Surga di atas lara

Surga di atas lara
Bab 99. Extra chapter


__ADS_3

Pemandangan baru saat pagi hari, kini mulai menjadi kebiasaan. Arumi yang mulai terbiasa bangun pagi karena Yhara akan terbangun pukul lima pagi setiap harinya. Bayi mungil itu kini sudah berusia satu bulan.


Tepat nanti malam, acara syukuran satu bulanan Yhara akan dilaksanakan. Jadilah Ghaida libur bekerja hari ini. Ada keluarga dan kerabat yang nanti malam akan datang ikut merayakan satu bulan kelahiran Yhara di dunia.


Bayi yang berat badannya kini sudah bertambah satu kilo, dari yang awalnya tiga kilo, kini sudah menjadi empat kilo. Bahkan, pipi Yhara kini semakin menggembung kayaknya bakpao. Yhara seakan menjadi pusat menarik bagi siapa saja yang melihatnya. Karena setiap yang berkunjung ke rumah, orang tersebut selalu kagum dengan pipi bulat Yhara.


Beruntung, Adis mengatakan bahwa semua makanan untuk hidangan akan memesan katering. Jadi, Ghaida tidak perlu repot-repot memasak. Paling, hanya menata beberapa camilan dan kue di piring. Tapi, itu akan dilakukan Ghaida nanti. Sekarang, dia memilih untuk membantu Bibi merapikan tempat yang akan menjadi acara syukuran.


Tepat pukul sebelas siang, semua ruangan yang berada di rumah sudah bersih dan rapi. Ghaida tersenyum lega kemudian berpamitan pada Bibi untuk membersihkan diri. "Bi? Aku mandi dulu ya? Nanti pas menata makanan, aku bantu kok," ucap ghaida ramah. Bibi mengangguk mengiyakan. "Nggak papa, Bu, tinggal aja. Ibu nggak usah ikut menata makanan juga nggak papa kok, Bu saya bisa sendiri," jawab Bibi tidak enak hati.


Ghaida terkekeh. "Nggak papa kok, Bi. Nggak perlu sungkan. Lagian, kasihan Bibi nanti kalau terlalu lelah," ucap Ghaida perhatian. Bibi akhirnya mengangguk pasrah. "Ya sudah, aku mandi dulu ya, Bi."


Kemudian, Ghaida berjalan menaiki tangga satu-persatu untuk sampai di kamarnya. Setelah berada di kamar, Ghaida segera menyelesaikan acara bersih-bersihnya. Tidak berapa lama, Ghaida kembali dan berjalan menuju kemari tempat penyimpanan baju.


Setelah berpakaian lengkap, Ghaida memposisikan diri di depan cermin untuk melihat wajahnya sendiri. Dia menatap wajahnya dan tersenyum. "Kamu sudah melakukan yang terbaik, Ghaida," gumamnya bangga.

__ADS_1


Kemudian, Ghaida segera memakai krim pelembab miliknya lalu memakai kerudungnya. Dia kembali keluar untuk menuju kamar Yusuf. Ada suatu pekerjaan yang harus dirinya kerjakan.


Saat baru saja keluar, di bawah sana, Arumi dan Adis sedang duduk bersama dengan Yhara yang berada di pangkuan Adis. Ghaida tersenyum sendu. "Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu impikan, Mas. Keluarga yang lengkap dengan ada anak kandung kamu di dalamnya," gumam Ghaida yang matanya mulai berkaca-kaca.


Untuk mengalihkan rasa yang tidak seharusnya hadir, Ghaida kembali pada tujuan awal untuk ke kamar Yusuf. Setelah sampai, Ghaida mengetuk pintu terlebih dahulu karena Yusuf berada di dalam kamarnya.


Ghaida memang selalu seperti itu walau dengan anaknya sendiri. Bagaimana pun, Yusuf pasti mempunyai privasinya sendiri dan Ghaida tidak mau sembarangan masuk ke kamar Bujangnya. Ya, Yusuf sudah beranjak remaja karena sebentar lagi, Yusuf akan masuk Sekolah Menengah Pertama.


Tok. Tok. Tok.


Ghaida mengangguk kemudian mengelus puncak kepala anaknya. "Boleh dong. Kamu boleh memilih sekolah manapun yang membuat kamu nyaman. Kan, yang mau sekolah itu kamu, bukan Mama. Jadi, kamu boleh menentukan sendiri," jawab Ghaida mengizinkan.


Yusuf tersenyum bahagia kemudian memeluk ibunya erat. "Terima kasih ya, Ma," Suara Yusuf sedikit teredam karena wajahnya kini dia telusupkan ke pelukan Ghaida.


"Suf?" panggil Ghaida lembut dan terdengar serius. Yusuf merenggangkan pelukan kemudian mendongak, menatap sang Mama. "Kenapa, Ma?" tanya Yusuf dengan mata penuh keingin-tahuan.

__ADS_1


Ghaida tersenyum sendu. "Kamu ingatkan? Apa kata nenek waktu itu? Kakek juga ada bilang loh," ucap Ghaida memulai sesi bicaranya. Yusuf mengangguk yakin. "Aku ingat, Ma. Dan ucapan kakek-nenek memang benar, oleh karena itu Yusuf setuju saja," jawab Yusuf yang paham arah pembicaraan mamanya.


Ghaida mengecup kening anaknya. "Kamu nggak papa kan, kalau waktunya besok?" tanya Ghaida memastikan. Yusuf menatap sang Mama dengan iba. "Seharusnya aku yang menanyakan hal tersebut, Ma. Apa Mama benar-benar siap? Kalau Mama siap, Yusuf pasti siap. Karena bahagianya Mama, bahagaianya Yusuf juga," dengan sangat pengertian, Yusuf menjelaskannya.


Ghaida sungguh merasa bangga dengan anaknya satu ini. "Terima kasih ya, Sayang,"


"InsyaAllah, mama sudah siap! Mama sudah menyiapkan semuanya untuk kita nanti, juga untuk kamu sekolah nanti," jawab Ghaida meyakinkan anaknya. Yusuf tersenyum sendu. "Mama adalah Mama terhebat yang pernah Yusuf punya. Jika suatu hari nanti Yusuf tiada dan dilahirkan kembali, Yusuf mau menjadi anak Mama lagi. Yusuf sayang Mama," ucap Yusuf terdengar begitu tulus.


Ghaida menghapus setitik air mata yang hampir saja menetes. Dia tertawa disela tangisnya, merasa bangga mempunyai seorang anak seperti Yusuf. "Terima kasih ya, Suf." Kemudian, Ghaida kembali memeluk anaknya erat dengan tangan mengelus punggung Yusuf lembut.


"Ya sudah, sekarang kamu siap-siap dulu ya. Besok pagi kita sudah harus siap. Mama juga mau bersiap," perintah Ghaida lembut yang langsung mendapat anggukan dari anaknya.


......................


jangan lupa kasih dukungannya ya😘😘

__ADS_1


__ADS_2