
Ghaida sudah sampai di toko bunga yang menyediakan lowongan kerja. Dahi Ghaida mengernyit karena dirinya tentu sangat mengenal siapa pemilik toko bunga di depannya.
"Bukannya ini toko bunga mbak Zoya ya? Apa aku salah alamat?" monolog Ghaida lalu memastikan sekali lagi bahwa alamat yang dia tuju sudah benar. "Benar kok. Aku coba tanya saja kali begitu," monolognya lagi lalu berjalan memasuki toko.
"Assalamualaikum." sapa Ghaida untuk pertama kali kalinya saat bilah pintu berhasil dirinya geser. "Waalikumsalam." jawab seseorang yang saat ini sedang berada di balik meja kasir. "Ghaida?" ucap Zoya terkejut. Dia tidak mengerti apa maksud kedatangan Ghaida ke toko bunganya.
Karena Yasa sudah resign, untuk sementara waktu Zoya yang akan mengurus toko bunganya. "Ayo sini! Duduk dulu," sambut Zoya lalu mempersilahkan Ghaida untuk duduk di kursi yang tersedia.
"Iya, Mbak. Terima kasih." ucap Ghaida sungkan. "Ayo sini! Duduk aja nggak papa kok. Nggak enak banget kalau sambil berdiri," ajak Zoya lagi yang kini sudah duduk di salah satu.
Akhirnya, Ghaida ikut duduk. "Ada apa, Da?" tanya Zoya perhatian. Ghaida tersenyum. "Aku tadi pagi lihat postingan di sosial media yang mengatakan bahwa toko bunga Mbak Zoya sedang membutuhkan karyawan baru. Aku juga sudah kirim CV-nya ke email, Mbak." ucap Ghaida langsung pada intinya.
Zoya menggerjap. "Jadi ... Kamu orang yang melamar kerja tadi pagi?" tanya Zoya terkejut namun, Zoya berusaha bersikap biasa saja agar tidak menyinggung perasaan Ghaida. Ghaida mengangguk. "Iya, Mbak. Aku lagi butuh kerjaan. Kalau Mbak Zoya sudi menerima, aku akan bekerja dengan giat, Mbak," jawab Ghaida meyakinkan.
Zoya terkekeh. "Bukan begitu maksudku. Memangnya, suami kamu mengizinkan?" tanya Zoya lagi. Ghaida mengangguk. "Mas Adis sudah setuju sat aku bilang tadi kok, Mbak. Makanya aku langsung datang untuk interview," jawab Ghaida meyakinkan.
"Ya sudah. Mulai sekarang, kamu diterima bekerja disini. Nggak perlu pakai interview kalau sama kamu," Zoya tergelak renyah. "Alhamdulillah, Mbak. Makasih banget ya," jawab Ghaida dengan binar dimatanya.
"Tapi, kalau aku kerjanya mulai besok, boleh kan, Mbak?"tanya Ghaida lagi. Zoya mengangguk menyetujui. "Boleh. Kan kamu butuh persiapan juga," jawab Zoya tersenyum lebar.
Setelah mengobrol cukup lama dengan Zoya, akhirnya Ghaida pamit pulang. Dia harus menjemput Yusuf ke sekolah. Setelah tiga puluh menit berada di taksi, akhirnya Ghaida sampai di pintu gerbang sekolah Yusuf.
__ADS_1
Sudah ada beberapa anak yang keluar dari gedung sekolah dengan membawa serta tas sekolahnya. Dan beberapa detik kemudian, Ghaida melihat Yusuf yang sedang berjalan ke arahnya bersama teman-teman sekolahnya.
Ghaida tersenyum dan menyambutnya. "Bagaimana sekolah hari ini? Lancar kan?" tanya Ghaida perhatian. "Lancar kok, Ma. Tadi, Yusuf ulangan dan dapat nilai 9, Ma," beritahu Yusuf menceritakan kegiatannya.
"Wah! Yusuf hebat. Lebih semangat lagi sekolahnya ya. Kan sebentar lagi Yusuf mau ujian sekolah. Yusuf sudah besar loh. Sudah kelas enam," ucap Ghaida memberi semangat. Yusuf menggumamkan kata iya dan mengikuti langkah mamanya. "Kita langsung pulang, Ma?" tanya Yusuf mendongak, menatap wanita yang telah melahirkannya. "Iya. Atau Yusuf mau mampir kemana dulu?" tanya Ghaida perhatian.
Yusuf bergumam cukup lama sebelum menjawabnya. "Beli es tebu dulu dong, Ma. Yusuf ingin makan itu," ucap Yusuf dengan wajah memelas. Ghaida tersenyum dan mengacak rambut Yusuf gemas. "Baiklah, kita pergi beli dulu ya,"
..................
