
Zoya sedang duduk gelisah di depan meja rias. Dia sudah selesai di rias sejak lima menit yang lalu. Zoya bisa merasakan telapak tangannya berkeringat karena gugup.
Walau demikian, tidak sedikitpun mengurangi kecantikan Zoya. Dia mengenakan gaun brokat berwarna putih tulang yang menjuntai hingga menutupi kakinya.
Ini bukan gaun yang lebar, melainkan gaun sederhana layaknya gamis hanya saja, di desain dengan payet dan terlihat elegan. Untuk penutup kepala, Zoya mengenakan pashmina syar'i berwarna senada dengan gaunnya. Di atas kepala itu di taruh mahkota kecil dan payet mutiara yang letaknya tepat di atas kening Zoya.
Cantik.
Satu kata yang bisa menggambarkan Zoya sekarang. "Nggak perlu gugup. Zaky sedang mengucapakan ijab Qabul di bawah," ucap bu Khadijah yang baru saja datang ke kamar Zoya.
Ya, ijab qobul itu dilaksanakan di rumah Zoya, tepatnya di toko bunga Zoya. Bukannya tenang, jantung Zoya malah semakin berdebar. Ini memang bukan pengalaman pertamanya. Tapi, rasa mendebarkan itu masih tetap sama bahkan, lebih mendebarkan daripada pernikahannya dulu.
Bu Khadijah memegang bahu Zoya lalu tersenyum hangat. "Zaky pasti takjub melihat kamu yang secantik ini," ucap bu Khadijah terharu. Zoya ikut tersenyum. "Terima kasih, Bu."
"Mbak Zoya, akadnya sudah selesai. Mas Zaky mengucapkannya dengan lantang dan lancar," seru Yasa yang memang bertugas di bidang informasi dalam pernikahan Zoya. "Wah, selamat ya, Mbak ... Akhirnya nggak jomblo lagi," ucap Yasa terkekeh pelan.
Ketegangan yang sejak tadi Zoya alami sedikit berkurang karena lawakan Yasa. "Terima kasih ya, Sa. Semoga kamu cepat bertemu jodohmu," jawab Zoya tersenyum hangat.
"Aku sih, maunya gitu ya, Mbak. Tapi apalah dayaku yang belum bertemu. Awas aja kalau jodohku nanti tetanggaku atau teman terdekatku, nanti aku jitak," ucap Yasa yang berhasil memecahkan suasana tegang yang sejak tadi menyelimuti.
Bu Khadijah dan Zoya sontak tergelak renyah. "Memangnya kenapa, Sa?" tanya Zoya penasaran. "Ya karena, aku sudah menunggu selama ini dan jauh-jauh aku mencari eh ... Malah orangnya deketan aja. Kan slebew ...." ucap Yasa yang pada akhir kalimat menirukan jargon dari selebgram yang viral di toktok.
"Yasa, kok lama banget sih ... Mbak Zoya sudah di tunggu di bawah. Apalagi pak polisi sudah gelisah menunggu pengantin wanitanya, takut-takut kabur," seru Reni dari arah pintu kesal.
Yasa menepuk jidatnya. "Aku lupa. Yuk, Bu, ajak mbak Zoya ke bawah," ucap Yasa ramah dan lembut. Bu Khadijah tersenyum dan mengangguk. Setelah itu, Reni dan Yasa mengapit Zoya menuju ruang akad di laksanakan.
"Ibu jalan di depan Zoya aja. Nggak sopan kalau ibu jalan di belakang aku," ucap Zoya menoleh pada seorang wanita yang kini sudah resmi menjadi ibu mertuanya. Bu Khadijah menurut dan berjalan lebih dulu menuju lantai bawah. "Kalau begitu, ibu turun dulu ya,"
....................
__ADS_1
“Saya terima nikah dan kawinnya Zoya Adhisty binti bapak Handoko dengan maskawin tersebut, tunai!”
Zaky mengucapkan kabul dengan satu tarikan nafas dan lantang. "Para saksi, Sah?" tanya penghulu pada semua tamu undangan yang hadir.
"SAH!"
