Surga di atas lara

Surga di atas lara
Bab 53. GELAP


__ADS_3

Satu tahun kemudian.


"Ada yang mau kamu beli nggak, Mas? Sabun cuci muka kamu?" tanya Zoya sambil sibuk menatap deretan shampoo di hadapannya. "Boleh deh. Masih ada setengah sih, sebenarnya. Tapi buat stok nggak papa lah," jawab Zaky yang sejak tadi membantu Zoya mendorong troli belanjaan.


Keduanya sedang berada di super market untuk belanja bulanan. Karena usia kandungan Zoya yang sudah menginjak tujuh bulan, dia sudah kesusahan untuk berbelanja sendirian.


Jadi, Zaky turun tangan dan izin kepada atasan hanya untuk menemani Zoya berbelanja. Ya, usia pernikahan keduanya sudah satu tahun lamanya.


"Kamu pakai shampoo yang biasa atau mau coba ganti, Mas?" tanya Zoya menoleh sekilas pada suaminya. "Aku yang biasa aja, Sayang. Aku sudah cocok pakai itu,"


"Oke."


Butuh waktu setengah jam, Zoya akhirnya selesai memilih belanjaan dan berjalan ke kasir untuk membayar. "Berat nggak, Mas?" tanya Zoya meringis karena suaminya itu sejak tadi seperti kesusahan membawa troli saking banyaknya belanjaan yang Zoya beli.


Zaky tersenyum jumawa. "Tenang ... Semua bisa dia atasi," jawabnya. Zoya tersenyum dan geleng-geleng kepala. "Ya udah, aku jalan duluan ya," ucap Zoya lalu berjalan di depan Zaky.


Setelah mengantri, akhirnya tiba giliran keduanya untuk menotal barang belanjaan. "Mas, aku ke toilet sebentar ya? Kebelet pipis nih," ucap Zoya bergerak gelisah karena kantung kemihnya yang penuh.


"Kan aku sudah bilang, kalau mau pipis jangan di tahan. Kasihan anak kita, Sayang," ucap Zaky memarahi namun tetap mempertahankan suara lembutnya.


Zoya hanya menyengir kuda dan meninggalkan Zaky sendirian di kasir. Zoya masuk ke salah satu bilik untuk menuntaskan hajatnya. Tidak berapa lama, Zoya sudah keluar dan mencuci tangannya di wastafel.


Dia merapikan sedikit pahminanya lalu keluar untuk menemui suaminya. Saat dirinya sudah berada di luar toilet, tidak sengaja Zoya melihat Zada yang juga akan masuk ke toilet laki-laki.


Zoya pura-pura tidak melihat dan melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. "Zoya?" panggil suara yang diduga milik Zada. Zoya menoleh dan berusaha memasang senyumnya. "Ya?"


Kemudian, Zada berjalan mendekati Zoya. Dia tersenyum dan tatapannya beralih pada perut Zoya yang terlihat membuncit. Pikiran Zada tiba-tiba melayang pada delapan tahun silam dimana dirinya telah menyia-nyiakan anaknya dan Zoya.


"Kenapa, Mas?" tanya Zoya lagi karena dia tidak ingin berlama-lama berada disana. Zada tersentak dan tersenyum menatap Zoya. "Kamu sehat?" tanya Zada untuk pertama kalinya.

__ADS_1


Zoya hanya mengangguk dengan wajah datarnya. "Kamu ... Sedang hamil?" tanya Zada lagi, ragu-ragu. Zoya menatap perutnya yang membuncit dan sekali lagi mengangguk. "Sudah tujuh bulan," jawab Zoya singkat.


Zada tersenyum masam. "Selamat ya, semoga diberi kelancaran sampai melahirkan nanti," Zada memberikan doa tulusnya. Dia memang berharap Zoya dan bayinya akan baik-baik saja. Zada ikut bahagia jika Zoya bahagia.


Entah mengapa sudah satu tahun ini, Zada masih saja enggan berpaling pada Zoya. Di hatinya masih terukir nama Zoya dan tidak ada wanita mana pun yang mampu menggesernya.


Zoya mengangguk dan bersamaan dengan itu, Zaky muncul karena merasa Zoya sudah terlalu lama berada di toilet. "Zoya?" Merasa namanya di panggil, Zoya menoleh dan tersenyum ketika mendapati Zaky sedang menghampirinya.


Zaky yang melihat keberadaan Zada disana pun segera melingkarkan tangannya di pinggang Zoya, posesif. "Assalamualaikum, Pak Zada. Apa kabar?" tanya Zaky ramah.


Zada menatap tangan Zaky yang melingkar di pinggang Zoya. Rasanya, hati Zada merasakan nyeri dan ada rasa tidak terima. Namun, Zada cukup waras karena Zaky memang suaminya. "Waalaikumsalam. Alhamdulillah kabar baik," jawabnya tak kalah ramah.


"Kamu sudah selesai, Sayang? Kita pulang ya?" ajak Zaky menatap Zoya dan mengelus pipinya lembut. Zoya mengangguk dan tersenyum. "Sudah kok, Mas. Kalau begitu, kita pergi dulu ya, Mas?"


