
Ghaida baru saja menutup toko bunga milik Zoya dan ingin memesan ojek online. Namun, hal itu segera diurungkan karena saat ini mobil suaminya telah berhenti tepat di depan toko bunga.
Ghaida mengernyit heran. "Bukankah itu mobil mas Adis ya?" monolog Ghaida bertanya. Semua terjawab ketika sosok suaminya itu keluar dari balik kemudi kemudian disusul Yusuf. Ghaida membelalak tak percaya. 'Mas Adis menjemput Yusuf?' batin Ghaida bertanya-tanya.
"Sudah tutup kan, Da? Kita pulang?" ajak Adis yang berhasil mebgembalikan kesadaran Ghaida. Iya, kita mampir ke rumah Mbak Zoya dulu, Mas," jawab Ghaida tersenyum. Sebenarnya, ada banyak tanya di hati Ghaida namun, Ghaida memilih mennyimpannya dan akan bertanya nanti.
"Yusuf duduk di bangku belakang nggak papa ya? Mama biar duduk di depan bersama Om?" ucap Adis meminta persetujuan. Yusuf mengangguk dan mengacungkan jari jempolnya. "Nggak papa kok, Om. Justru Yusuf bisa leluasa karena tempat duduknya luas," kekeh Yusuf riang.
Ghaida tersenyum melihat interaksi anak dan suaminya. Sepertinya, niat yang semalam Adis utarakan memang bersungguh-sungguh. "Yusuf baru pulang ya? Ada tambahan pelajaran tadi?" tanya Ghaida sambil berjalan memasuki mobil. "Iya, Ma. Kan sebentar lagi ada ujian lagi. Yusuf mau lulus dengan nilai tinggi supaya nanti pas daftar SMP, Yusuf bisa di terima di SMP mana saja," jawab Yusuf yang membuat Ghaida menoleh ke belakang setelah berhasil duduk di kursi depan.
"Berusaha dengan keras boleh saja. Tapi, jangan lupa berdoa dan jaga kesehatan. Kamu harus sehat dulu untuk bisa belajar bersungguh-sungguh," nasihat Ghaida yang mendapat anggukan dari Yusuf.
Adis hanya memperhatikan interaksi anak dan ibu itu dengan perasaan bahagia. Adis merasa, inilah keluarga bahagia. "Rumah atasan kamu ada dimana, Da?" tanya Adis yang mulai menjalankan mobilnya.
"Lurus saja, Mas. Nanti ada pertigaan belok kiri. Terus lurus lagi, sampai kok," jawab Ghaida yang kini pandangannya beralih pada suaminya. Ketiganya hanya terdiam tanpa ada yang berniat untuk membuka pembicaraan. Saat kepala Ghaida menoleh ke belakang, ternyata Yusuf sudah tertidur.
Bibir Ghaida mengulas senyum melihat Yusuf tertidur begitu nyenyak. "Sepertinya Yusuf kelelahan. Nggak terasa, Yusuf sudah besar sekarang," ucap Ghaida tersenyum sendu. Tangan Adis bergerak untuk menyentuh jemari Ghaida. "Nanti malam bikin adek untuk Yusuf lagi ya?" ucap Adis sambil mengerling nakal.
Ghaida tersenyum dengan semu merah di pipinya. "Apaan sih, Mas. Tapi, kalau kamu mau, aku bersedia kok," ucap Ghaida yang kini menggoda Adis balik. Adis semakin tersenyum lebar. Ghaida yang melsiht senyum suaminya, merasa begitu bahagia akhirnya, senyum yang dulu pernah hilang untuknya kini telah kembali lagi.
__ADS_1
"Eh! Tumben banget mas Adis jemput aku sama Yusuf?" tanya Ghaida yang teringat. Adis tersenyum. "Aku mau jaka kamu sama Yusuf untuk berbelanja," jawab Adis kemudian terdensge gumaman panjang, seakan ragu untuk mengatakan kelanjutan kalimatnya.
"Kenapa, Mas?" kejar Ghaida penasaran. "Itu. Aku mau ajak Arumi juga sebenarnya. Tapi, dia mengatakan bahwa dia mau tiduran saja di rumah," ucap Adis hati-hati.
Ghaida sedikit kecewa namun, hal itu tidak berlangsung lama ketika Adis kembali melanjutkan kelimatnya. "Akhirnya, kita bisa jalan-jalan bersama. Kamu nggak papa kan? Bagaimanapun juga, aku harus belajar adil untuk kalain berdua. Maafkan aku ya, Da," sambung Adis merasa bersalah.
