
"Baiklah, Bu. Tenang saja ... Semua bisa diatasi jika ibu mau berusaha. Ini kan masih usia enam bulan, belum terlambat untuk menurunkan tekanan darahnya."
Kata-kata dokter tadi berusaha Arumi ingat dan jadikan acuan dirinya untuk menurunkan tensi darahnya. Arumi juga terkejut ketika mengetahui tekanan darahnya begitu tinggi, yaitu 160/90.
Padahal bulan lalu, tekanan darahnya masih normal setelah beberapa bulan mengalami darah rendah. Arumi begitu takut karena dalam waktu satu bulan, tekanan darahnya bisa naik setinggi itu.
Dokter menyarankan agar Arumi menghindari makanan yang mempunyai kadar garam tinggi, kadar gula tinggi, dan memperbanyak sayuran yang bisa menurunkan tekanan darah. Arumi juga untuk sementara waktu dilarang mengonsumsi daging olahan dan menghindari segala bentuk gorengan.
Tiba-tiba Arumi merasakan sentuhan di punggung tangannya. Arumi menoleh. Dia bisa melihat Adis yang kini masih fokus menyetir sambil sesekali menatap ke arahnya. Tidak ada suara apapun dari Adis namun, jemarinya bergerak mengelus punggung tangannya lembut.
"Mas. Aku sangat takut bila diagnosa dokter benar-benar terja—"
"Jangan percaya apapun tentang diagnosa. Yang menentukan itu Allah, Rum. Tugas kita hanya berusaha dengan sebaik mungkin. Kita berdoa sama-sama ya ... Semoga kamu dan anak kita baik-baik saja," sela Adis menyemangati.
Sebenarnya, Adis sedang menyemangati dirinya sendiri bahwa semua akan baik-baik saja, tidak akan ada hal buruk yang terjadi. Adis tentu sama khawatirnya seperti Arumi. Namun, Adis berusaha untuk menutupi dan tidak ingin membuat Arumi semakin tertekan, yang akan berimbas pada kesehatan ibu dan anak.
"Tapi Mas—"
"Dengarkan aku. Semua akan baik-baik saja. Kamu dan anak kita akan baik-baik saja dan selalu ada dalam lindungan Allah," sela Adis cepat.
Arumi terdiam dengan pandangan yang lurus ke depan menatap jalanan yang mulai ramai. "Kalau nanti aku pergi—"
"Arumi!" geram Adis penuh nada penekanan. Arumi menoleh tak terima. Namun, dia tidak bersuara dan kembali mengarahkan pandangannya pada jalanan.
Lima belas menit kemudian, mobil yang dikendarai oleh keduanya memasuki pekarangan rumah. Setelah mobil berhenti, Arumi keluar begitu saja dan berjalan tergesa-gesa hingga membuat Adis memekik, meninggikan suaranya karena khawatir. "Arumi! Jalan pelan-pelan!"
__ADS_1
Ghaida yang baru saja memasuki pekarangan rumah setelah taksi yang dia tumpangi menurunkannya pun terkejut. "Apa terjadi mereka bertengkar?" monolog Ghaida kebingungan.
Ghaida berjalan mendekati suaminya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bukan bermaksud ikut campur tapi, bukankah rumah tangga Arumi juga rumah tangganya? Ghaida tertawa getir mengingat itu.
"Assalamualaikum, Mas," sapa Ghaida untuk pertama kali. Tidak ingin langsung mencecar dengan berbagai pertanyaan walau dalam hati, Ghaida sudah sangat penasaran. Dia menyalami tangan suaminya dan dikecup punggung tangannya.
"Waalikumsalam," jawab Adis lembut dengan mengulas senyumnya. Ghaida balas tersenyum. "Baru pulang dari rumah sakit ya, Mas? Aku kira sudah dari tadi," ucap Ghaida mencari topik pembicaraan.
Adis mengangguk membenarkan. "Iya. Kita masuk sekarang ya?" ajak Adis lembut sambil menuntun tangan Ghaida. Keduanya akhirnya memasuki rumah dan langsung disambut oleh Yusuf yang sedang berada di pinggir kolam, memberi makan ikan.
"Mama sama Om sudah pulang? Itu, Tante Arumi kenapa, Om? Kok mukanya sedih gitu?" tanya Yusuf yang memang sempat melihat wajah Arumi dari samping. Yusuf ingin menyapa namun, melihat Arumi mengacuhkannya, Yusuf lebih baik berpikir dua kali dan pura-pura tidak melihatnya.
Adis menghela napas lelah. "Arumi pikirannya negatif terus setelah pulang dari rumah sakit. Tekanan darahnya tinggi dan dokter bilang, itu bahaya jika dibiarkan dan tidak ada usaha untuk menurunkan tensi. Tapi, Arumi justru semakin terpuruk dan berpikiran negatif. Aku takut, hal itu bisa membahayakan nyawa keduanya," ungkap Adis menunduk lesu.
