
Pagi ini, Ghaida dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang kemarin menemuinya di toko bunga. Randy, dia sudah duduk dengan tenangnya di ruang tamu bersama Adis yang menemani.
Ghaida sejak tadi bergerak gelisah dan hanya mondar-mandir di dapur hingga membuat Bibi, asisten rumah tangganya keheranan. "Bu Ghaida kenapa? Kok kaya gelisah gitu?" tanya Bibi penasaran.
Ghaida berusaha mengulas senyumnya. "Nggak papa, Bi. Yusuf belum turun ya, Bi?" tanya Ghaida sambil menggigit kuku jempolnya. "Belum, Bu." jawab Bibi yang membuat Ghaida semakin khawatir. Tidak berapa, Ghaida mendengar namanya di panggil oleh suaminya. "Ghaida!"
"Iya! Sebentar. Lagi bikin minum, Mas," ucap Ghaida beralasan denga sedikit meninggikan suaranya. Bibi semakin mengkerutkan dahinya bingung, apa yang sebenarnya sedang dilakukan oleh atasannya itu.
saat Bibi sudah selesai membuat minuman dan menaruhnya di atas tatakan, Ghaida segera mengambil alihnya. "Biar aku saja yang bawa, Bi," ucap Ghaida sambil tangannya sibuk mengambil alih tatakan. Bibi hanya bisa pasrah dan membiarkan Ghaida berlalu menuju ruang tamu.
Ghaida menarik dan menghembuskan nafasnya beberapa kali sebelum benar-benar muncul dari balik sekat pembatas. Ghaida berusaha mengulas senyum walau dipaksakan. "Silahkan di minum," ucap Ghaida mempersilahkan saat satu cangkir teh hangat berhasil dia hidangkan di hadapan Randy. Kemudian, Ghaida juga menaruh satu cangkir di hadapan suaminya.
Ghaida mengambil posisi duduk di sebelah Adis untuk mengerti apa maksud dari Randy datang ke rumahnya. Hari ini Ghaida tidak bisa menghindar seperti hari kemarin. Mungkin, Ghaida memang harus menghadapinya.
"Aku sudah tahu siapa Randy. Dia datang kesini untuk memberikan sesuatu pada Yusuf karena itu sudah menjadi hak Yusuf," ucap Adis lembut, menatap Ghaida.
Ghaida mengerutkan alisnya. "Hak apa, Mas?" tanyanya bingung. "Jadi begini. Keluarga kami punya beberapa usaha di bidang properti. Dan usaha itu dibagikan ke anak-anaknya dengan sama rata. Walau Rudy sudah tiada, dia tetap mendapatkan haknya. Dan karena Rudy juga telah tiada, maka hak itu akan diberikan pada anak kandungnya. Begitulah tradisi yang ada di keluarga kami," jelas Randy panjang lebar.
"Jadi, saya kesini hanya untuk menyerahkan sedikit hak yang Yusuf punya," sambungnya lagi yang membuat Ghaida diam seribu bahasa. Pikiran dan hatinya begitu berkecamuk. Nama Rudy memang menempati posisi seseorang yang sangat Ghaida benci. Namun, Ghaida tidak habis pikir setelah kematiannya, Rudy masih meninggalkan kenangan untuk Yusuf.
__ADS_1
"Bagaimana Ghaida?" tanya Adis lembut sambil mengelus punggung tangan Ghaida yang terasa dingin. Ghaida masih bingung dan enggan mengeluarkan suaranya.
"Oh ya, ada satu lagi yang bisa jadi pertimbangan. Sejak dulu, saat Rudy masih berumur dua puluh tahun, dia sudah mempersiapkan semuanya sebelum di benar-benar pergi meninggalkan dunia. Dia sudah menulis wasiat, bukan! Bukan wasiat melainkan seperti daftar keinginan. Dan salah satunya adalah, mempunyai anak dan memberikan semua yang dia punya pada anaknya, termasuk semua harta bagiannya. Ini buktinya," jelas Randy lagi lalu menyodorkan buku yang seperti ... Buku diary.
Perlahan, Ghaida menerima buku tersebut dan membukanya lembar demi lembar isi dari buku tersebut. Ghaida sampai tidak percaya jika seorang Rudy bisa mempunyai buku diary. Padahal setahu Ghaida, Rudi orang yang tidak punya kelembutan sedikitpun. Dan ada yang saat ini dirinya lihat, benar-benar berbanding terbalik dengan sosok Rudy yang Ghaida kenal.
