Surga di atas lara

Surga di atas lara
Bab 50. Berseri-seri


__ADS_3

Setelah satu minggu masa pengantin baru, Zoya dan Zaky harus kembali dengan rutinitasnya. Banyak pekerjaan yang harus keduanya kerjakan. Saat Zaky mengatakan ingin mengajak Zoya bulan madu, Zoya mengatakan bahwa hal itu sepertinya tidak perlu.


Karena tujuan dari bulan madu tidak lain adalah melakukan aktifitas berhari-hari di dalam kamar. Jadi, Zoya mengatakan bahwa itu tidak ada bedanya dengan tidur di apartemen.


"Aku kaya belum bisa jauh-jauh dari kamu. Aku mau tugas dua hari loh, di luar kota," ucap Zaky dengan wajah yang tertekuk muram.


"Iya aku tahu. Tapi, itulah resiko jadi abdi negara. Namanya juga berjuang demi negara, pasti nggak mudah, Mas. Doaku selalu menyertai mas Zaky dimana pun berada," Zoya memeluk Zaky erat.


Dia juga merasa tidak rela Zaky sudah harus pergi ke luar kota lagi di usia pernikahan keduanya yang masih satu minggu. Dua hari bagi Zoya akan terasa bagaikan dua abad. Zoya menghela nafasnya kasar. "Kamu nggak boleh nakal disana. Jadi suami yang baik, jaga pandangan kamu," nasihat Zoya pada suaminya.


Zaky terkekeh dalam pelukan. "Iya, bagaimana aku bisa nakal kalau aku sudah mengfokuskan diri dengan wanita bernama Zoya. Aku sudah tidak bisa berpaling," Zaky melonggarkan pelukan untuk menatap istrinya yang pagi itu sudah rapi dengan hijab pashminanya.


"Mulai deh, gombalnya," Zoya mengulum senyumnya, merasakan pipinya yang panas akibat merona.


Cup. Cup. Cup. Cup.


Zaky melabuhkan kecupan bertubi-tubi di bagian wajah Zoya dan berakhir pada bibir Zoya. Dia me lu matnya sekilas dan menatap Zoya lagi. "Aku berangkat ya? Jaga diri kamu baik-baik," setelah itu, Zaky melabuhkan kecupan dalam di kening Zoya.


Ada rasa tidak rela melepas kepergian Zaky namun, Zoya bisa apa. Ini sudah menjadi resiko dirinya menjadi istri dari seorang abdi negara. "Hati-hati ya, Mas," Zoya melambaikan tangan saat Zaky mulai menjalankan mobilnya keluar dari lobi apartemen.


Setelah mobil yang dikendarai Zaky sudah tak terlihat lagi, Zoya kembali ke apartemennya untuk mengambil barang-barang yang akan dia bawa ke toko bunganya. Setelah ke toko bunga, baru Zoya akan mengunjungi toko rotinya.


Selama Zoya tidak mengecek keadaan toko, ada Yasa dan Reni yang bisa di percaya memegang tanggung jawab di tokonya. Jadi, Zoya tidak perlu merasa khawatir.

__ADS_1


Zoya membawa motornya menuju rumah ibu mertuanya, ibu Khadijah, sebelum mampir ke toko bunganya. Sudah dua hari ini Zoya tidak bertemu Bu Khadijah dan Zoya merasa rindu.


Hanya butuh waktu lima belas menit, Zoya berhasil memarkirkan motornya di depan rumah bu Khadijah. "Assalamualaikum." ucap Zoya saat pertama kali membuka pintu. Zoya bisa melihat asisten rumah tangga di rumah mertuanya, sedang mengepel lantai. "Saya lewat nggak papa kan, Teh?" tanya Zoya sopan.


"Lewat aja, Bu. Nggak papa kok. Sebentar lagi juga kering," jawab ART itu sambil membungkuk sopan. Zoya tersenyum dan balas membungkuk. "Saya masuk dulu ya, Teh," setelah itu, Zoya memasuki rumah dan menuju dapur dimana bu Khadijah menghabiskan waktunya di pagi hari.


"Assalamualaikum Bu. Ibu sehat kan?" tanya Zoya saat melihat bu Khadijah sedang sibuk dengan sayur di tangannya. "Waalaikumsalam. Eh, Nak Zoya ... Kapan datang? Kok ibu nggak dengar ya? Ibu sehat kok. Duuuh, pengantin baru tuh, wajahnya terlihat berseri-seri ya ...." jawab bu Khadijah di akhiri dengan gurauan.


