Surga di atas lara

Surga di atas lara
Bab 104. Extra chapter


__ADS_3

Dua tahun kemudian.


Dua tahun setelah kepergian Ghaida, hidup Adis dan Arumi tidak selalu baik-baik saja. Setahun yang lalu, perusahaan Adis mengalami collapse karena banyaknya pegawai yang terlibat korupsi.


Adis sangat terpuruk saat itu. Apalagi, orangtua Arumi begitu menuntut untuk memberikan kehidupan yang layak untuk anak dan cucunya. Akhirnya, karena Adis masih belum bisa memulihkan perusahaan, orangtua Arumi meminta Adis segera menceraikan istrinya dan berniat untuk menikahkan Arumi kembali dengan orang kaya.


Masa itu tidaklah mudah untuk Adis agar Arumi tetap bertahan di sisinya. Banyak para lelaki yang datang pada dan menawarkan cinta juga harta. Arumi hampir goyah saat itu. Tapi, Yhara berhasil menyadarkan karena semua laki-laki mungkin bisa menerima dirinya. Namun, tidak dengan Yhara, anaknya.


Akhirnya, keduanya berjuang bersama menghadapi bahtera rumah tangganya. Hingga tepat hari ini, ada perusahaan yang memberikan kepercayaan pada Adis untuk mengurusi semua proyek villa di perbukitan daerah Kota Kembang.


Walau harus melakukan perjalanan jauh, apapun akan Adis lakukan demi keluarganya. Adis tidak ingin kehilangan seorang istri untuk kedua kali. Tepat pukul empat sore, akhirnya Adis, Arumi, dan Yhara sampai di penginapan.


Itu tidak seperti penginapan hotel bintang lima, melainkan hanya homestay sederhana di daerah perbukitan. Tidak ada pilihan lain, uang untuk menyewa kamar hotel sepetinya akan lebih mahal dan Adis sudah tidak sekaya itu.


Dia harus pandai mengatur keuangan dan membelanjakannya sesuai kebutuhan. Apalagi, Yhara saat ini sedang dalam masa pertumbuhan dan butuh nutrisi yang baik dari makanan yang dia makan.


"Nggak papa 'kan kalau kita menginap di tempat seperti ini, Rum?" tanya Adis pada Arumi sesaat setelah keduanya sampai dan merebah di kasur. Arumi tersenyum menanggapi sambil memperhatikan Yhara yang saat ini sedang berlarian dengan senangnya.


"Nggak papa kok, Mas. Aku paham, kita memang harus berhemat," jawabnya berlapang dada. Arumi yang sekarang sudah sangat berbeda dengan yang dulu. Arumi yang lahir dari sendok emas kini rela makan dengan sendok plastik demi bisa bersama suami dan anaknya.


Ya, mungkin ini definisi cinta apa adanya. Bagi Arumi, selagi Adis masih mau bekerja dan berusaha untuk menghidupi dirinya juga Yhara, itu sudah lebih dari cukup. Satu tahun hidup terpontang-panting bersama suami, menyadarkan Arumi bahwa Adis sudah benar-benar berubah.


Mungkin, karena pernah kehilangan menjadikan Adis lebih menyayangi apa yang dia punya. "Yhara? Kita bermain di luar yuk? Sepertinya, pemandangannya indah sekali," ajak Adis kemudian membawa Yhara dalam gendongannya.

__ADS_1


Arumi tersenyum kemudian mengikuti suaminya untuk keluar dari ruangan. "Kita mau jalan-jalan kemana, Mas?" tanya Arumi antusias. Adis mengeluarkan gumaman panjang, seakan sedang berpikir tempat apa yang akan dirinya kunjungi.


"Kata pak Hartono, disini ada rumah makan yang rasanya seperti di restoran bintang lima dengan harga bagai di warteg. Karena sebentar lagi jam makan malam, bagaimana kalau kita kesana saja?" tanya Adis meminta pendapat.


Arumi mengangguk dengan senyum mengembang, kapan lagi dirinya bisa merasakan makan malam bersama sang suami di suatu kedai makan? Hal ini sudah lama sekali tidak pernah Arumi rasakan semenjak perusahaan sang suami mengalami kebangkrutan.


"Aku mau banget, Mas."


Akhirnya, mereka berangkat menuju rumah makan tersebut dengan mobil.


.


.


