Surga di atas lara

Surga di atas lara
Bab 69. Sadar diri


__ADS_3

Ghaida menatap Yusuf, anaknya yang sedang tertawa bahagia kala baby sisternya melontarkan lawakannya. Ghaida tersenyum sendu, hatinya menghangat karena senyum dan tawa Yusuf, adalah penyemangatnya.


Ghaida pikir, Adis adalah orang yang tepat untuk pasangan hidupnya. Walau Ghaida begitu takjub dengan kesungguhan laki-laki itu untuk membiayai semua pengobatan Yusuf namun, ketakjuban itu segera sirna saat dua tahun yang lalu Adis mengatakan bahwa satu istri kurang baginya.


Sakit hati tentu Ghaida merasakannya namun, Ghaida berpikir bahwa semua memang balasan atas semua perbuatannya.


Ghaida memang banyak di untungkan salah pernikahan ini, seperti nama baiknys yang telah kembali, biaya hidup yang di tanggung oleh Adis, serta perhatian Adis pada Yusuf yang sama sekali tidak berubah walau sudah mempunyai istri lagi.


Ghaida menghela nafasnya lelah, tangannya bergerak untuk menghapus jejak basah di pipinya. "Jadi, begini rasanya di madu dan di abaikan?" monolog Ghaida miris.


"Akhirnya aku merasakan apa yang mbak Zoya rasakan. Bahkan, aku mengalami kesakitan yang lebih parah lagi," sesal Ghaida. Tapi, Ghaida harus menerima jalan hidup yang sudah di tentukan oleh Allah. Karena jalan hidupnya yang sekarang, pasti tidak terlepas dari perbuatannya di masa lalu.


"Mama? Mama kok nangis? Jangan nangis, Ma ... Ada Yusuf yang akan selalu bersama Mama," ucapan itu menyentak lamunan Ghaida. Secepat kilat Ghaida mengusap air matanya dan mengukir senyumnya seperti biasa.


"Mama nggak nangis kok, Suf ... Mama cuma kelilipan tadi," jawab Ghaida berbohong dan menghindari bersitatap dengan mata bulat dan tatapan polos dari anaknya. "Itu ada air mata di pipi mama tadi," ucap Yusuf lalu menggerakkan roda di kursinya aagr lebih dekat lagi dengan sang mama.


"Tuh kan, mata mama merah. Mama tenang aja, aku akan baik-baik dan sehat lagi seperti biasa," ucap Yusuf menenangkan seolah penyebab mamanya menangis karena dirinya.


Tanpa disadari, Ghaida menghela nafasnya lega. Ghaida kira Yusuf tahu bahwa dirinya sedang menangisi nasib buruknya. "Iya, Mama yakin kamu pasti bisa sehat lagi,"

__ADS_1


Saat bibirnya akan terbuka untuk berbicara lagi, tiba-tiba harus mengatup lagi karena melihat pemandangan yang tidak biasa. Seseorang yang sangat dia kenali sedang berjalan tergesa dan penuh khawatir. Dia pak Rama. Kemudian pandangan Ghaida beralih pada brankar dimana bu Maya terbaring pingsan disana. "Itu bukannya pak Rama sama Bu Maya ya? Mereka ada disini juga? Lalu, apa yang terjadi dengan Bu Maya?" gumam Ghaida yang berhasil mencetak kerutan di dahi Yusuf.


"Mama bilang apa, Ma? Apa mama mengatakan sesuatu?" tanya Yusuf heran. Ghaida segera menggeleng. "Enggak kok, Mama hanya merasa ... Melihat seseorang yang mama kenal," jawab Ghaida enggan menjelaskan apa yang dia lihat.


"Yusuf sekarang tidur siang dulu ya sama Mbak ke kamar? Biar cepat pulih dan bisa main ke mall lagi," bujuk Ghaida lembut yang sebenarnya bertujuan agar dirinya bisa menemui dua orang yang sudah menjadi mantan mertuanya.


"Iya, Yusuf ... Yusuf istirahat dulu ya," ucap baby sister ikut membujuk Yusuf. "Baiklah, Ma ... Yusuf akan pergi tidur dan Yusuf mau, setelah Yusuf bangun nanti, ada tahu bulat untuk Yusuf makan. Mama kan sudah janji mau membelikan Yusuf tahu bulat," ucap Yusuf dengan nada merajuknya.