Bagai paduan suara yang di komando, para tamu undangan serentak mengucapkan kata sah saat penghulu bertanya atas keabsahan pernikahan Zoya dan Zaky.
Setelah itu, penghulu membacakan doa setelah akad nikah yang di-amin-kan oleh tamu undangan tak terkecuali Zaky. Setelah itu, baru sang mempelai wanita di perbolehkan turun dan duduk bersanding bersama laki-laki yang sudah resmi menjadi suaminya.
"Ayo, mempelai wanita sudah di perbolehkan untuk turun dan duduk di samping mempelai pria," ucap penghulu mempersilahkan. Lalu Yasa yang bertugas di bidang informasi pun bergegas naik ke lantai dua.
Namun sudah sekitar sepuluh menit Yasa ke atas, Zoya tak kunjung datang bersamanya. Para tamu undangan semakin riuh sedang Zaky, dia sudah merasa was-was takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
"Reni, coba susul Yasa ke atas," perintah Zaky pada Reni yang duduk tidak jauh darinya. Reni mengangguk patuh dan bergegas naik ke lantai atas. Satu menit, dua menit, tiga menit. Akhirnya para tamu undangan bernafas lega melihat Zoya yang muncul dan sedang menuruni anak tangga.
"Mas, senyumnya udah dulu ya," bisik Zoya saat Zaky masih saja menatap dirinya dengan senyum dan tatapan lekat padahal, zoya sudah berhasil duduk di sebelahnya. Zaky segera tersadar dan para tamu undangan mulai melemparkan ledekan pada Zaky.
"Mas pengantin, memandang istrinya bisa di lanjutkan nanti malam? Sekarang waktunya mendoakan istri, Mas ya?" ledek pak penghulu mengulum senyumnya.
"Cie .. cie. Pak polisi terkagum-kagum nih,"
"Cie ... Nikah ...."
Begitulah kira-kira ledekan yang tercetus dari para tamu undangan. "Ehem, baiklah, Pak," ucap Zaky berdehem terlebih dahulu karena gugup.
"Ayo, sentuh ubun-ubun istrinya dan baca doa. Bisa kan, Mas?" Zaky mengangguk dan segera menaruh telapak tangannya di ubun-ubun Zoya.
"Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih."
__ADS_1
Artinya: ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya.
Tanpa terasa, air mata penuh haru menetes dari mata indah Zoya. Dia sangat bahagia bisa dicintai sedalam ini oleh orang yang tepat. Zoya tidak akan ragu lagi untuk membangun rumah tangga bersama Zaky.
Setelah itu, Zoya mencium punggung tangan Zaky lalu setelahnya, Zaky mencium kening Zoya cukup lama. "MasyaAllah, Zoya ... Kamu cantik sekali. Jika boleh, aku ingin makan kamu sekarang," bisik Zaky setelah menurunkan bibirnya dari kening Zoya.
Zoya melotot. "Issh, jangan bahas sekarang bisa nggak?" kesal Zoya dan mencebikkan bibirnya. Zaky terkekeh dan mencium pipi Zoya begitu saja tanpa memedulikan tamu undangan yang sedang mengarahkan kamera pada keduanya.
Apalagi, pak penghulu masih berada di hadapan mereka yang hanya bisa mengulum senyum dan geleng-geleng kepala. "Sepertinya, Mas pengantin sudah tidak sabar untuk belah duren,"
"HAHAHAHAHA."
Sontak saja semua tamu undangan tergelak renyah mendengar ucapan pak penghulu yang menggoda pengantin baru di depannya.
Wajah Zoya sudah merah merona karena salah tingkah. Sedangkan Zaky, dia bersikap biasa saja seolah kalimat pak penghulu tidak berpengaruh untuknya. Justru, Zaky malah melempar senyumnya pada para tamu undangan. Zoya yang melihat itu pun memicing. "Jangan ganjen deh, Mas!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Yeay ... akhirnya nikah juga ya..
sengaja double up buat kalian semua😘
tengkyu yang masih setia baca dan kasih dukungan disini...
terhura😭😘🌹
baca juga karya temanku yuk.
__ADS_1