Zoya terkekeh dan geleng-geleng kepala. "Apaan sih, Ibu ... Kaya nggak pernah jadi pengantin baru saja," jawab Zoya malu-malu. Bu Khadijah semakin tergelak saat melihat ekspresi malu-malu Zoya. "Tuh kan ... Wajahnya jadi merah padam gitu ... Bahagia ya, Nak," bu Khadijah berucap dengan mata yang berkaca-kaca.


Zoya yang menyadari itu akhirnya memeluk bu Khadijah lembut. "Kok ibu malah mau nangis sih? Jangan sedih ya, Bu. Zoya akan bahagia kalau ibu juga bahagia," ucap Zoya yang nada bicaranya terdenage bergetar. Zoya selalu terbawa suasana jika dalam kondisi seperti itu.


"Ibu sudah bahagia saat melihat kalian bahagia. Habis ini, kasih ibu bonus ya?" Bu Khadijah melepas pelukan itu dan mengerling nakal. Zoya yang tidak paham pun tidak bisa menyembunyikan rasa bingungnya. Dahinya sudah mengernyit. "Ibu mau bonus apa? Mau Zoya belikan apa? Atau mau Zoya masak apa?" tanyanya beruntun.


Bu Khadijah terkekeh. "Nggak, ibu nggak butuh itu. Ibu mau bonus cucu dari kamu sama Zaky. Ibu kan sudah tua. Jadi, ibu sudah kepengen gendong anak-anak kalian. Ibu siap kok, kalau disuruh menjaga mereka," jawabnya tersenyum hangat.


...............................


Sudah sekitar satu jam ini Zoya berada di toko rotinya. Dia urung datang ke toko bunga terlebih dahulu karena Zoya ingin berlama-lama disana. Sedang di toko rotinya, paling Zoya akan menghabiskan waktu dua sampai tiga jam kedepan.


"Semua berjalan lancar Alhamdulillah, Mbak. Kemarin ada sedikit masalah di pemanggangan tapi sudah teratasi," tutur Reni memberitahu. Zoya magut-magut sambil terus membaca sederet angka-angka pada kertas yang sedang dibacanya. "Makasih ya, Ren ... Kamu bisa aku andalkan. Bulan ini, semua karyawan akan mendapat bonus karena kerja keras kalian," Zoya tersenyum dan meletakkan kertas itu di atas meja.


"Beneran, Mbak? Mbak Zoya nggak lagi bercanda kan?" Mata Reni sudah membelalak tak percaya dengan pendengarannya. "Apa aku terlihat bercanda, Reni?" Zoya justru balik bertanya hingga Reni sadar bahwa Bu Bos-nya tidak sedang bercanda. "Alhamdulillah, terima kasih ya, Mbak. Aku akan kasih tahu semuanya biar kerjanya tambah semangat dan dapat bonus lagi deh," kekehnya lalu meninggalkan ruangan.

__ADS_1


Zoya tersenyum menatap Reni yang begitu bahagia. Dia jadi ingat semasa menjadi karyawan di sebuah perusahaan. Memang, menerima gaji plus bonus bahagianya tak terkira.


Zoya keluar ruangan untuk menuju pantry dimana koki yang bertugas membuat roti ada disana. Zoya ingin memastikan bahwa roti yang dia jual itu higienis. Beruntung, peraturan yang Zoya buat benar-benar di terapkan oleh semua karyawannya.


Seperti mencuci tangan sebelum memegang bahan makanan atau membungkus roti yang sudah jadi ke dalam plastik. Zoya benar-benar menjaga kualitas dan ke-higienisan produknya.


"Aku coba yang masih hangat ya, Chef? Sepertinya enak deh," ucap Zoya saat melihat sang Chef sedang mengambil roti dari oven. "Iya, Mbak, nggak perlu minta izin ke saya. Kan yang punya toko, Mbak Zoya,"


Tok. Tok. Tok.


Belum sempat Zoya mengambil salah satu roti itu, pintu dapur diketuk dari luar dan wajah Reni menyembul dari sela pintu itu. Zoya bertanya lewat tatapan muka, seakan bertanya ada apa.


"Ada tamu, Mbak. Dia mau ketemu sama, Mbak Zoya," ucapnya terbata. Zoya mengernyit. "Siapa, Ren?"


Reni menyengir. "Mbak Zoya yang lihat sendiri ya, Mbak hehe," Zoya memutar bola matanya malas. "Dia datang lagi?" tanya Zoya yang seakan sudah tahu siapa yang datang ke toko rotinya.


"Iya, Mbak."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


jangan lupa kasih Like dan komennya ya 😍


lope sekebon untuk kalian semua 😘😘🌹

__ADS_1


mampir ke novel temanku juga yuk.



__ADS_2