bukit Kesayangan yang menyuguhkan pemandangan danau dengan beberapa rakit dari bambu. Pengunjung bisa menaikinya dengan bantuan pengelola. Aku tak berani menaiki rakitnya sehingga aku dan suami hanya duduk di pondok setengah terbuka. Hembusan angin menambah sejuk suasana hatiku yang berbunga-bunga.


Wisata kami ini sungguh sangat sederhana, hanya modal bensin. Disini tidak ada penjual makanan khusus karena hanya ada satu warung pengelola yang jaraknya lumayan. Beberapa cemilan dan air mineral yang menemani kami.


"Dek, kalau kita nanti sudah punya bayi, mungkin tak akan bisa semesra ini. Mungkin ini memang yang terbaik, agar kita bisa puas berpacaran setelah menikah. Kalau nanti kamu sudah sibuk dengan bayi kita, aku tak akan menuntut seluruh perhatianmu Dek. Aku Sudah puas merasakan suka seluruh perhatianmu. "


Linangan air mata tak terelakkan lagi. Aku tak perlu mengutuk perbuatan kakak iparku. Kali ini aku akan berusaha agar tangisan bayi segera memenuhi rumahku secepatnya. Jika kami cepat memiliki anak, saat-saat berdua seperti ini memang akan jadi hal yang sulit didapat. Jadi nikmati saja bagai air yang mengalir. Semua akan indah pada waktunya.


Kupeluk suamiku dan menumpahkan tangisku. Jarak antara pondok kami dengan yang lain cukup jauh sehingga suaraku akan hanyut terbawa angin. Mas Ilham membalas pelukanku dan mencium pucuk kepalaku.


Hari sudah lewat siang dan kami lupa belum sholat dan makan karena terlalu hanyut dalam perasaan yang tiada terukur dalamnya.


***


"Mas, kita kok restoran sih?" Aku begitu heran saat motor butut kami singgah di parkiran yang berjejer dengan motor-motor keluaran terbaru dan mobil mewah. Suamiku hanya diam dan mengajakku masuk dan sholat zhuhur di musholla restoran. Aku kira kami akan makan disini, ternyata hanya numpang sholat.

__ADS_1


"Ayo kita makan Dek!" ajak suamiku saat aku memperhatikan seluruh ruangan yang dipenuhi orang-orang berpenampilan yang menggambarkan status sosialnya yang tinggi.


"Ki-kita makan disini?" tanyaku keheranan. Gaji suamiku tak terlalu besar sehingga selama aku menikah dengan Mas Arga, aku tak pernah makan di restoran. Kami harus berhemat keperluan sehari-hari dan sedikit menabung.


"Iya Sayang. Kamu tahu? Suamimu ini diangkat jadi manajer keuangan. Semua ini berkat ketulusan doamu Dek. Pilihlah apa yang kamu inginkan. Mas minta maaf karena baru sekarang bisa membawamu makan disini," tutur suamiku.


"Aku tak meminta kemewahan Mas, kalau memang kamu sanggup, itu hanyalah bonus. Karena yang kuinginkan hanya kesetiaanmu dalam suka duka," balasku terharu. Hari ini sungguh menguras emosi, setelah masalah tadi pagi ternyata ada kejutan manis yang menanti.


🌈🌈🌈🌈


"Eh, Arga , Sya, baru pulang belanja?" tegur Mbak Lasmi saat Mas Arga membuka pintu yang terkunci. Setiap pulang bepergian dalam rangka me time, kami tak pernah pulang malam. Sekarang masih sore dan rupanya sudah ada yang menyambut kepulangan kami. Mbak Lasmi tahu persis kalau suamiku gajian dan kami akan belanja bulanan seperti biasanya.


"Sudah gaharu cendana pula," cetusku. Aku faham betul maksud iparku yang selalu modis ini datang kemari.


"Eh Sya, ngomong apa sih?" Mbak Lasmi menggaruk kepalanya yang mungkin gatal.


"Sudah tahu bertanya pula. Udah liat ada belanjaan masih aja ditanya," sahutku sewot. Aku dan suami masuk yang diikuti Mbak Lasmi. Gak pengertian banget deh. Orang baru pulang dan masih capek dia langsung datang. Aku memilih dan memisahkan lalu menyimpan barang-barang yang tak seberapa itu. Mbak Lasmi dengan senang hati memasukkan sampo, sabun cuci, sabun mandi, dan minyak goreng ke dalam plastik.


"Mbak, Gak usah reseh deh. Itu semua jangan digabung!" titahku. Perasanku sudah mulai tak enak melihat gelagat Mbak Lasmi.


"Aku pinjam ya! Tadi belum sempat belanja, besok aku ganti," jawabnya dingin. Permintaannya bukanlah minta izin, karena sebelum ku jawab Mbak Lasmi sudah berdiri hendak pulang.


"Assalamualaikum Mas Bimo. Ini istri Mas ngerampok belanjaan adik iparmu. Jemput atau …?" Suara Mas Arga dari ruang tamu terdengar jelas dengan hape di tangan kirinya.


Mbak Lasmi langsung meletakkan plastik yang digenggamnya lalu berlari secepat mungkin.


"Hahaha, kalau mau mengahadapi kakak iparmu, tak usah buang energi untuk marah ya Dek. Mubazir," kata suamiku lalu terbahak hingga bahunya terguncang. Ah, terima kasih Mas.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2