
Setengah jam berlalu, kue yang di kemas sudah telah tersaji di meja makan. Namun, sepertinya mas Adam belum berhasil membujuk Mba Anggi yang merajuk. Dari arah dapur saja, masih terdengar ketukan pintu yang terus menerus. Seperti biasa, jika salah dan tertangkap basah, jangan berharap ia akan meminta maaf. Bahkan mengakuinya saja, itu adalah hal paling mustahil.
Kau tahu siapa yang harus minta maaf? Akulah orangnya, lucu bukan? tapi, beginilah kenyataannya.
Tak lama, Mba Anggi keluar kamar, Mas Adam dengan lembut membujuk Mba Anggi, akhirnya luluh juga, mungkin malu. Karena beberapa Teman teman Sosialita Ibu sudah ada yang datang.
mereka begitu senang tertawa haha hihi... membicarakan apa saja yang menurut mereka seru, namun Ternyata di dapur Sindy dan Adam sedang sibuk bercengkrama berdua.
Tak lama semua teman teman Ibu, datang dan duduk di ruang tamu mereka berpakaian layaknya Ratu begitu cantik nan elegan tak lupa juga dengan perhiasan yang melingkar cantik di tangan dan di jari manisnya.
canda tawa serta guyonan di lontarkan begitu saja, tak Lama salah satu dari mereka, berkata jika ingin membuat Arisan Berlian di Geng mereka, karena beliau merupakan pemilik Toko berlian Ternama di salah satu mall.
"jeng, gimana kalau sekarang kita ganti bikin Arisan Berlian saja, karena Arisan uang sudah selesai" Ucap salah satu dari mereka
"boleh jeng, biar ganti koleksi'an kita berlian bukan hanya emas"Jawab ibu lainya dengan antusias.
Hal itu tentu di terima dengan baik oleh ibu ibu yang lainnya.
__ADS_1
"Jeng Sela enak ya. Anak Mantunya berbakti semua. Baik-baik lagi sama mertua. Kapan ya aku punya mantu kayak Sindy, jadi iri deh sama Jeng Sela."
Satu suara terdengar saat aku sedang menuju ruang tamu dengan baki air minum di tangan, hendak menyuguhkannya pada tamu mama mertua yang tak lepas berkunjung sedari tadi.
Mendengar celetukan itu, sesaat langkahku terhenti. Ingin rasanya mendengar apa saja isi perbincangan mertua dan tamunya itu, juga ingin mendengar jawaban apa yang akan beliau berikan pada tamunya, tetapi mendengar jawaban mama mertua, dadaku makin pedih saja rasanya.
"Iya, kalau Anggi kan menjadi Janda jadi dia berusaha keras untuk menghidupi, dirinya Sendiri. Sedangkan menantuku hanya Ibu rumah Tangga biasa, tak ada inisiatifnya sama sekali. Tahu suami hanya pegawai biasa, bukannya dibantu tapi dibiarin aja. Bisanya ngandelin suami doang. Kalau nggak ada suami nggak bisa makan. Memang benar, nyari makan itu tugas suami. Tapi kalau dia istri yang cerdas apa salahnya bantu suami. Toh, nggak dosa perempuan ikut kerja cari nafkah. Berpahala malah. Beda sama Anggi yang Janda mampu menghidupi dirinya Sendiri. Kasian si Adam, harus kerja keras banting tulang sendirian. Istrinya cuma bisa ongkang-ongkang kaki aja di rumah. Ck!" sahut mama mertua sembari terdengar berdecak kesal.
Aku menggigit bibir menahan bening agar tak jatuh ke pipi. Pedih rasanya mendengar kata-kata itu. Tetapi bagaimanapun aku harus kuat dan tegar. Tak boleh menangis karena aku tahu apa yang diucapkan mama mertua itu tidaklah benar sepenuhnya.
"Heh, Sindy! Ngapain kamu bengong di situ? Menguping pembicaraan Ibu sama Jeng Lusi? Nggak perlu menguping deh, sini mama bisikin biar kamu ngerti yang kita omongin. Kamu itu ya, coba jadi mantu itu yang kreatif dikit, jangan bisanya ngandelin suami aja! Tuh, tiru si Anggi, walau janda mampu menghidupi dirinya Sendiri, Anggi juga perempuan, tapi mereka bisa lebih sukses dari mantan suaminya. Bisa membantu membiayai kebutuhan rumah tangga! Bisa beliin Ibu hadiah-hadiah mahal, nggak kayak kamu yang jangankan mau ngasih suami dan mertua, nggak minta aja nggak bisa! Tiap hari kamu minta makan aja, ngabisin beras tahu! Sini, mana minumannya! Lama-lama lihat kamu di situ, bikin eneg dan energi Ibu habis!" tukas ibu mertua tiba-tiba memutuskan lamunanku.
Aku menelan ludah mendengar perkataan menyakitkan ibu mertua itu. Ingin rasanya melawan, tapi lagi dan lagi, ku tahan diriku. Saat ini aku memang harus banyak-banyak bersabar dan diam. Belum saatnya aku cerita kalau aku sudah mulai merintis jalan menuju kesuksesan.
Dengan kaki gemetar dan dada berdenyut kencang, akhirnya ku langkahkan kaki mendekati meja tamu dan meletakkan minuman dalam baki di tangan ke atasnya.
Ku Tahan sebisa mungkin rasa terhina dan sesak yang kurasa. Ya, biar saja sekarang ibu mertua puas dan bersenang-senang merendahkan diriku, kelak jika aku sudah sukses, pasti beliau akan merasa malu dan menyesal sendiri akan segala sikapnya yang memalukan.
__ADS_1
Tanpa protes dan mengucap apa-apa, setelah meletakkan gelas minuman dan makanan ke atas meja, segera ku balik kan tubuh kembali menuju dapur. Tak ku pedulikan tatapan penuh melecehkan dari mama mertua dan Jeng Lusi yang memandangku dengan seringai mengejek di bibir. Aku bertekad kuat, keadaan ini tak akan berlangsung lama. Mulai sekarang aku akan bekerja semakin giat, mencari ide dan menulis cerita supaya novel yang ku tulis, laris di pasaran dan aku bisa mendapatkan penghasilan yang berlimpah seperti para penulis platform terkenal lainnya.
*****
"Sayang, kenapa? Kok kamu kelihatan sedih? kamu dimarahin Ibu lagi ya?" mas Adam dengan wajah sedih saat aku kembali ke dapur. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi tapi belum ada satu suap pun makanan yang masuk ke dalam perut karena mama mertua melarang kami makan.
Aku menggelengkan kepala lalu tersenyum lembut. Berusaha menutupi gundah dan sakit hati pada mama mertua yang saat ini kurasakan. Aku tak mau mas Adam tahu kalau perkataan ibu mertua, seringkali melukai perasaanku.
"Nggak papa, Sayang. Nggak ada apa-apa kok. Oh ya, kamu sudah makan?" tanyaku.
"Belum, Dek. Kan Ibu gak boleh kita ngabisin makanan. Jelas Mas Adam
Mendengar jawabannya, aku menghela nafas. Perih.
"Kamu sudah lapar mas? Kalau kamu lapar, kita keluar aja yuk, cari makanan di luar," ujarku
"Memangnya kamu punya uang? Makan di luar kan mahal, Dek?
__ADS_1