Surga di atas lara

Surga di atas lara
Bab 68. Suara hati seorang ibu


__ADS_3

Dua minggu telah berlalu, saatnya membuka perban di mata Zaky pun terjadi. Ada Zoya, bu Khadijah, dan Yasa yang sedang menunggu dengan was-was proses pelepasan perban di kelopak mata Zaky.


"Wah sepertinya, istri Pak Zaky sedang berdebar-debar," canda sang dokter untuk mengurangi ketegangan dan gelisah di ruangan tersebut. "Nggak cuma Zoya, saya juga lagi gelisah banget, Dok," sahut Yasa yang sejak tadi juga bergerak gelisah menunggu dokter membuka perban.


Zaky terkekeh pelan walau dirinya juga merasakan hal yang sama. Hanya ada satu kata yang menjadi harapannya, yaitu 'berhasil'.


"Oke, pemeriksaan selesai ... Saatnya kita buka perbannya dulu ya, Pak. Kita buka pelan-pelan dan setelah perban sudah terbuka semua, saya harap Pak Zaky tidak membuka mata sebelum saya intruksikan," ucap dokter yang mendapat anggukan dari Zaky.


Lalu setelahnya, dokter mulai menarik ujung perban dengan lembut dan hati-hati. Perban dengan panjang hampir satu meter itu akhirnya terlepas. Semua yang berada di ruangan menunggu dengan harap-harap cemas.


"Baiklah ... Sekarang buka mata Bapak pelan-pelan ya, Pak. Jangan terburu-buru," intruksi dokter pada Zaky. Menurut, Zaky membuka kelopak matanya perlahan dan saat matanya telah terbuka sepenuhnya, Zaky memicing karena cahaya yang masuk ke retinanya begitu silau. Walau silauan itu masih tampak buram.


Mata Zaky mengerjap-ngerjap untuk menetralkan cahaya yang masuk ke indera penglihatannya. "Bagaimana, Pak? Apa sekarang sudah tampak buram?" tanya dokter tersenyum.


Zaky mengangguk polos. "Coba kedip lagi, Pak. Ini akan membantu menghilangkan buram," intruksi dokter yang langsung si kerjakan oleh Zaky.


Setelah lima menit melakukan olahraga mata, Zaky mulai menatap satu-persatu orang-orang yang selalu menemaninya. Ada ibu, Yasa dan ... Istri cantiknya. Zaky tersenyum haru saat melihat Zoya sedang menatap dirinya dengan raut khawatir.


"Alhamdulillah ... Operasinya berhasil. Pak Zaky telah mendapatkan penglihatannya kembali. Nanti sore akan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut lagi ya, Bu," ucap sang dokter pada Zoya.


Zoya berkali-kali mengucap syukur ketika dokter mengatakan bahwa operasi telah berhasil. Tangis haru sudah tidak terbendung lagi. Dia langsung memeluk tubuh suaminya erat namun tetap lembut.


Bu Khadijah juga tak kalah bahagia, dia sudah menangis sesenggukan. Anaknya akhirnya bisa melihat terang dan berwarnanya dunia. Yasa yang menyaksikan itu berulangkali mengusap pipinya yang banjir karena air mata.

__ADS_1


Yasa tentu tahu bagaimana perjuangan Zoya sejak dulu hingga sekarang. Atasan sekaligus kakak baginya itu telah melewati berbagai macam ujian berat dalam hidupnya. Yasa berharap, semoga setelah ini hidup Zoya akan bahagia bersama seseorang yang sangat mencintainya.


....................


Keesokan harinya, bu Maya dan pak Rama yang sudah mendengar kabar tentang Zaky akhirnya memutuskan untuk menjenguk. Walau keduanya masih dalam keadaan berkabung, tapi Bu Maya mengatakan bahwa dia ingin melihat Zada lewat mata Zaky.


Sungguh mengiris tapi, bukan hanya itu saja. Bu Maya dan pak Rama juga ingin melihat keadaan Zaky dan berharap semua lekas membaik, termasuk hati keduanya yang baru saja patah karena kehilangan anak semata wayangnya untuk selama-lamanya.


"Mama sudah nggak sabar untuk bertemu dengan Zada, Pa," ucap bu Maya dengan senyum merekahnya. Pak Rama yang sedang mengemudikan mobilnya pun menghela nafasnya pelan. "Istighfar, Ma ... Zada sudah tenang bersama Allah," ucap pak Rama lembut takut menyinggung perasaan istrinya.