Ghaida terkekeh. "Iya, setelah ini mama mau keluar untuk mencari tahu bulat khusus untuk Yusuf!" seru Ghaida girang hingga membuat Yusuf bersorak-sorai.


Selepas kepergian anak dan baby sister Yusuf, Ghaida berjalan ke ruangan dimana tadi dia melihat bu Maya dan pak Rama menghilang.


Akhirnya, Ghaida mencoba memberanikan diri untuk mengetuk pintu. Ghaida bisa melihat pak Rama yang menoleh ke pintu dengan heran. Dia berjalan mendekati pintu untuk melihat siapa yang datang.


Setelah pintu terbuka, pak Rama hanya terdiam dengan pikirannya. "Ghaida?" lirih pak Rama tidak menyangka bahwa dirinya akan di pertemukan dengan seseorang di masa lalunya. "Assalamualaikum, Pak ... Apa kabar? Aku tadi nggak sengaja lihat Bu Maya yang dibawa menggunakan brankar, apa beliau baik-baik saja?" tanya Ghaida menjelaskan panjang lebar.


"Walaaikumsalam. Seperti yang kamu lihat ... Dia drop ...." Pak Rama menjadi canggung sehingga hanya menjawab seadanya. "Boleh aku menjenguk bu Maya, Pak?" tanya Ghaida tidak berharap banyak setelah apa yang sudah dia lakukan di masa lalu pada keluarga itu.


Pak Rama terdiam, tampak ragu dengan permintaan Ghaida sehingga, Ghaida akhirnya membuat mulutnya lagi. "Kalau Bu maya lagi istirahat, aku bisa datang lain kali kok, Pak. Nggak papa," sambung Ghaida merasa rendah diri.

__ADS_1


Pak Rama menghembuskan nafasnya kasar. "Baiklah ... Silahkan masuk dan jangan terlalu berisik," ucap pak Rama pada akhirnya dan membuka pintu lebar-lebar.


"Kalau boleh tahu, Bu Maya ini sakit apa, Pak? Kok wajahnya pucat sekali," tanya Ghaida setengah berbisik takut menganggu tidur lelap bu Maya. Pak Rama terdiam, bingung harus menjawab apa. "Cuma sakit biasa ... Terlalu kecapean," jawabnya singkat.


Terlihat bu Maya melakukan pergerakan pada telapak tangannya. Pak Rama tersenyum bahwa ini pertanda istrinya telah siuman. Bu Maya terliat memicing dan memegangi kepalanya yang mungkin saja pusing.


Ghaida tersenyum. "Assalamualaikum, Bu," sapanya saat tatap bu Maya bertemu dengan tatapnya. Bu Maya yang sedang mengumpulkan kesadarannya pun hanya bisa terdiam dengan wajah kebingungan saat melihat wanita yang begitu familiar di ingatannya.


"Ma ... Ghaida kesini untuk menjenguk Mama," ucap pak Rama yang mengerti akan kebingungan istrinya. "Ghaida?" gumam bu Maya masih belum mengingat siapa Ghaida.


Namun, sesaat setelah mengingat, bu Maya langsung melotot dengan dada yang naik turun. Ghaida! Mana dia? Beraninya dia datang ke hadapan kita!" ucap bu Maya dengan nada tinggi dan penuh amarah.


Pak Rama sangat terkejut dengan reaksi istrinya yang diluar dugaan. "Kamu ... Apa yang kamu lakukan disini?" tanya bu Maya dengan nada penuh penekanan dan menatap nyalang. Ghaida terkejut bukan main hingga jantungnya terasa mencelos mendengar suara bu Maya yang terdengar ... Seram.


"Istighfar, Ma ... Jangan begitu ... Jangan turuti kemauan setan ... Mama pasti bisa melawan," ucap pak Rama menenangkan, lembut. "Tidak, Pa ... Dia penyebab Zada meninggal. Dia yang menyebabkan Zada di penjara dan akhirnya Zada mengalami sakit! Itu semua karena dia ... Dia jahat ... Aku benci dengan dia ...." Bu Maya kembali menangis meraung-raung.


Tatap nyalang dan permusuhan selama runtuh karena air mata yang sudah membanjiri pipinya. Berbeda dengan Ghaida yang kini justru mematung, mencerna ucapan bu Maya. 'Mas Zada meninggal? Kapan?' pertanyaan itu seakan memenuhi isi kepala Ghaida.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


jangan kasih kendor 🤭🙃


__ADS_2