
Flashback ON.
Hari sudah larut dan Zada baru saja pulang dari kantor. Dia harus melewati jalan tikus karena jalan utama sedang ditutup. Karena suasana yang sepi, Zada merasakan bulu kuduknya merinding.
Apalagi gedung-gendung terbengkalai yang harus Zada lewati membuat suasana semakin mencekam. Saat melewati salah satu gedung yang lumayan tinggi, Zada busa mendengar suara perempuan berteriak.
Zada mencoba menajamkan telinga karena itu bukankah suara hantu. Zada mematikan mesin mobilnya dan menepi untuk memastikan pendengarannya tidak salah.
"Tolong! Tolong! Jangan! Jangan lakukan sekarang! Aku sudah tidak sanggup ... Tolong ...."
Zada bisa mendengar dengan jelas pekikan dan rintihan memohon ampun itu dari dalam gedung. Saat menatap salah satu jendela di lantai dua, Zada bisa menangkap adanya siluet dua orang.
Zada mengucek matanya untuk memastikan bahwa penglihatannya tidak salah. Dan benar saja, Zada bisa mendengar suara perempuan itu memekik kesakitan lagi dengan siluet yang mencoba menghindar dari serangan.
Tanpa berpikir panjang, Zada berlari memasuki gedung dan menuju lantai dua gedung itu. Zada bisa menyaksikan seorang wanita yang sedang melawan saat dirinya akan dile cehkan. Merasa iba, Zada mencari alat bantu dimana dia bisa melakukan perlawanan terhadap pelaku.
Zada melihat pisau yang tergeletak di lantai dan tanpa pikir panjang, Zada menyambarnya dan mendekat dengan emosi yang meluap-luap.
Brengsek!
Bugh!
Bugh!
Zada memberikan pukulan bertubi-tubi untuk pelaku hingga menimbulkan pekikan histeris dari wanita tersebut. Setelah pelaku terkulai di lantai, tanpa pikir panjang Zada langsung menarik pisau di tangannya ke atas.
Slap!
Dunia Zada seperti berhenti saat itu juga. Saat dirinya telah menancapkan pisau di perut lelaki yang tidak Zada ketahui siapa. Sejak saat itulah, perjanjian antara Zada dan Ghaida terjadi.
Apalagi, Ghaida menjelaskan sudah biasa menjadi budak sek s laki-laki yang Zada bunuh hingga berujung hamil. Ghaida menangis sesenggukan karena dia sudah hamil tapi tidak mempunyai suami.
__ADS_1
Sejak saat itulah, Zada memilih untuk menikahi Ghaida sebagai bentuk tanggung jawab dan melindungi diri dari jeruji besi.
Flashback OFF.
Zoya menutup mulutnya tak percaya saat Zada menceritakan kilas balik dirinya menikahi Ghaida. "Ta–tapi ha–haruskah kamu menikahinya? A–aku nggak nyangka kamu bisa — bertindak — impulsif," Dengan terbata-bata, Zoya mengucapkannya.
"Maafkan aku, Zoya. Tolong maafkan aku. Jika boleh aku jujur, aku masih sangat mencintaimu. Rasa cinta yang aku berikan pada Ghaida tidak seberapa dengan rasa cintaku untukmu. Oleh karena itu, aku akan menceraikan Ghaida,"
Zoya mendengus kesal. Dengan seenak jidat Zada mengatakan cinta. Makan tuh cinta!
"Aku juga masih mencintai kamu, Mas. Tapi ...."
"Tapi apa, Zoya?"
Zoya terdiam menatap Zada datar. "Tapi, bukan hanya cinta yang dibutuhkan untuk bisa menjalani sebuah hubungan. Kita sudah bercerai, biarlah kita tetap menjadi sebuah 'mantan' tanpa harus balikan,"
"Kenapa tidak bisa rujuk, Zoya? Apa cinta saja belum cukup untukmu?" tanya Zada frustasi.
