
Pagi kembali menjelang. Semalaman Adis benar-benar mendiamkan Ghaida. Tidak ada yang bisa Ghaida lakukan untuk membuat Adis mau menyapanya karena ini adalah hari terakhirnya disini. Seperti pagi ini, Ghaida dan Yusuf sudah siap dengan kopernya masing-masing.
Keduanya duduk di ruang tengah untuk menunggu Adis dan Arumi turun. Namun, hingga pukul sembilan pagi, belum ada tanda-tanda suami dan Arumi akan turun. Ghaida menghela napas lelah. "Tunggu sebentar ya, Suf," ucap Ghaida kemudian meninggalkan Yusuf yang menatap bingung ibunya.
Langkah Ghaida kini menuju nakas yang berada di dapur. Di dalam laci terdapat buku catatan beserta bolpoinnya. Ghaida menuliskan semua yang ingin dia sampaikan pada suaminya itu untuk yang terakhir kali.
Sebenarnya, Ghaida bisa langsung mengetuk pintu dan berpamitan. Namun, Ghaida terlalu takut untuk melihat sesuatu di dalam kamar tersebut yang nantinya justru akan menyakiti hatinya. Setelah panjang lebar menulis, Ghaida menyobek kertas tersebut dan membawanya ke ruang tengah.
"Kita berangkat sekarang ya, Suf? Kasihan sopirnya yang sudah menunggu lama," ajak Ghaida setelah meletakkan secarik kertas di atas meja. Yusuf mengangguk mengiyakan dan berjalan lebih dulu dengan menyeret koper berisi barang-barangnya.
Ghaida menatap sekali lagi rumah yang beberapa tahun ini sudah mengukir kenangan manis dan pahit yang takkan pernah Ghaida lupa. Bahkan, di rumah inilah Ghaida disadarkan oleh kenyataan yang membuatnya dirinya merasa tidak percaya diri, yaitu merasakan apa yang dulu Zoya rasakan.
Ghaida menghela napasnya pelan. "Sudah saatnya aku pergi," ucapnya kemudian berjalan keluar rumah tanpa menoleh ke belakang lagi. Sesampainya di halaman depan, Ghaida melihat Bibi yang sedang mencabuti rumput. Dari kejauhan Ghaida bisa melihat Bibi sedang menatapnya dengan rasa heran. "Bu Ghaida mau kemana? Kok bawa koper besar sekali?" tanya Bibi pada akhirnya.
Ghaida tersenyum tipis. "Mau pergi, Bi. Nanti tolong bilang sama mas Adis dan Arumi kalau saya sudah pergi. Oh iya, saya ada tulis surat untuk mas Adis yang saya letakkan di atas meja. Tolong kasihkan ke mas Adis yang, Bi?" pinta Ghaida tersenyum dipaksakan.
Walau bingung, Bibi tetap mengangguk dan mematuhi atasannya. "Assalamualaikum, Bi. Aku pergi dulu ya? Jaga kesehatan Bibi. Kalau takdir mempertemukan kita lagi, aku janji akan selalu mengenali Bibi," ucap Ghaida tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
Tanpa menunggu jawaban dari Bibi, Ghaida segera naik ke mobil yang sudah menunggunya. Ghaida dan Yusuf melambai bersamaan ke arah Bibi yang saat ini masih mematung. Akhirnya, mobil itu melaju membelah jalanan dan membawa Ghaida ke tempat yang baru, tempat kelahiran sang Ibu dulu.
__ADS_1
Sedang di tempat lain, Adis kini memandang nanar pada kepergian Ghaida yang tidak tahu kemana tujuannya. Ya, Adis melihat'kepergian Ghaida dari jendela kamarnya. Senyum yang Ghaida berikan pada Bibi begitu menunjukkan suatu ketulusan dan kelegaan.
Entahlah, Adis merasa Ghaida begitu tenang ketika bisa lepas darinya. "Mas? Mbak Ghaida sudah pergi?" tanya Arumi lirih. Adis mengangguk tanpa menoleh pada Arumi yang saat ini sedang duduk di sisi ranjang dengan Yhara berada di pangkuannya.
Suasana dalam kamar hening seketika, Arumi dengan pikirannya sendiri begitu juga Adis. Hingga beberapa menit hening, suara Arumi kembali terdengar. "Mas? Kamu bisa kejar mbak Ghaida dan tinggalkan kami. Aku tidak masalah jika berpisah darimu bisa membuat mabk Ghaida kembali. Aku memang salah," sesal Arumi yang tidak mendapatkan jawaban apapun.
