Surga di atas lara

Surga di atas lara
Bab 74. Sikap Adis


__ADS_3

Ghaida menatap suaminya yang sedang duduk bersama istri keduanya di depan televisi. Sedangkan dirinya malah sedang bergulat di dapur untuk membuat makan malam untuk seisi rumah.


Ghaida juga ingin merasakan bagaimana rasanya di manja dan di nomor satukan. Tetapi, dirinya hanya bisa menelan kekecewaan dan merasakan kesakitan dalam hatinya.


Ghaida merasa, dunia sedang mempermainkan dirinya. Bolehlah Ghaida menganggap dunia ini tidak adil? Mengapa nasibnya selalu seperti ini? Ghaida mengusap air matanya lalu kembali menata makanan yang sudah matang untuk dibawa ke meja makan.


"Mas Adis, aku minta tolong boleh? Tolong bawakan makanan ini ke meja makan ya, Mas? pinta Ghaida pada suaminya. Adis mendongak menatap Ghaida. "Baiklah, aku bantu," ucap Adis lalu mendekat pada Ghaida yang terlihat sedang menata piring.


"Ini kan, Sayang?" tanya Adis yang membuat jantung Ghaida seketika berdetak tak karuan dan tangannya yang sedang sibuk menata piring seketika berhenti. "Hah?" tanya Ghaida salah tingkah. "Yang ini, yang mau dibawa ke meja makan kan?" ulang Adis dengan senyum manisnya.


Ghaida mengerjapkan matanya beberapa kali. "I–iya, Mas, se–semuanya," jawab Ghaida tergagap. Ghaida melirik sekilas pada suaminya yang kini sedang menatapnya lengkap dengan senyum manisnya. "Kenapa?" tanya Adis lagi yang membuat Ghaida semakin salah tingkah dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Ng–nggak papa, Mas. Aku cuma lagi —"


"Bingung? Heran? Terkejut? Atau ... Salting?" tanya Adis tersenyum manis yang justru semakin membuat jantung Ghaida semakin bertalu-talu. "Aku bawa kesana dulu ya?" ucap Adis kemudian.


Setelah Adis berlalu, Ghaida menghirup oksigen sebanyak-banyaknya untuk menghilangkan kegugupannya. Entah terkena setan apa, atau Adis habis darimana? Sehingga sikapnya berubah menjadi manis.


Belum sempat Ghaida menikmati nafas leganya, Adis sudah datang lagi dengan senyum manisnya. Ghaida hanya bisa mematung dan seketika lupa apa yang harus dikerjakannya lagi.


Cup.


Tubuh Ghaida semakin membeku saat kecupan bibir Adis berhasil mendarat dengan sempurna di keningnya. Walau hanya sekilas, Ghaida sangat ingat jelas bagaimana rasanya benda kenyal itu menyentuh permukaan kulitnya. Dan jujur, Ghaida sangat merindukan sentuhan dari suaminya.


"Terima kasih ya? Kamu sudah menjadi istri yang baik dan selalu menyiapkan semua keperluanku," ucap Adis lagi hingga Ghaida sudah tidak bisa berkata-kata lagi.

__ADS_1


Perasaan Ghaida semakin campur aduk antara, terkejut, senang, bahagia, dan pastinya ... Berbunga-bunga.


...................


"Zoya?" panggil Zada yang kini sudah duduk tepi ranjang sambil memperhatikan Zoya yang sedang menyiapkan baju untuk acara pernikahan Yasa besok.


"Kenapa, Mas?" jawab Zoya tanpa mengalihkan pandangan pada lemari yang berisi banyaknya baju yang digantung. "Sudah malam ini. Kamu nggak mau tidur?" tanya Zaky menatap istrinya lembut.


"Sebentar lagi, Mas. Aku lagi cari kerudung yang cocok buat besok," jawab Zoya tak menghiraukan ucapan suaminya. Zaky mendengus pelan karena Zoya tidak paham dengan bahasa isyarat yang dirinya ucapkan.


Zaky beranjak dari ranjang dan berjalan mendekati Zoya. Zoya yang sedang fokus, sampai tidak menyadari bahwa Zaky sudah berada di dekatnya. Jelas saja Zoya tidak mendengar karena Zaky berjalan dengan cara mengendap-endap.