"Bagaimana, Mbak? Mbak Ghaida mau menerimanya kan?" tanya Randy memastikan saat buku itu telah Ghaida berikan lagi padanya. Ghaida menghela nafasnya kasar. "Beri Yusuf waktu. Dia yang berhak menerima semuanya. Untuk saat ini, menurutku belum saatnya Yusuf tahu tentang harta yang di tinggalkan Rudy untuknya. Dia masih terlalu kecil untuk mengurusi hal seperti itu," ucap Ghaida pada akhirnya memberikan keputusannya.
"Benar apa yang dikatakan istri saya. Yusuf masih terlalu dini untuk mengurusi semuanya. Beri Yusuf waktu setidaknya hingga Yusuf dewasa. Setelah itu, keputusan mungkin akan Ghaida serahkan pasar Yusuf sepenuhnya. Benar begitu kan, Da?" tanya Adis meminta persetujuan Ghaida.
Ghaida mengangguk membenarkan. "Benar yang dikatakan suami saya. Lebih baik seperti itu," jawabnya yang membuat Randy tersenyum lega. "Baiklah jika itu keputusannya. Setidaknya, saya bisa lebih tenang karena semuanya sudah jelas. Saya khawatir saat saya sudah tidak ada, harta itu hanya akan menjadi rebutan oleh tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab,"
Ghaida akhirnya memutuskan untuk libur bekerja hari ini. Untuk berangkat, rasanya Ghaida tidak sanggup karena kepalanya tiba-tiba pusing. Dia memilih untuk berbaring di kamarnya.
Yusuf sudah berangkat ke sekolah dengan Arumi yang mengantar. Katanya, Arumi ingin jalan-jalan dan melihat dunia luar yang sudah lama tidak dirinya lihat semenjak hamil.
Sedangkan Adis, dia memutuskan untuk bekerja dari rumah karena ingin berangkat ke kantor sudah terlalu siang. Belum lagi, Adis pasti akan terlambat karena kemacetan yang menahannya.
Tok. Tok. Tok.
__ADS_1
Ceklek.
Ghaida mendengar ketukan pintu yang sedetik kemudian pintu kamarnya terdengar dibuka dari luar. Ghaida masih setia memejamkan matanya namun, telinganya masih awas untuk mendengar bunyi di sekitarnya.
"Ghaida? Kamu tidur?" tanya suara yang membuat kelopak mata Ghaida dipaksa terbuka perlahan. "Aku nggak bisa tidur, Mas. Kepala aku rasanya pusing sekali," jawab Ghaida yang nada suaranya terdengar lemah.
Sedetik kemudian, Ghaida merasakan tangan besar menyentuh keningnya. "Kamu demam, Da. Kenapa nggak bilang. Sebentar aku ambil kompres," ucap Adis panik lalu Ghaida mendengar langkah kaki suaminya berjalan menjauh.
Ghaida semakin merasakan kepalanya nyut-nyutan dan badannya rasanya sangat dingin. Beberapa menit kemudian, Ghaida mendengar langkah kaki mendekat. "Agak duduk sedikit ya? Aku kompres biar nggak demam. Tapi sebelum itu, minum parasetamol dulu," ucap Adis perhatian.
"Aku nggak mau minum obat, Mas," jawab Ghaida merengek. Adis menghela nafasnya. Ghaida memang tidak pernah mau minum obat sejak dulu. "Ya sudah. Aku kompres dulu kalau begitu," ucap Adis lalu meletakkan kompresan di kening Ghaida.
"Mas?" ucap Ghaida lemah. "Hm?" tanya Adis singkat karena saat ini dia sedang fokus pada kompresan. "Dingin banget, Mas. Boleh peluk nggak?" tanya Ghaida dengan mata terpejam dan suara yang lemah. Bibir yang biasanya terlihat ranum itu kini terlihat pucat dan di beberapa bagian mengelupas.
Akhirnya, Adis berbaring di sebelah Ghaida setelah menutup pintu kamarnya. Adis mengambil posisi memeluk Ghaida yang saat ini tubuh Ghaida sudah miring ke arahnya.
Adis seperti ragu untuk melakukannya namun, pada akhirnya dia melingkarkan tangannya di pinggang Ghaida. Ghaida semakin bergerak merapat dan menelusupkan wajahnya di dada Adis. "Ini baru hangat, Mas. Kaya gini badan aku rasanya lebih enakan," ucap Ghaida lalu bergegas menuju alam mimpi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
jangan lupa dukungannya ya😂