Ghaida menatap suaminya dengan pandangan sendu. "Nggak papa kok, Mas. Apa yang kamu lakukan sudah benar. Mungkin, setelah ini kita bisa melaksanakan sholat berjamaah di rumah bersama Arumi juga." Sambil tersenyum ghaida mengatakannya.
Adis menoleh sebentar kemudian fokus lagi dengan kemudi. Mulutnya sudah terbuka untuk berbicara namun urung. "Eh! Sudah sampai Mas. Itu rumah msbk Zoya," ucap Ghaida yang membuat suara Adis terpaksa harus ditarik kembali. Dia segera memarkirkan mobilnya di depan rumah yang mempunyai gerbang tinggi dan mewah.
"Aku turun sebentar ya, Mas. Mau nitip kunci toko sama pak satpam," pamit Ghaida yang segera keluar sebelum Adis bersuara. Tidak berapa lama, Ghaida telah kembali. "Sudah?" tanya Adis pada Ghaida yang langsung mendapat anggukan. "Kita mau jalan kemana, Mas?" tanya Ghaida sambil memasang sabuk pengamannya.
Ghaida melongo tidak percaya dengan ucapan suaminya barusan. Adis yang menyadari tatapan Ghaida pun, memilih bertanya. "Kenapa? Kok kaya terkejut gitu?" tanyanya yang pandangannya kini lurus ke depan. Karena sudah memasuki jalan raya.
"Nggak. Aku terlalu terkejut sama ucapan kamu, Mas. Tapi aku suka kamu yang begini," jawab Ghaida menatap Adis lembut, senyumnya tersungging lebar hingga menampakkan deretan gigi putihnya.
....................
"Yusuf mau beli mainan apa?" tanya Adis yang saat ini sedang menemani Yusuf untuk membeli mainan. Begitu juga dengan Ghaida. "Bingung, Om. Mahal semua," ucap Yusuf sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ghaida terkekeh. "Terus kamu mau beli yang harga berapa?" tanya Ghaida ingin mencoba membantu kebingungan yang sedang Yusuf rasakan.
__ADS_1
"Kalau aku beli Lego yang besar itu boleh nggak?" tanya Yusuf sambil menunjuk mainan Lego yang harus disusun sendiri dengan bagian-bagian yang kecil-kecil. Adis mengangguk. "Mau yang mana? Kapal? Rumah? Atau yang mana? Pilih dua atau tiga nggak papa kok, Suf," ucap Adis mempersilahkan.
"Satu aja deh, Om. Entar kalau satu udah selesai aku susun, bisa beli lagi," jawab Yusuf sama sekali tidak mencuri kesempatan. Adis tersenyum dan geleng-geleng kepala. "Nggak papa, Suf. Beli aja sekalian. Om yang bayar kok," ucap Adis yang akhirnya disetujui oleh Yusuf.
Setelah membayar tagihan, ketiganya memilih untuk makan malam di sebuah restoran yang masih berada di mall. Sudah banyak paperbag yang di tenteng oleh Adis yang berisi mainan punya Yusuf, gamis dns kerudung milik Ghaida dan Arumi.
Jika dirinya dibelikan baju, Arumi juga berhak mendapatkannya. Begitulah kira-kira pemikiran Ghaida. Akhirnya, apa yang Ghaida beli, Arumi juga dibelikan. Ghaida sama sekali tidak keberatan dengan hal itu. Menurut Ghaida, itu lebih baik dan adil.
Cup.
Adis tiba-tiba mencuri ciuman di pipi Ghaida sesaat setelah Ghaida dan Yusuf duduk. Saat Ghaida menoleh ke arah Yusuf, anaknya itu langsung memalingkan muka. Sungguh, Ghaida merasa malu karena suaminya itu menciumnya di tempat umum. "Mas!" protes Ghaida yang hanya dibalas dengan kekehan.
Kemudian, Adis beralih mengacak rambut Yusuf. "Kalian mau pesan makanan apa? Biar aku yang pesan. Kalian duduk disini saja," ucap Adis sangat manis.
Sungguh, Ghaida tidak tahu mengapa sifat suaminya mendadak sangat manis. Tapi kalau boleh jujur, Ghaida senang dengan sikap baik suaminya. Mungkin, Adis benar-benar ingin berubah. Semoga kedepannya, rumah tangganya bisa harmonis walau ada dua ratu di dalamnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa komen dan likenya ya😘
__ADS_1