
"Syaa, buka pintunya!" seru Mbak Nadin sambil menggedor pintu. Agak lama baru pintu kubuka dan ku dapati Zaki sedang menangis minta makan. Seperti biasa, Mbak Nadin sarapan di rumahku, tapi tidak untuk kali ini. Kebusukan hati mereka sudah ku ketahui, maka aku tak akan tinggal diam bila ditindas terus.
"Malas banget sih kamu Sya! Masa jam segini baru bangun," sungutnya yang langsung menuju dapur. Tak tahu diri banget dah. Aku sengaja mengosongkan meja makan dan menyimpan sisa laukku ke dalam lemari makanan. Menyebalkan sekali bukan? Kami sudah sama-sama berkeluarga, tapi aku yang harus mengurus makan mereka.
"Sya! Kamu malas banget sih. Makanya kamu jadi mandul. Jam segini baru bangun dan belum masak. Ya ampuuun, sial sekali adikku beristrikan wanita sepertimu," bentak Mbak Nadin.
'Kamu yang malas Mbak dan kamu juga yang bertanggung jawab atas ketidak Hamilan ku hingga kini. Dasar wanita tidak punya hati'
Ingin ku ucapkan seperti itu, namun karena aku lagi tak ingin bertengkar, niat itu ku urungkan.
"Aku sungguh dongkol sekali melihat iparku ini. Sudah miskin, malas pulak. Beda dengan Mbak Lasmi, istrinya Mas Bimo yang cantik dan banyak uang." Belum puas juga iparku ini memakiku padahal anaknya sudah nangis kelaparan. Ternyata memakiku lebih penting dari segalanya.
"Aku sudah bangun sedari tadi Mbak, cuma aku ketiduran lagi karena badanku sakit. Aku juga sudah masak, tapi sudah kami makan sama Mas Arga. Gak sisa. Lagian Mbak hampir siang gini mau sarapan atau makan siang? Zaki yang lapar, dapurku yang dituju," jawabku tanpa rasa bersalah.
"Lancang kamu ya Sya …!" Mbak Nadin hendak menamparku namun kalah cepat karena aku langsung berlari ke teras. Tak mungkin dia menamparku disitu kalau tak ingin mengundang perhatian warga. Selama ini, reputasi Mbak Nadin cukup baik dan akulah yang pemalas dan memiliki segudang kekurangan yang sering mereka gaungkan.
Saat Mbak Nadin menyusul ku ke teras, aku berlari lagi masuk lalu mengunci rumah dari dalam. Menyebalkan. Pagi-pagi sudah merusak mood ku.
💙💙💙💙
__ADS_1
"Sya! Kamu gak lagi sibuk kan? Kamu cuci baju kami sampe bersih ya! Jangan lupa kasih pewangi. Sekalian setrikain ya!" Sekarang gantian Mbak Lasmi yang menghampiriku. Kami sama-sama menantu, tapi ia berlagak raja dan menindas ku juga. Untuk masalah makanan, dia memang jarang mengambil masakanku. Ia suka masak makanan enak tapi dengan mengambil rempah atau bahan pendukungnya dari dapurku.
Seperti dugaanku, Mbak Lasmi memeriksa tempat bumbuku yang sudah ku kosongkan. Ia beralih ke kulkas yang isinya juga sudah kosong.
"Ya ampun Sya! Masa kamu gak ada apa-apa untuk dimasak?" ujarnya kesal.
"Maaf ya Mbak! Aku juga banyak kerjaan, jadi Mbak cuci sendiri bajunya. Aku juga belum belanja karena Mas Arga belum gajian. Niatnya tadi mau numpang makan di rumah Mbak," jawabku santai. Sama-sama punya tangan tapi masih nyusahin orang lain. Emang aku pembantu? Ogah ah.
"Halah, sok sibuk. Anak juga kagak ada yang mau diurusin. Suamimu juga ndak rewel. Dasar miskin! Jangan pernah berpikir untuk mencicipi masakanku. Aku gak mau tau ya, besok siang cucianku sudah siap," tandasnya yang langsung ngeloyor pulang.
Aku membuang napas kasar. Semoga kelak anak menantuku tak punya ipar kayak gitu. Aku memang hanya sibuk mengecek beberapa perusahaan Peninggalan kakek lewat email, dan mengecek toko perhiasan di pasar, dan juga Sekarang anu menulis novel. dengan mengasah hobi dan mengeluarkan unek-unek. ini caraku menjaga kewarasan menghadapi ipar seperti Mbak Nadin, dan Mbak Lasmi. Based on true story menjadikan tulisanku berjudul Sukses setelah di Hina mendapat belasan ribu like dan komentar di bab pertama. Sebuah anugerah yang patut disyukuri.
Tak hanya itu, pakaian dalam Mbak Lasmi dan suaminya juga nangkring di sana. Sungguh tak beretika, ke laundry saja orang tak mau mencuci pakaian dalam. Kumasukkan juga benda-benda itu ke plastik hitam lalu membuangnya ke tong sampah depan rumah. Sebentar lagi petugas sampah akan datang mengambilnya.
Setelah semua beres, aku memasukkan sisa pakaian layak itu ke dalam kantong plastik besar. Aku membawa plastik itu menyusuri jalan raya dan menemui Lina, penjual pakaian bekas.
"Nih, ada baju bekas tapi belum dicuci. Kamu cuci sendiri ya!" ujarku sembari menyodorkan plastik berisi pakaian itu.
"Kamu gak salah Sya? Ini baju-baju mehong loh. Aku harus bayar berapa?" sahutnya yang sibuk membongkar pakaian ipar dan keponakanku itu.
__ADS_1
"Gratis. Aku pulang dulu ya!" pamit ku. Lina berkali-kali mengucapkan terima kasih karena mendapat durian runtuh. Aku hanya tertawa karena ucapan terima kasih itu harusnya bukan untukku tapi untuk Mbak Lasmi. Hihihi.
Sesampai di rumah, aku menyapu seluruh ruangan dan mengepelnya. Setelah pekerjaanku semuanya beres, tak lupa ku kunci pintu sebelum bertapa di kamarku. Aku harus melanjutkan ceritaku agar pembaca tak kelamaan nunggu.
"Syaa! Buka pintunya! Zaki mau mau main sama kamu!" teriak iparku yang menyebalkan itu. Mbak Nadin selalu mengantar anaknya ke rumahku agar ia tak terganggu memainkan gawainya atau menghadiri arisan dengan teman sosialitanya. Tidak untuk hari ini Mbak.
Jendela sudah ku kunci agar mereka mengira kalau aku lagi keluar. Dengan begitu aku bisa konsentrasi melanjutkan cerbungku. Beberapa menit kemudian, suara di balik pintu menghilang tanpa jejak. Pasti mereka sudah pulang.
💙💙💙
"Dek, kamu kemana aja tadi? Kata Mbak Nadin, dari pagi kamu gak di rumah. Tumben gak izin dulu sama Mas?" tanya suamiku sepulang kerja. Wah, iparku langsung mengadukan ki dengan cerita yang tak ber fakta.
"Arga, lihat itu istrimu. Dia pasti sudah main gila sama pria lain. Suami kerja, dia asyik jual diri," seru Mbak Nadin yang tiba-tiba masuk.
Plak.
Aku refleks menampar pipi Mbak Nadin yang membuat suamiku menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Dia pasti terkejut melihat istri penurut nya berubah garang.
Bersambung
__ADS_1