Ghaida menutup mulutnya tidak percaya. "Bukankah dua bulan yang kalau Arumi itu darah rendah ya, Mas? Kenapa sekarang tiba-tiba darah tinggi?" tanya Ghaida tidak habis pikir.
Ghaida mengelus punggung suaminya untuk memberikan ketenangan. "Sabar ya, Mas. Kalau mau berusaha, aku yakin Allah akan bantu kok, Mas. Terlepas dari diagnosa dokter, Allah yang berhak menentukan kedepannya seperti apa," ujar Ghaida memotivasi.
Adis mengangguk dan tersenyum, merasa bangga mempunyai istri seperti Ghaida yang sangat memahami dirinya.
..................
Waktu sudah menunjukan pukul sebelas tepat namun, mata Ghaida seperti enggan terpejam. Tiba-tiba saja, perutnya berbunyi meminta diisi. Walau malas, Ghaida tetap memaksa keluar menuju dapur. Sampai pagi tiba, jika Ghaida tidak makan sedikit saja, pasti tidak akan bisa tertidur.
Keadaan ruangan bawah sudah gelap. Hanya lampu corner saja yang menyala pendar. Karena tidak mungkin membuat makan dalam keadaan gelap, Ghaida akhirnya menyalakan lampu.
__ADS_1
Mata Ghaida membelalak saking terkejutnya. Di meja makan, sudah ada Arumi yang saat ini sedang memakan buah apel. Arumi sama terkejutnya hingga gerakan ingin menggigit apel itu terhenti di udara. "Arumi?"
"Kamu kok belum tidur? Ini sudah malam loh," ucap Ghaida geleng-geleng kepala. Arumi menggeleng. "Aku nggak bisa tidur, Mbak. Kepalaku rasanya pusing banget," jawab Arumi meringis sambil memegangi pelipisnya.
"Mau aku olesi minyak aromaterapi nggak? Biar enakan dan kamu bisa tidur," tawar Ghaida berbaik hati. Arumi meringis lagi. "Nggak mau, Mbak. Pasti baunya nggak enak kan?" tolak Arumi lembut. Ghaida terkekeh. "Minyaknya beda kok sama zaman dulu. Minyak punyaku lebih segar dan wangi. Aku ambilkan, mau?" tawarnya lagi.
Arumi tampak menimang-nimang sejenak. "Mau deh, Mbak. Aku coba dulu barangkali bisa bikin aku tenang," jawab Arumi setelah beberapa lama berpikir.
Tanpa menjawab, Ghaida menuju kamarnya kembali untuk mengambil minyak aromaterapi itu. Tidak berapa lama, Ghaida kembali dengan minyak yang berada di tangannya. "Sini, biar aku yang oleskan. Ini bisa digunakan untuk pijat juga kok," ucap Ghaida perhatian.
Arumi menurut saja dan mulai menikmati gerakan roll dari tutup minyak tersebut. "Ini wangi banget, Mbak," ucap Arumi sumringah. "Besok aku mau beli juga deh. Segar juga," sambungnya.
"Sudah."
"Wah, Mbak Ghaida ternyata benar. Pusingnya sudah mereda, Mbak," ujar Arumi bungah. Ghaida tersenyum dan mengambil posisi duduk di depan Arumi. Tatapannya lurus menatap wajah Arumi hingga membuat sang empunya salah tingkah.
"Kenapa sih, Mbak? Kok liatinnya gitu banget?" tanya Arumi tidak nyaman. Ghaida menghela napasnya. "Arumi? Aku tahu apa yang sedang menimpamu saat ini, termasuk rasa pusing yang baru saja kamu rasakan. Jangan terlalu di pikirkan, Rum. Kamu harus tetap semangat dan berusaha untuk menurunkan tensi darahmu," ucap Ghaida panjang lebar.
Arumi menunduk. "Mbak Ghaida sudah tahu?" tanyanya lirih.
"Aku sudah tahu. Aku hanya mau bilang sama kamu. Kamu boleh memikirkan ucapan dokter tadi siang tapi, untuk dijadikan motivasi dan acuan untuk lebih menjaga pola makanmu lagi. Aku yakin, kalau kamu mau berusaha, Allah akan bantu."
"Ayo semangat Arumi. Buktikan bahwa diagnosa dokter tidak selalu benar. Kamu harus mematahkannya dengan hidup sehat dan menjaga pola makan yang baik," ujar Ghaida menyemangati.
Arumi tersenyum haru dan langsung beranjak dari kursi untuk memeluk Ghaida. Dia merasa beryukur ada Ghaida dalam hidupnya. Walau hatinya sudah banyak Arumi sakiti, dia tetap bersikap baik dan peduli terhadap Arumi.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
💅🧘🤰😂