
Hai hai...
Aku kemarin mau bilang sama kalian kalau ini sudah masuk sesi bonchap tapi, lupa hehe.
Jadi mulai bab ini, akan mengisahkan tentang perjuangan Ghaida yang sudah bertaubat. jangan lupa tekan like dan komennya ya❤️
Selamat membaca ya:)
.
.
.
Malam hari di kediaman Adiswara.
Setelah menidurkan Yusuf, Ghaida bergegas menuju kamarnya. Yang pasti, bukan kamar utama dimana ada istri muda suaminya, Arumi dan Adis. Ghaida menghela nafasnya kasar saat dirinya melewati pintu kamar utama. Dia berhenti sejenak dan menatap dalam pintu tersebut menyiratkan kerinduannya pada sang suami.
Malam ini, Ghaida harus tidur bertemankan sepi seperti hari-hari yang lalu. "Mas ... Aku rindu ...." gumam Ghaida dengan mata berkaca-kaca. Apalagi, kini tawa suaminya terdengar menggema karena kamar utama tidak di pasang pengedap suara.
Ghaida seakan ingin membuka pintu tersebut dan ikut bergabung bersama suaminya untuk tertawa bersama. Ghaida ingin sekali melewati masa-masa terberatnya di temani sang suami. Namun, hal itu hanya tinggal harap dan tidak mungkin terjadi lagi.
Ghaida menghela nafasnya dan kembali melangkah menuju kamarnya.
Ceklek.
__ADS_1
Setelah pintu terbuka, keadaan di dalamnya masih gelap gulita. Sudut hati Ghaida semakin merasakan kesepian saat sudah tidak lagi terdengar suara apapun. Setelah menutup pintu, langkah kaki Ghaida mengayun pelan memasuki kamarnya yang dibiarkan tetap gelap.
Dia memilih menyalakan lampu tidur di sebelah ranjang untuk memberikan sedikit pencahayaan yang pendar. Itu lebih baik untuk suasana hatinya.
Ghaida duduk di tepi ranjang dengan kaki yang tetap dibiarkan menjuntai ke lantai. Dia melepas kerudung yang sejak tadi pagi selalu menutup tubuh bagian atasnya dan meletakkannya asal di atas ranjang.
Dia melepaskan karet yang mengikat rambutnya erat, dan membagikan rambutnya terurai. Ghaida kembali merenung, mengingat kenangan manis bersama suaminya yang berputar di otaknya.
Pertemuan awal dengan Adis, saat Adis membela dirinya mati-matian, saat Adis selalu ada untuk Yusuf, serta semua kebaikan yang Adis lakukan padanya dan Yusuf. Ghaida selalu melakukan itu agar dirinya selalu bisa bertahan bersama suaminya yang mungkin, telah bahagia bersama Arumi.
"Mas Adis ... Andai kamu tahu kalau aku begitu merindukanmu. Aku ingin malam ini kamu ada disini. Aku ingin menceritakan semua yang aku lewati tanpamu," monolog Ghaida dengan air mata yang mulai menetes deras.
Suara tangis Ghaida semakin sesenggukan sambil sesekali tangannya menyeka air matanya di pipi. Hancur. Satu kata yang mungkin bisa mewakili perasaanya saat ini.
Mencoba meluapkan semua keresahan dan kesedihan hatinya. "Aku begitu kesepian, Mas. Saat di keramaian pun, aku selalu merasa kesepian. Karens sumber keramaianku adalah kamu," Sesak sekali rasanya di nomor duakan. Bolehkan Ghaida menyerah saja?
Namun, mengingat kejadian beberapa jam yang lalu membuat bibir Ghaida mengulas senyum tipis. Kejadian ketika Adis mencium keningnya dan mengucapkan terima kasih padanya. Hati Ghaida mendadak hangat dan seperti ... Ada secercah harapan untuk bisa menggapai hati suaminya kembali.
"Bismillahirrahmanirrahim. Aku pasti bisa merebut cintaku lagi. Aku percaya masih ada cinta di hati mas Adis untukku. Aku harus berusaha lebih keras lagi mulai besok," monolog Ghaida lalu menghapus air matanya.