Malam harinya, sepi kembali menemani hari Ghaida. Dia selalu kesepian saat malam hari karena tidak seorang pun menemani tidurnya.
Ghaida menyandarkan punggungnya pada headboard dan menjulurkan kedua kakinya agar lebih rileks. Sekuat tenaga Ghaida bersikap tangguh, tetap saja sisi rapuhnya datang. Seperti saat ini, dia sedang merindukan ayah dan ibunya yang sudah jelas-jelas tidak mengakui dirinya lagi semenjak bercerai dengan Zada dulu.
Ghaida sudah di anggap tidak suci lagi karena memiliki anak di luar nikah. Ini semua salah dirinya sendiri. Bersyukur, saat ini Zoya telah memaafkannya. Tapi, sesal tidak pernah pergi ketika Zada meninggalkan dunia untuk selamanya. Ghaida menyesal karena disaat nafas terakhirnya, Zoya dan Zada tidak lagi bersatu.
Dirinya memang sumber kehancuran.
Lamunan Ghaida tiba-tiba tersentak saat pintu kamarnya terbuka dari luar. Bergegas Ghaida menghapus sisa air matanya dan menoleh. Ada Adis, suaminya sedang berdiri di ambang pintu. "Ghaida?" panggil Adis yang membuat Ghaida kebingungan.
"Kenapa, Mas? Kamu lapar? Mau aku buatkan makanan?" tanya Ghaida lalu kakinya turun dari ranjang dan menjuntai. "Masuk, Mas!" titah Ghaida lembut. Adis menutup pintu dan berjalan mendekat. "Sini, Mas." ucap Ghaida lalu menepuk tempat kosong di sebelahnya.
__ADS_1
Ghaida merasakan tubuhnya bergetar saat suaminya sudah duduk di sampingnya. "Kamu ... Kapan potong rambut? Kok aku nggak pernah tahu?" tanya Adis yang kini sedang menelisik penampilan Ghaida yang terlihat berbeda dan itu ... Cantik.
Ghaida memegang rambut sebahunya dan tersenyum. "Sudah satu minggu aku potong rambut, Mas. Kan Mas Adis nggak pernah tidur disini. Sedangkan aku, buka kerudung pas mau tidur saja," jelas Ghaida sama sekali tidak bermaksud menyinggung namun, Adis justru merasa tersinggung. Tapi, itulah kebenarannya. Dirinya jarang tidur bersama Ghaida. Bukan! Bukan jarang tapi hampir tidak pernah.
Adis bergumam cukup lama dan Ghaida menunggu kata apa yang akan keluar. "Ghaida?" ucap Adis lagi setelah cukup lama. "Kenapa, Mas?" tanya Ghaida sengaja mengulas senyum manisnya. Adis menatap Ghaida lamat-lamat dan berkata. "Boleh aku tidur disini malam ini?" tanyanya ragu.
Ghaida mengerjap bingung dan masih terdiam hingga membuat Adis melanjutkan kalimatnya lagi. "Hanya tidur, aku janji. Aku tidak akan menyentuhmu jika tanpa izinmu," mohon Adis dengan wajah memelasnya.
Ghaida tersenyum. "Baiklah, Mas. Kamu boleh tidur disini malam ini," ucap Ghaida pada akhirnya hingga senyum berhasil terbit dari bibir Adis. "Terima kasih, Ghaida. Aku janji nggak akan terlalu dekat," ucap Adis lagi yang kini sudah mengambil posisi berbaring di sebelah kiri, sedang Ghaida di sebelah kanan.
Ghaida sibuk merentangkan selimut untuk menyelimuti tubuhnya dan sang suami. Setelah keduanya berada dalam selimut yang sama, tangan Ghaida bergerak memeluk perut Adis, kepalanya dia sandarkan di dada bidang suaminya. "Dekat-dekat juga boleh kok, Mas. Kaya gini misalnya," ucap Ghaida mendongak, dan tersenyum manis.
Setelahnya, Ghaida bisa merasakan dentuman jantung yang bertalu-talu milik Adis. Detakan itu terdengar keras di telinganya. Ghaida mengulum senyum. "Kamu deg-degan ya, Mas? Kenapa?" tanya Ghaida sengaja menggoda.
Adis hanya bisa membeku di tempat. 'Rasa apa ini? Mengapa rasanya indah sekali,' batin Adis bertanya-tanya. "Sudah. Kamu tenang saja, Mas. Aku nggak gigit kok," Ghaida terkikik geli lalu menutup matanya untuk meraih alam mimpi.
Malam ini, Ghaida sangat bahagia karena Adis mau datang lagi ke kamarnya setelah sekian lama. Ghaida berharap, ini akan menjadi titik awal dari cinta Adis yang bersemi lagi untuknya. Semoga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...kasih like dan komennya ya😍...
__ADS_1
...Jangan kendor......