Surga di atas lara

Surga di atas lara
Bab 92. Extra Chapter


__ADS_3

Sore harinya, Ghaida pulang ke rumah dengan badan yang lelah karena seharian ini banyak sekali pesanan bunga. Ketika memasuki pintu gerbang, Ghaida melihat mobil suaminya masih terparkir rapi di garasi. "Apa mas Adis nggak ke kantor ya?" monolog Ghaida bertanya.


Untuk memastikan kejelasannya, Ghaida memutuskan masuk setelah tadi menyapa pak satpam yang berjaga terlebih dahulu. "Assalamualaikum." ucap Ghaida saat kakinya baru memasuki rumah. "Waalikumsalam." jawab Yusuf yang saat ini sedang menonton TV.


"Kamu sudah pulang, Suf?" tanya Ghaida saat punggung tangannya sedang dicium oleh anaknya. "Sudah, Minggu depan kan, sudah ujian. Guru bilang, minggu ini bebas dari pelajaran tambahan." Sambil mendongak menatap ibunya yang kini, tinggi badannya sudah hampir sama dengannya.


Ghaida ber-oh-ria menanggapi. "Pelajaran apa yang paling susah menurut kamu, Suf?" tanya Ghaida sambil tanganny bergerak untuk mengacak rambut anaknya. Terdengar gumaman panjang sebelum Yusuf benar-benar menjawabnya. "Aku yang masih bingung tuh sama pelajaran bahasa Indonesia, Ma. Pertanyaan sama jawabannya tuh, nggak pasti," jawab Yusuf sambil meletakkan telunjuknya di dagu.


Ghaida terkekeh. "Belajar lagi ya? Seminggu nggak ada pelajaran tambahan, kamu harus tetap mengasah otak supaya waktu ujian tiba, kamu tidak perlu belajar begitu keras sampai larut malam," nasehat Ghaida yang mengingatkan Yusuf pada kejadian bulan lalu.


Saat itu, Yusuf terlalu santai menanggapi ujian sampai menyepelakan belajar. Pada saat di hadapkan pada soal ujian, otak Yusuf mendadak kosong dan lupa dengan pelajaran yang sudah guru ajarkan. Saat mengingat itu, Yusuf seketika menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Iya, Ma. Insyaallah Yusuf akan belajar dari kesalahan Yusuf di bulan lalu," sambil menyengir kuda sampai membuat Ghaida gemas pada anaknya. "Eh, Om Adis sudah pulang ya, Suf?" tanya Ghaida yang teringat dengan suaminya.


Yusuf mengernyitkan dahi. "Bukannya om Adis nggak ke kantor ya, Ma? Memangnya, om Adis nggak bilang sama Mama? Kan tante Arumi katanya pusing banget dan sejak tadi pagi, kata Bibi nggak beranjak dari kasur," jelas Yusuf yang membuat raut wajah Ghaida berubah kecewa.


Ya, mungkin itu sebuah rasa yang lebih mendominasi di hati Ghaida. Bolehkah Ghaida cemburu dengan Arumi? Tapi, bukankah pada saat dirinya sakit, Adis juga melakukan hal yang sama? Batin Ghaida bertanya-tanya.


Mencoba menyembunyikan cemburu dan rasa kecewa yang hinggap, Ghaida mengulas senyum dan berpamitan pada Yusuf untuk membersihkan diri terlebih dahulu. "Baiklah. Kalau begitu, Mama mau mandi dulu ya? Nanti kita ngobrol lagi," pamit Ghaida sambil mengelus puncak kepala anaknya lembut.


Yusuf tersenyum lantas mengangguk tanpa menaruh curiga sedikitpun dengan perubahan mimik wajahnya ibunya. Tidak berapa lama, Ghaida sampai di lantai atas. Dia berjalan santai menuju kamarnya berada.

__ADS_1


Namun, saat langkahnya melewati depan kamar utama, entah mengapa Ghaida memiliki keinginan untuk melihat apa yang sedang suaminya lakukan. Berhubung pintunya sedikit terbuka, Ghaida memberanikan diri mendekat pada bilah pintu berwarna coklat itu.


Ghaida berusaha meredam langkah kakinya agar tidak mengganggu aktifitas orang di dalamnya. Saat sudah dekat, Ghaida menggunakan satu mata agar penglihatannya bisa menyelinap masuk.