Tiba-tiba, Zoya merasakan tangan besar yang melingkar di perutnya diikuti oleh wajah Zaky yang bertumpu pada bahunya. Zoya sempat terkejut namun, berubah terkekeh seketika saat tubuhnya seakan mendapat kehangatan yang diberikan oleh suaminya.


Punggungnya merasakan hangat dan salah satu sisi wajahnya bisa merasakan hembusan nafas suaminya yang hangat. "Mas, kalau mau tidur, tidur dulu nggak papa kok," ucap Zoya berusaha fokus kembali pada pekerjaannya.


Zoya menelan salivanya saat menangkap makna tersirat dari suaminya. Zoya langsung berbalik untuk menatap wajah Zaky yang masih tetap tampan walau usianya sudah menginjak kepala tiga.


Zaky tersenyum puas menangkap tatap mata Zoya yang sendu. Tanpa aba-aba, Zaky menarik pinggang Zoya untuk lebih merapat lagi dengan tubuhnya. Tangannya bergerak menyingkirkan anak rambut yang lancang keluar dari tempatnya.


"Kamu sengaja mau goda aku ya? Kok pakai baju begini," ucap Zaky yang kini tangannya sudah turun dan memainkan simpul spaghetti di pundak Zoya. "Kalau iya memangnya kenapa? Mas nggak suka?" tanya Zoya lembut.


Zaky terkekeh dan menatap wajah cantik istrinya. Jemarinya kembali bergerak membingkai wajah Zoya hingga membuat sang empunya memejamkan mata. Perlahan-lahan, Zaky mendekatkan wajahnya pada cuping milik Zoya dan menggigitnya lembut.


Satu de sa han berhasil lolos saat Zoya merasakan hangat, basah dan menggelitik di cuping telinganya. Dan gerakan berikutnya, Zaky pun mulai menciumi setiap sisi wajah putih dan mulus Zoya yang tentunya tetap cantik karena berbagai perawatan yang dilakukannya.

__ADS_1


Ciuman Zaky berakhir di bibir ranum dan semanis Cherry milik Zoya. Dia me lu matnya disana, meninggalkan jejak basah hingga bibir Zoya terlihat mengkilap terkena remang-remang lampu yang menyala pendar di kamarnya.


Zoya membuka sedikit bibirnya agar memudahkan Zaky semakin memperdalam ciumannya. Zoya yang awalnya hanya pasif sekarang mulai aktif membalas ciuman itu dan kepalanya bergerak kesana-kemari berlawanan dengan gerakan kepala Zaky.


Dan entah sejak kapan, Zaky telah berhasil menanggalkan semua kain yang melekat di tubuh Zoya dan tubuhnya. Hanya menyisakan kain penutup berbentuk persegi yang menutup pusat tubuh keduanya.


Zaky sedikit mundur beberapa langkah untuk memberi jarak. Dan entah mengapa, Zoya merasa tidak terima saat tubuh kekar suaminya menjauh. Zaky berkacak pinggang dengan mata yang fokus tertuju pada ciptaan Tuhan di depannya.


"Mas, aku malu!" rengek Zoya bergerak tak nyaman lalu menutupi bagian tubuh senstifnya. Zaky yang tidak terima langsung mendekat dan membawa tubuh Zoya menuju ranjang.


Dengan nafas yang menderu, Zaky menindih tubuh Zoya namun, tidak sepenuhnya menindih. Bibirnya kembali menciumi bibir istrinya lebih dalam dan lebih panas.


Udara malam yang dingin dilengkapi AC seakan tidak berpengaruh apa-apa, tubuh keduanya sudah penuh akan peluh.


"Bismillahil 'aliyyil 'azhim. Allahummaj'alhu dzurriyyatan thayyibah in qaddarta an takhruja min shulbi. Allahumma jannibnis syaithana wa jannibis syaithana ma razaqtani."


Setelah Zaky berdoa dan diikuti oleh Zoya, miliknya di bawah sana sedang mencoba menerobos masuk untuk merasakan hangat dan pekat pada milik Zoya. Tanpa waktu lama, milik Zaky sudah tertanam penuh di dalam milik Zoya.


"Ah Mas ...."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


wkwkwk.. aku potong dulu ya..


nggak baik untuk otak polosku🤭

__ADS_1


kaburrr🏃🏃


__ADS_2