
Ghaida sudah terbangun untuk sholat subuh. Setelah sholat, Ghaida pergi ke dapur untuk memasak sarapan. Pemandangan yang tidak pernah Ghaida lihat di dapur, hari ini Ghaida melihatnya. Ada Arumi yang entah sedang apa pagi-pagi begini.
"Arumi?" panggil Ghaida lembut. Arumi menoleh dan tersenyum menampakkan wajah pucatnya. "Iya, Mbak." jawab Arumi yang kini sudah berdiri di depan wastafel. "Kamu sedang apa?" tanya Ghaida keheranan. Bukan, sebenarnya Ghaida sedang memsrtiakn bahwa penglihatannya tidak salah. Arumi, dia sedang mencuci piring dan gelas kotor yang semalaman ada di wastafel.
Arumi tersenyum. "Mau bantu Mbak Ghaida bersih-bersih. Kata mas Adis, aku harus bantuin Mbak Ghaida," ucap Arumi santai. Mukut Ghaida terbuka sebentar lalu terkatup lagi, tidak tahu harus mengucapkan kata apa.
"Ya udah." hanya kata itu yang keluar dari mulut Ghaida. Dia kemudian beralih ke lemari pendingin untuk mengambil sayur dan beberapa bahan makanan disana. "Mbak?" panggil Arumi yang kini sudah selesai menyuci piring dan gelas. "Kenapa, Rum?" tanya Ghaida masih tetap fokus pada potongan sayuran di depannya.
Arumi mendekati Ghaida yang saat ini sedang membereskan sayur. "Maaf kalau selama ini aku jarang bantuin, Mbak. Aku cuma jadi beban disini," sesal Arumi yang membuat Ghaida seketika menghentikan kegiatannya.
"Enggak papa kok. Aku ngerti keadaan kamu. Mas Adis sudah cerita kalau kamu darah rendah. Mungkin, itu yang buat kamu selalu pusing dan nggak bisa tidur," jawab Ghaida tersenyum sendu, tidak menyangka keadaan seperti ini akan terjadi. Arumi, dia meminta maaf padanya. Berarti selama ini, Ghaida belum benar-benar mengenal Arumi dan mengeluarkan asumsinya sendiri.
"Dan satu lagi, kamu bukan beban kok. Kamu sedang mengandung anak mas Adis, sesuatu yang belum bisa ku kasih," sambung Ghaida yang kini tertunduk lesu. Tanpa diduga, Arumi memeluk Ghaida lembut. Ghaida bisa merasakan usapan lembut di belakang punggungnya. "Jangan berkata seperti itu, Mbak. Anakku, anak Mbak Ghaida juga. Jadi, nanti kita bisa rawat anakku sama-sama," ucap Arumi sambil mengulas senyumnya.
Ghaida melonggarkan pelukannya untuk menatap Arumi sepenuhnya. "Iya, nanti kita rawat sama-sama," Tersenyum haru dengan mata berkaca-kaca. Arumi mengelus perutnya yang mulai membuncit karena kandungannya sudah berjalan enam bulan. "Anak aku pasti senang punya kakak kaya Yusuf yang rajin beribadah dan sayang ibunya,"
Obrolan keduanya terpaksa terhenti karena suara Yusuf yang menginterupsi. "Tante Arumi sudah bangun?" tanya Yusuf dengan akrabnya. Ghaida mengerjap-ngerjap heran. 'Apa hubungan keduanya sudah sedekat itu?' batin Ghaida bertanya-tanya.
"Sudah. Kata Yusuf, bangun pagi baik untuk ibu hamil. Terus, nanti Tante jalan-jalan pagi di depan kompleks biar tambah sehat," jawab Arumi tersenyum bahagia. Yusuf tersenyum lebar. "Nanti Yusuf temani kalau begitu," ucap Yusuf tanpa ada beban sedikitpun.
Ghaida merasa heran dengan pemandangan di depannya. Apa ada sesuatu yang sudah Ghaida lewatkan? Apa mungkin keduanya dekat ketika dirinya sedang bekerja dan pulang sore? Sungguh, berbagai pertanyaan mengisi kepala Ghaida.
"Yusuf nggak sekolah?" tanya Ghaida daripada bingung mau bertanya apa. "Ya Allah, Ma. Hari ini kan hari Minggu, sekolah tutup, Ma," kekeh Yusuf yang membuat Ghaida seketika menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Mama lupa. Berarti hari ini Mama libur kerja dong," ucap Ghaida dengan bodohnya.
__ADS_1
Semua tergelak renyah. Setelah tawa terhenti, Yusuf berjalan ke depan rumah yang sebelumnya sudah berpamitan untuk memberi makan ikan. "Eh! Kalian kok bisa langsung akrab gitu? Setahuku, Yusuf nggak gampang akrab sama orang baru," tanya Ghaida pada Arumi yang saat ini sedang membantu mengupas bawang putih.