Arumi menatap punggung tegap suaminya yang kini sedang berdiri membelakangi. "Aku akan pergi meninggalkan Yhara juga. Biarlah Yhara hidup bersama kalian asal diberi kebahagiaan, aku rela," ucap Arumi lagi seakan menunjukkan betapa menyesalnya dia.
Adis menggeleng. "Ghaida benar. Aku sudah terlalu banyak menyakitinya. Aku tidak bisa egois untuk meminta Ghaida selalu ada bersamaku. Tapi, apakah aku boleh memintanya padamu? Mari ... Hiduplah sebagaimana yang Ghaida inginkan," ucap Adis setelah semalam suntuk memikirkan cara terbaik.
Kemudian, Adis berbalik dan menatap Arumi. "Tetaplah jadi istriku, Rum. Aku akan berusaha belajar dari kesalahanku saat bersama Ghaida dan tidak akan mengulanginya lagi saat bersamamu. Bagaimana?" ajak Adis bersungguh-sungguh.
"Mari! Kita perbaiki semuanya dan menjalani hukuman kita yang sesungguhnya setelah Ghaida pergi. Karena setelah ini, aku yakin rumah tangga kita tidak akan selalu baik-baik saja. Pasti ada pahit dan manisnya. Bagaimana? Apakah kamu siap menjalani hukuman itu bersamaku?" ajak Adis bersungguh-sungguh.
Tanpa sadar, Arumi mengulas senyum tipis. Ya, setelah kepergian Ghaida, hidupnya dan hidup Adis pasti tidak akan baik-baik saja. Dirinya harus menerima apa yang sudah dirinya tanam di masa lalu. "Baiklah, mari kita jalani hukuman ini sesuai permintaan mbak Ghaida," jawabnya dengan keyakinan penuh.
Arumi sadar, pasti akan ada badai yang menerpa rumah tangganya tapi, Arumi akan sekuat tenaga menjalaninya bahtera rumah tangganya. Adis tersenyum tipis dan menghapus jejak air di sudut matanya.
..................
__ADS_1
Akhirnya, Ghaida dan Yusuf sudah sampai di sebuah kota yang dijuluki Kota Kembang. Kota yang rasanya masih begitu asing baginya. Namun, Ghaida yakin perlahan-lahan dirinya akan mulai terbiasa dengan lingkungan tempat tinggalnya.
Alasan mengapa Ghaida memilih kota tersebut adalah, karena disana masih sangat asri. Ghaida memilih tinggal di desa yang daerahnya banyak sekali tumbuhan teh. Hal itu bisa membuat hidup Ghaida lebih tenang begitu juga Yusuf.
Setelah masuk ke rumah barunya, rumah yang dulu menjadi rumah kakek dan neneknya, Ghaida meletakkan koper lalu memandangi sekeliling rumah. Rumah itu masih sangat bagus dan layak untuk ditinggali. Walaupun, rumah tersebut tidak ada apa-apanya dibanding rumahnya bersama Adis dulu.
Rumah itu hanya memiliki luas 9×11 meter namun, di depan rumah dan di belakang rumah masih ada tanah kosong yang bisa Ghaida gunakan untuk menanam berbagai tanaman.
Hari sudah sore saat Ghaida sampai di kota tersebut. Akhirnya, Ghaida memilih untuk memasak air yang akan digunakan untuk mandi. Sepertinya, Ghaida tidak akan mampu mandi dengan air dingin dengan suhu yang sedingin ini. Ya, cuaca disana begitu dingin karena desa tempat tinggal Ghaida yang baru berada di perbukitan.
Sedang Yusuf, dia sudah mandi dengan air dingin dan keluar dari ruang bersama pak Jarwo dan Bu Jubaedah. Ya, kedunya ikut bersama Ghaida dan berniat untuk menetap disana.
Sambil menunggu airnya panas, Ghaida berjalan menuju belakang rumah. Saat sudah berada di luar, mata Ghaida benar-benar dimanjankan dengan pemandangan perkebunan teh. Ghaida tersenyum tipis lalu mendekati ke pagar pembatas rumahnya.
Ghaida sampai harus memeluk tubuhnya sendiri yang saat ini merasa kedinginan. Angin sepoi-sepoi di sore hari membuat Ghaida harus mengetatkan jaketnya, hijabnya sampai bergerak tak beraturan karena kencangnya udara saat itu.
Ghaida menghela napas pelan. "Disaat sudah sejauh ini, aku justru merindukanmu, Mas,"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
mendekati end😘