"Papa nggak ngerti bagaimana rasanya jadi Mama ... Makanya Papa bilang begitu," ucap bu Maya yang kini sudah mengambil ancang-ancang untuk menangis. Kan! Pak Rama bukannya tidak memahami tapi, Zada sudah tiada.


Memang, keadaan istrinya akhir-akhir ini sedikit terguncang. Pak Rama juga merasakan hal sama hanya saja, pak Rama masih bisa berpikir logis dan mengatakan pada dirinya bahwa rezeki, jodoh, dan maut sudah Allah tentukan dengan sebaik-baiknya.


"Percaya deh, Ma ... Allah lebih sayang sama Zada. Makanya Allah ingin cepat-cepat bertemu Zada. Semoga, Zada bisa menjadi penuntun kita ke surga juga ya, Ma," ucap pak Rama yang wajahnya terlihat merenung.


Wajah Bu Maya berubah sendu saat mendengar ucapan suaminya. Benar, Allah lebih sayang pada anaknya. Karena anak merupakan titipan dari Allah SWT dan sewaktu-waktu bisa di ambil oleh Sang Pemilik.


Cukup lama keduanya terdiam di sepanjang perjalanan, akhirnya mobil itu berhasil terparkir di area rumah sakit. "Kita turun ya, Ma?" ajak pak Rama lembut. Bu Maya mengangguk pelan dan bergegas turun dari mobil.


Keduanya berjalan beriringan melewati koridor rumah sakit menuju ruang rawat inap Zaky.


Ceklek.

__ADS_1


"Assalamualaikum," ucap pak Rama dan bu Maya hampir bersamaan. "Waaalikumsalam." jawab Zaky, Zoya, bu Khadijah dan Yasa bersamaan. Terlihat pak Rama dan bu Maya berjalan mendekati sisi brankar Zaky.


Zaky tersenyum dan menjawab tangan kedua orang paruh baya tersebut. Bu Maya yang terlebih dulu duduk di sisi ranjang dengan mata yang sudah berkaca-kaca menatap mata Zaky.


"Kenapa, Bu? Kok nangis?" tanya Zaky kebingungan. Semua yang berada di ruangan hanya bisa tertunduk diam, Zoya tentu paham apa yang sedang di lakukan Bu Maya.


"Nggak ... Ibu terlalu bahagia makanya nangis," jawab Bu Maya tersenyum disela tangisnya. "Boleh ibu lihat mata baru kamu?" ucap bu Maya bergetar hingga membuat semua yang berada di ruangan semakin merasa sedih.


Tak terkecuali Zoya, hatinya merasa di remas-remas oleh tangan tak kasat mata. Zoya paham apa yang sedang bu Maya lakukan. Hal itu semata-mata dia lakukan untuk mengenang Zada yang telah berpulang.


Zaky hanya mengangguk dengan raut bingungnya. Cukup lama Zaky dan bu Maya berpandangan hingga tangis bu Maya semakin pecah dan meraung. Pak Rama sigap memeluk tubuh ringkih istrinya. "Sudah, Ma. Maaf ya, Ky ... Mama akhir-akhir ini lagi sensitif sekali," ucap pak Rama tidak enak hati.


"Nggak papa kok, Pak. Tapi kenapa ibu nangis sih, Bu?" tanya Zaky tak habis pikir. Pak Rama menatap Zoya seolah-olah sedang meminta bantuannya untuk membebaskan dari pertanyaan Zaky. "Ya Allah! Mama bangun, Ma!" ucap pak Rama yang seketika berteriak panik saat tubuh istrinya jatuh pingsan.


Keadaan menjadi gaduh karena ada suster dan petugas rumah sakit yang datang untuk membantu bu Maya. Zaky hanya bisa mengamati apa yang sebenarnya telah terjadi. Semua perhatian sekarang tertuju pada bu Maya yang tubuhnya sedang di angkat dan akan dibawa menggunakan brankar.


Satu yang memenuhi pikiran Zaky. "Apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui? Apa ini ada hubungannya dengan menghilangnya Zada?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


kasih aku like sama komennya ya😍


tetap stay tune karena sebentar lagi Zoya sama Zaky mau pamit🙃

__ADS_1


__ADS_2