Tanpa menunggu jawaban Zada, Zaky dan Zoya berlalu meninggalkan Zada yang masih terpaku di tempatnya berdiri. "Kamu terlihat begitu bahagia, Zoya. Semoga begitu seterusnya," Zada menatap kepergian Zoya dan Zaky yang sudah menghilang di balik sekat toilet.


...........................


Zaky tersenyum, tangannya meraih jemari Zoya dan menaruhnya di atas pahanya. Zaky menggenggamnya erat seakan Zoya akan pergi jauh saja. "Kamu kenapa pegang tangannya erat banget sih, Mas?" tanya Zoya terkekeh.


"Tenang saja ... Aku nggak akan kemana-mana. Ana uhibbuka fillah, Mas," ucap Zoya sambil menyatukan telunjuk dan ibu jarinya membentuk hati (sarangheyo kaya opa-opa gitu loh). Zaky tersenyum lebar. "Ahabbakallazdii ahbabtani ilahuu," Setelah itu, Zaky mengecup punggung tangan Zoya cukup lama.


Zoya terkekeh. Zaky semakin hari semakin romantis saja, dan Zoya sangat menyukai itu. Tidak berapa lama, mobil telah masuk area rumah bu Khadijah. Zoya tersenyum senang dan turun tergesa-gesa. Zaky yang melihat itu langsung memekik histeris. Zoya seakan lupa bahwa dirinya tengah berbadan dua.


"Pelan-pelan, Sayang!"


Zoya mengabaikan ucapan suaminya namun, dia memelankan langkah memasuki rumah ibu mertuanya. "Assalamualaikum, Bu," sapa Zoya saat pertama kali masuk rumah dan melihat bu Khadijah sedang duduk di ruang tengah. "Eh, Zoya. Waalaikumsalam. Sama Zaky kan?" tanya bu Khadijah perhatian.


Zoya mengangguk dan menyalami tangan bu Khadijah. "Iya,Bu. Mas Zaky lagi parkir dulu. Bentar lagi paling masuk," Baru saja Zoya menutup mulutnya, Zaky muncul dan langsung menyalami tangan ibundanya.

__ADS_1


"Assalamualaikum. Ibu sehat kan?" tanya Zaky mengecup punggung tangan ibunya dengan takzim. "Waalaikumsalam, ibu sehat kok. Dan bertambah sehat lagi karena sebentar lagi ibu mau nimang cucu, "


Zaky dan Zoya tersenyum haru. "Doakan ya, Bu. Semoga Allah melancarkan semuanya," jawab Zoya lalu memeluk bu Khadijah hangat. Ketiganya berbincang akrab dengan topik yang mengalir begitu saja.


Tidak terasa, sudah hampir dua jam Zoya berada disana. Zaky dan Zoya akhirnya berpamitan karena hari semakin sore. "Zaky pulang dulu ya, Bu. Jaga kesehatan, jaga diri ibu baik-baik ya," ucap Zaky yang berhasil membuat dua wanita beda generasi itu mengernyit.


"Kamu kaya mau kemana saja. Kan kita ketemunya setiap hari," ucap bu Khadijah mencebikkan bibirnya kesal. Zaky terkekeh. Berbeda dengan Zoya yang perasaan jadi tidak enak, hatinya mendadak gelisah.


Setelah berpamitan, Zoya dan Zaky sudah berada di mobil. Zaky bergegas menjalankan mobilnya menuju apartemen tempat tinggalnya. "Kamu lagi nggak pengen apa-apa, Sayang? Sate? Bubur kacang hijau?" tanya Zaky perhatian.


Zoya menggeleng. "Nggak, Mas. Aku masih kenyang kok," jawab Zoya masih dengan perasaan yang ... Entahlah. Zaky kembali membawa jemari Zoya dalam genggamannya. Bahkan, Zaky mengecupi punggung tangan Zoya berulang kali dengan satu tangan memegang setir. Zoya menatap dalam diam sikap Zaky yang berbeda.


Namun, Zoya segera tersentak saat mobil yang di kendarainya berhenti di depan toko bunga. "Aku mau beli bunga dulu buat kamu. Bunga mawar merah," setelah itu, Zaky melepas seatbeltnya dan ancang-ancang ingin keluar.


Namun sebelum Zaky berhasil membuka pintu, orang-orang yang berada di luar seakan memberi kode dengan isyarat yang tidak keduanya maksud. "Kenapa mereka, Mas? Mas maksud nggak?" tanya Zoya heran.


Zaky menoleh ke belakang begitu juga Zoya. Dan betapa terkejutnya mereka saat ada mobil truk yang melaju kencang dan menabrak belakang mobil yang keduanya kendarai.


BRAKKKK!!!


Zoya merasa tubuhnya terjepit dengan tangannya yang masih bertaut dengan tangan Zaky, kepala Zoya terasa berputar. Samar-samar Zoya melihat wajah suaminya yang sudah berlumuran darah, setelahnya GELAP.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


aku kasih konflik lagi ya hehe.


namanya juga hidup, nggak mungkin mulus-mulus aja🤪


jangan lupa dukungannya ya😍🤩

__ADS_1


mampir juga kesini yuk.



__ADS_2