Dia mulai membaringkan tubuhnya dan menyelimuti dengan selimut tebal. Tidak berapa lama, lelap berhasil membawanya ke alam mimpi.
..................
Pagi kembali menjelang. Ghaida sudah bangun pukul tiga pagi untuk melaksanakan shalat sepertiga malamnya. Ghaida sudah bertekad, jika ingin merebut hati seorang hamba, maka Ghaida harus meminta pada PemilikNya, yaitu Allah SWT.
__ADS_1
Jika perlakuan dan sikap manisnya tak mampu meluluhkan, harapan dan doa akan selalu Ghaida langitkan.
Cukup lama Ghaida larut dalam doa panjangnya dan azan subuh mulai terdengar dari masjid. Ghaida mengakhiri doanya dan segera melaksanakan shalat subuhnya.
Setelah jam menunjukan pukul setengah enam, Ghaida keluar kamar untuk memasak sarapan. Hari baru telah di mulai dan Ghaida percaya, ada harapan baru untuknya dan Yusuf.
Saat melewati depan kamar suaminya, Ghaida melirik sekilas dan bisa melihat apa yang sedang di lakukan penghuninya karena pintunya sedikit terbuka. "Mas Adis spertinya terlambat shalat subuh," monolog Ghaida saat melihat Adis sedang melakukan qunut.
Sudah bisa Ghaida duga, bahwa Adis sedang melaksanakan salat subuh. Saat kakinya akan kembali melangkah, matanya menangkap sosok Arumi yang masih tertidur pulas di kssur empuknya. "Astaghfirullah." Hanya kata itu yang terucap dan Ghaida tidak peduli lagi.
Dia memilih bergegas ke dapur karena suaminya sebentar lagi akan turun. Dia membuat roti bakar yang di bakar di atas teflon lalu diberi selai cokelat. Sebelum dibakar, Ghaida menambahkan telur sebagai baluran roti agar roti bakarnya semakin enak. Dan roti bakar seperti ini merupakan makanan kesukaan suaminya.
Ghaida tersenyum mengingat itu. "Mama? Mama bikin roti bakar ya? Yusuf mau ya, Ma." ucap Yusuf yang entah sudah sejak kapan berapa di belakangnya. Ghaida dekat berjenggit kaget karena suara Yusuf terdengar tiba-tiba.
"Astaghfirullah, Yusuf ... Mama kaget. Suara kamu tiba-tiba muncul begitu saja," kesal Ghaida sambil memegangi dadanya dan melotot pada anaknya. Yusuf justru tergelak dan berjalan menuju meja makan. "Yusuf sudah shalat subuh?" tanya Ghaida tanpa mengalihkan perhatiannya pada roti yang sedang dia bakar di atas teflon.
"Sudah dong, Ma. Yusuf langsung bangun saat suara azan subuh terdengar," jawba Yusuf merasa bangga karena sudah bisa bangun sendiri tanpa harus dibangunkan oleh mamanya.
Ghaida tersenyum dan mengacungkan jempolnya. "MasyaAllah ... Tingkatkan ya, Suf. Bantu doakan mama supaya kita bisa sama-sama ke surga," jawab Ghaida penuh haru. Walau Yusuf anak yang tidak memiliki nasab, tapi Yusuf sudah menunjukan ketaatannya pada Allah dari usia dini.
Ghaida sungguh merasa sangat bersyukur karena dititipi anak seperti Yusuf.
Tanpa Ghaida dan Yusuf ketahui, Adis mendengar semua percakapan ibu dan anak itu. Hatinya tersentuh melihat anak dan ibu itu saling taat dan mengingatkan satu sama lain.
"Assalamualaikum semua ... Kenapa nggak ada yang bangunin Om? Om tadi kesiangan shalat subuhnya," ucap Adis yang kini ikut bergabung bersama mereka. Ghaida mengerjap-ngerjapkan matanya bingung. 'Apa doaku langsung diijabah?' batin Ghaida bertanya-tanya.
__ADS_1