Arumi tersenyum. "Selama Mbak Ghaida kerja, aku sama Yusuf lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Kami menjadi dekat walau awal-awal, Yusuf seperti kecewa, marah, dan ... Pokoknya kaya nggak suka sama aku, Mbak. Tapi, semua nggak berlangsung lama karena aku tetap berusaha untuk dekat dengan Yusuf. Anak Mbak Ghaida, anak aku juga, Mbak," ucap Arumi panjang lebar yang berhasil membuat Ghaida kagum dengan sosok Arumi. 'Pantas saja mas Adis mencintai Arumi. Ternyata, sikapnya begitu baik dan lemah lembut,' batin Ghaida menduga-duga.
"Terima kasih ya, Rum. Karena disaat aku bekerja, kamu yang menjagakan Yusuf," ucap Ghaida tulus. Arumi menggeleng. "Bukan aku yang menjaga Yusuf, Mbak. Tapi, Yusuf yang menjaga aku. Dia begitu perhatian dengan ibu hamil. Dia selalu membantuku saat aku butuh sesuatu. Semoga nanti, sikap anakku meniru sikap Yusuf," ucap Arumi tersenyum lebar.
Ghaida balas tersenyum. "Aku lanjut masak dulu ya? Sebentar lagi mas Adis pasti pulang," ucap Ghaida kemudian fokus lagi pada bahan-bahan makanan di depannya.
Saat Ghaida mulai menumis bawang, tiba-tiba Arumi ingin muntah-muntah. "Hoek! Hoek!" Ghaida panik dan langsung mematikan kompor dan mendekati Arumi. "Kamu baik-baik saja kan, Rum?" tanya Ghaida yang ikut membungkuk sambil mengelus punggung Arumi lembut.
"Aku nggak papa kok, Mbak. Tapi, aku memang agak sensitif sama bau bawang, mual gitu, Mbak. Makanya aku jarang ke dapur," jelas Arumi sambil meringis, menahan mual di perutnya.
Ghaida seketika merasa bersalah. "Ya sudah. Kamu duduk saja, Rum. Biar aku saja yang masak. Atau, kamu jalan-jalan di depan kompleks saja sama Yusuf. Kasihan kamu," ucap Ghaida khawatir. Arumi tampak tak enak hati. "Tapi, Mbak ...."
Sepeninggalan Arumi, Ghaida termenung. "Apa hal seperti ini yang membuatku tidak bisa marah pada Arumi? Aku sudah salah menduga selama ini," monolog Ghaida menyesal.
Ghaida begitu terharu saat Arumi mengatakan anak Arumi, anaknya juga. Itu berarti, Ghaida bisa menggendong bayi mungil itu. Ghaida tersenyum haru kemudian segera melanjutkan kegiatan memasaknya lagi.
.................
Hari Minggu yang Ghaida lalui hanya dihabiskan di dalam rumah saja. Ghaida merasa, hari Minggu ini terasa berbeda. Suasana yang tercipta seperti sudah berubah lebih hangat. Minggu kemarin rasanya belum seperti ini.
Saat ini, Ghaida dan Arumi sedang duduk di kursi yang terletak di belakang rumah, melihat Yusuf dan Adis yang sedang menanam berbagai tumbuhan bunga yang belum Ghaida ketahui bunga apa.
__ADS_1
Hubungan Yusuf dan Adis terlihat lebih akrab dari biasanya. Ghaida tersenyum melihat itu begitu juga dengan Arumi. "Mbak?" panggil Arumi menyadarkan Ghaida dari pikirannya sendiri. "Kenapa?" tanya Ghaida menoleh.
"Terima kasih ya, Mbak," ucap Arumi tersenyum lembut menatap Ghaida. Ghaida mengernyit heran. "Terima kasih untuk apa?" tanya Ghaida bingung.
Tatapan Arumi menatap Adis dan Yusuf yang kini terlihat akrab. "Terima kasih karena sudah mengizinkan aku menjadi istri mas Adis. Terima kasih karena sudah menerimaku dengan baik," jawab Arumi yang semakin membuat kerutan di dahi Ghaida semakin dalam.
Walau demikian, Ghaida tetap mengangguk sebagai formalitas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
hai hai ..
aku mau kasih tau ke kalian nih.
novel aku yang berjudul Kisah yang belum usai untuk sementara aku diamkan dulu. itu novel rencananya bakal aku ikutkan lomba dan mungkin banyak revisi.
jadi, mohon maaf bila nanti ceritanya bakal di rombak abis-abisan😅😆
dan kalau yang mau baca, aku sarankan baca dari awal lagi mueheh.
konsepnya bakal aku ganti sedikit soalnya.
maaf banget ya sekali lagi🙏🙂
__ADS_1