Dan betapa menyesalnya Ghaida saat mengetahui kegiatan orang yang ada di dalam sana. Ghaida menjauhkan kepala cepat. Jantungnya memompa lebih keras dari biasanya hingga dadanya naik-turun. Ghaida sungguh merasa terkejut dan hampir saja terkena serangan jantung mendadak.


Ghaida berbalik dan bergegas masuk ke kamarnya. Keputusan untuk mengintip merupakan keputusan terbodoh yang pernah Ghaida lakukan.


Setelah berada dalam kamarnya, Ghaida mengambil napas banyak-banyak. Kejadian barusan membuat Ghaida merasakan spot jantung. Matanya terpejam dengan napas yang terengah-engah, begitu terkejut.


Untuk menghilangkan keterkejutannya, Ghaida memilih mandi dan menyiram kepalanya dengan air. Mungkin, dengan berendam selama setengah jam bisa membuat pikiran yang berkecamuk di kepalanya reda.


Ghaida yakin, sebentar lagi azan magrib akan dikumandangkan. Setelah menggelar sajadah menghadap kiblat, dia duduk bersila untuk berzikir sambil menunggu azan magrib tiba.


Lima menit berzikir, azan akhirnya di kumandangkan. Ghaida mendengarkan dengan seksama dan menimpali setiap muazdin selesai mengucapkan kalimat demi kalimat azan.


Belum selesai azan di kumandangkan, pintu kamarnya tiba-tiba di buka dan menampakkan kepala Yusuf yang menyembul di antara sela pintu. "Ma? Kita jamaahan yuk?" ajak Yusuf dengan puppy eyesnya. Ghaida terkekeh pelan. "Ayuk lah. Masa diajak jamaah mama nggak mau sih? Mama mau banget. Yusuf masuk sini," ujar Ghaida mempersilahkan Yusuf untuk masuk.


Yusuf tersenyum senang dan langsung masuk ke kamar mamanya kemudian menggelar sajadah yang dia bawa dari kamarnya. "Mulai sekarang atau sebentar lagi, Ma?" tanya Yusuf yang segera di angguki oleh Ghaida.


"Ya sudah, kita kerjakan sekarang sebelum menunda waktu magrib terlalu lama," jawab Ghaida.

__ADS_1


Setelahnya, tidak ada suara lagi karena keduanya sudah khusyuk melakukan sholatnya.


Tidak berapa lama, sholat selesai dan keduanya mulai larut dalam doanya. Ghaida melirik anaknya saat ekor matanya melihat gerakan menggulung sajadah. "Ma? Aku keluar dulu ya? Mau lanjut baca Alquran di kamarku," pamit Yusuf yang mendapat anggukan dari Ghaida.


Saat Yusuf telah keluar dan menutup rapat pintu, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka lagi. Ghaida pikir, Yusuf kembali lagi untuk mengatakan sesuatu namun, perkiraannya salah. Yang datang ke kamarnya adalah Adis, suaminya.


"Assalamualaikum." sapa Adis saat pintu sudah terbuka, menampakkan Ghaida yang saat ini masih bersila di atas sajadah. "Waalikumsalam warahmatullahi wabarokatuh." jawab Ghaida tanpa repot-repot menoleh atau mendongak.


Blam.


Ghaida mendengar pintu kamarnya ditutup dan langkah Adis semakin mendekat. Mengapa disaat dirinya ingin menghindar, Adis justru datang ke kamarnya tanpa dosa setelah perbuatan yang dilakukannya di kamar utama.


"Ghaida?" panggil Adis lembut dan itu berhasil membuat Ghaida merasa ingin bersembunyi saja di manapun berada. Jika perlu, Ghaida ingin meminjam Kantong Ajaib atau pintu kemana saja milik Doraemon. "Iya, Mas?" jawab Ghaida cepat sambil menahan napasnya.


Ghaida tahu saat ini Adis sudah berjongkok di belakangnya karena Ghaida bisa merasakan hembusan napas suaminya. "Sudah selesai atau kamu sengaja mengulur agar bisa menghindar?" tanya Adis menggoda.


Ghaida memejamkan matanya erat-erat. Apakah suaminya itu tidak bisa membiarkan hidupnya lebih tenang?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


jangan lupa like komen dan hadiahnya ya😍

__ADS_1


__ADS_2