Surga di atas lara

Surga di atas lara
SAYAP CINTA YANG PATAH BY IKA OKTAFIANA


__ADS_3


"Menikahlah dengan Mas Bumi. Aku ingin melihatmu bahagia bersama dia," ucap Deandra di ruang ICU setelah satu jam yang lalu tersadar pasca kemoterapi.


Dengan keras Senja menggeleng. Dia memang mencintai Bumi. Sayangnya, Bumi hanya mencintai Deandra. Ketiganya memang bersahabat sejak di bangku SMA. Persahabatan itu tidak sepenuhnya murni karena Bumi dan Deandra memutuskan menjalin hubungan yang lebih serius.


Sedangkan Senja, dia hanya bisa pasrah dengan rasa cinta terpendam di hati pada Bumi. Ya. Senja dan Deandra mencintai pria yang sama dan laki-laki itu merupakan sahabat keduanya.


"Lekaslah pulih. Hal itu tidak akan terjadi, De. Ada Arta yang menantimu untuk sembuh dan segera pulang," jawab Senja menolak dengan lembut.


Deandra terkekeh miris. "Waktuku tidak lama lagi, Nja. Jika seandainya aku tiada, menikahlah dengan Mas Bumi. Aku berharap, kalian bisa menjaga Arta bersama-sama."


"Kamu bicara apa sih! Kamu pasti akan sehat!" kesal Senja tidak suka melihat Deandra yang putus asa. Dimana gairah hidupnya yang dulu menggebu-gebu? Apalagi jika berbicara tentang Bumi, Deandra akan begitu bersemangat. Kini, mata yang dulu berbinar cerah itu telah meredup sayu.

__ADS_1


"Aku serius. Tolong, jangan sampai Mas Bumi menikah lagi pada selain kamu. Aku tidak yakin mereka akan memperlakukan Arta sebaik kamu," mohon Deandra yang tak Senja hiraukan lagi.


Helaan napas kasar pun terdengar. "Aku pulang dulu, De. Kamu butuh banyak istirahat agar bicaramu tidak ke mana-mana. Besok pagi aku akan datang lagi," pamit Senja tak sanggup bila selalu didesak.


"Besok jangan tangisi aku terlalu lama! Segeralah makamkan aku jika besok tubuhku tak lagi bernyawa!" Pekikan Dea itu masih bisa Senja dengar. Namun, dia menolak percaya akan ucapan sang Sahabat.


Ketika menoleh, raut wajah Deandra tampak kecewa. Namun, Senja tidak bisa berbuat banyak. Dia tidak keberatan jika diminta untuk menjaga Arta. Hanya saja untuk menikah dengan Bumi, rasanya tidak mungkin. Malam itu, Senja benar-benar meninggalkan Deandra, membiarkan Bumi merawat Dea sepenuhnya.


Senja dan Deandra memang berkawan erat. Keduanya memiliki riwayat keluarga berantakan dengan Senja yang sejak dulu hidup di panti asuhan, sedangkan Deandra memiliki orang tua yang sudah bercerai.


Keesokan harinya, Senja dikagetkan oleh dering panjang yang berasal dari ponsel miliknya. Dia yang masih tertidur, membuka matanya malas untuk meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas.


"Halo?" ucap Senja sesaat setelah telepon terhubung.

__ADS_1


"Apa!" pekiknya seketika bangun dengan mata yang telah terbuka lebar.


Dari suaranya, Senja tahu jika beliau adalah asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Deandra. Dengan kondisi jantung yang berdetak tak beraturan, Senja berlari ke kamar mandi untuk mencuci muka dan bergosok gigi. Dia tidak memiliki banyak waktu untuk mandi.


Bibi Tijah mengabarkan jika kondisi Deandra kembali memburuk. Beliau juga mengungkap tentang Deandra yang selalu menggumamkan namanya. "Kamu pasti bisa bertahan, De. Kamu ibu yang kuat," gumam Senja seakan sedang meyakinkan dirinya sendiri.


Dengan mengendarai sepeda motor, lima belas menit berlalu dan Senja tiba di rumah sakit dimana Deandra dirawat. Dia berjalan tergesa-gesa menuju ruangan yang kemarin dikunjungi.


Ketika telah tiba di lorong rumah sakit, langkah kaki Senja memelan dengan detak jantung yang berdentum. Dia melihat seluruh keluarga dari Bumi dan Dea telah berkumpul tak terkecuali Arta, putra Bumi dan Deandra.


Yang membuat Senja seperti kehilangan keseimbangan adalah, ketika melihat seluruh keluarga menangis, meraung, hingga terisak. 'Ini tidak seperti yang aku pikirkan bukan?' batin Senja ketakutan.


Ketika langkahnya sudah dekat, Senja bisa melihat ke dalam ruangan dimana Bumi tengah bersimpuh di samping brankar yang di depannya ada Deandra yang memejamkan mata dengan wajah pucat. Tangis Bumi terlihat pilu dan mengiris kalbu.

__ADS_1


"Bu Dea sudah berpulang pada Tuhan, Bu," beritahu Bi Tijah yang paling sadar dan masih bisa mengontrol diri. Apalagi ketika ada Arta dalam gendongan beliau, membuat Senja membekap mulut seiring dengan air matanya yang jatuh..... baca selengkapnya ke novelnya langsung cus...


__ADS_2