Bukan tanpa sebab, Ghaida memilih mencari koki yang belum berpengalaman agar kesempatan bekerja bagi pemula lebih besar. Sangat disayangkan jika sudah bertahun-tahun bersekolah namun, sering sekali ditolak saat melamar kerja karena alasan masih pemula dan belum mempunyai pengalaman.


Bahkan, hampir semua karyawan Ghaida hanya lulusan SMP. Bagi Ghaida, sekolah tinggi bukanlah patokan seseorang bisa bekerja dengan baik. Syarat utama untuk bisa masuk menjadi karyawannya adalah, bisa bekerja sesuai kemampuan yang diinginkan dan konsisten. Karena bagi Ghaida rasanya percuma, ijazah menumpuk sampai gelar sarjana, tetapi tidak bisa bekerja sesuai yang Ghaida perintahkan.


Apapun ijazahnya, asal bisa bekerja sesuai bidang, Ghaida akan menerima tanpa pandang bulu. "Bagus. Saya suka cara kerja kamu. Kamu bisa bekerja mulai hari ini juga. Selamat bergabung di rumah makan kami," ucap Ghaida merasa puas dengan sosok gadis di depannya yang umurnya masih menginjak angka 23.


"Terima kasih, Bu. Saya akan bekerja dengan giat dab konsisten," jawab sang gadis penuh binar di matanya.


Ya, dua tahun yang Ghaida lewati telah menjadikannya sebagai wanita mandiri dan sukses. Semua itu berkat dukungan orangtua dan anaknya. Semua usahanya untuk bangkit benar-benar membuahkan hasil yang memuaskan. Sungguh, Ghaida merasa bersyukur karena Tuhan selalu membantunya melewati semua masa tersulitnya.

__ADS_1


Setelah berpamitan pada sang Manager, Ghaida keluar dari rumah makannya. Namun, saat langkahnya baru keluar dari dapur, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang menarik gamis yang dikenakan.


Ghaida menunduk dan tersenyum ketika mendapati seorang anak perempuan sedang menatapnya dengan puppy eyes. Deg. Jantung Ghaida seperti mencelos saat mata bulat milik anak tersebut menatapnya. 'Mengapa mata bulat itu mengingatkanku pada seseorang?' batin Ghaida.


"Ada apa sayang? Apa kamu butuh bantuan?" tanya Ghaida sambil berjongkok untuk menyamai tinggi sang anak. Gadis kecil tersebut mengangguk. "Atu mayu cuci tanan. Toyong Aya, Ante," ucap gadis kecil tersebut dengan suara khas anak kecil yang cadel, membuat Ghaida seketika gemas dibuatnya.


"Baiklah, akan Tante bantu ya." Kemudian, Ghaida membawa gadis tersebut dalam gendongan dan mencucikan tangannya lembut. Saat sudah selesai dan Ghaida ingin menurunkan anak kecil tersebut, tiba-tiba ada suara yang begitu familiar memanggil nama sang anak.


"Yhara!"


Deg.


Tubuh Ghaida membeku di tempat, berharap pendengaranya salah. Ketika sadar bahwa nama yang disebutkan tidak asing baginya, Ghaida menatap mata bulat gadis kecil tersebut. "Yhara?" gimana Ghaida yang masih bisa didengar gadis tersebut.


Kaki Ghaida seketika lemas tak berdaya. Ya, gadis tersebut adalah Yhara. Harusnya Ghaida menyadari sejak tadi karena wajah Yhara sangat mirip dengan Adis.


"Yhara? Kenapa nggak bilang sama Papa kalau kamu mau cuci tangan?" ucap suara tersebut yang membuat Ghaida menurunkan Yhara dari gendongannya. Posisi pemilik suara tersebut sedang berdiri berada di belakangnya.


"Papa, ini Ante antik, Aya cuci anan," ucap Yhara antusias seakan sedang memberitahukan bahwa Ghaida sudah membantunya mencuci tangan.


Adis segera menggendong Yhara. "Mbak, terima kasih karena sudah membantu anak saya," ucap Adis berterima kasih. Kemudian, dia akan berbalik menuju meja tempat istrinya berada. Namun, hal itu segera diurungkan saat wanita yang sudah membantu Yhara bersuara.


"Sama-sama."

__ADS_1


Adis membeku di tempat, suara itu adalah suara yang dua tahun lalu mengatakan ingin meninggalkannya. Pemilik suara itu juga yang sudah meninggalkan secarik surat tulisan tangan dan surat dari pengadilan agama.


__ADS_2