Zoya menggeleng. "Karena mengulang kisah dengan mantan itu bagaikan menonton sebuah film berulang-ulang dan kita sudah mengetahui endingnya. Jadi, aku memilih untuk hidup dengan lembaran baru lagi. Melukis kisah baru dan berharap ada orang baru yang datang di hidupku. Kalaupun tidak, itu tidak masalah. Karena takdir sudah Allah tentukan dengan baik,"
Hujan mengguyur ibu kota saat jam sudah menunjukkan pukul delapan tepat. Namun hal itu, tidak membuat Zoya beranjak dari kursi yang dia duduki di balkon kamarnya.
Beruntung, hujan tidak mengenai tubuhnya karena kanopi yang lebar menutupi bawahnya. Zoya terpejam merasakan hembusan angin yang menusuk di kulitnya.
Semua masih menyesakkan saat bayangan kebersamaannya dengan Zada terlintas di pikiran. Zoya ingin melupakan, namun tidak semudah itu mengucapakan kata lupa. Entah berapa hari, bulan, bahkan tahun lagi yang harus Zoya lalui tanpa bayang-bayang masa lalu.
Zoya menghela nafasnya. "Bukan karena pernah jatuh hati terlalu dalam. Bukan juga karena kau yang paling dibenci. Tapi, kau yang paling baik untuk dijauhi. Kita tidak pernah bisa biasa-biasa saja setelah semua yang pernah ada, setelah semuanya berakhir dengan paksa,"
Zoya mengusap pipinya yang basah karena satu tetes air mata. Zoya berjanji, ini adalah tangis kesedihan yang Zoya keluarkan untuk laki-laki yang sangat Zoya cintai.
Kenangan manis akan disimpan, kenangan pahit akan dilupakan dan akan Zoya ikhlaskan. Semua hal yang bermanfaat yang sudah Zada ajarkan, akan berusaha Zoya amalkan. Karena sejatinya, ilmu bisa datang darimana saja termasuk dari mulut sang Pendosa.
__ADS_1
Zoya menatap cangkir susu jahe dihadapannya yang asapnya tak lagi mengepul karena dingin sudah memeluknya. Zoya meminum susu jahe itu walau sudah tak lagi hangat.
Saat Zoya mendongak lagi, Zoya bisa melihat lelaki jangkung yang berdiri di trotoar dengan keadaan kedinginan. Dia sedang berteduh bersama motornya yang dia parkirkan di depan ruko.
"Itu bukannya ... Mas Pratama?"
Zoya seketika teringat sesuatu saat melihat Tama hanya mengenakan kemeja tipis. Zoya masuk ke kamarnya dan mencari jas yang waktu itu Tama sumbangkan untuknya. Iya, disumbangkan. Tama yang mengucapkan itu sendiri.
Setelah dapat, Zoya bergegas turun dan membawa payungnya.
Tama yang melihat Zoya akan mendekatinya pun tersenyum tipis, merasa senang. "Hai, Mas. Ini jas kamu yang waktu itu disumbangkan padaku. Aku akan menyumbangkan lagi padamu karena kamu sedang membutuhkan," ucap Zoya kikuk. Pasalnya, dia tidak sedekat itu dengan Tama.
Tama menerima jas itu dan langsung memakainya. "Terima kasih." jawab Tama tersenyum tipis lagi. Dan entah mengapa, senyuman tipis itu terlihat begitu tampan dimata Zoya. "Terpesona? Baru satu hari aku sebut namamu, langsung terpesona aja ya," ucap Tama sombong.
Zoya mengalihkan pandangan karena bagaimanapun juga, tidak seharusnya Zoya menatap lawan jenis terlalu lama. Zoya langsung teringat sesuatu dan mendongak untuk melayangkan pertanyaan yang menggangunya. "Bukankah kau tidak tahu namaku?" tanya Zoya penuh selidik.
"Zoya Adisthy."
Zoya membuka mulutnya sebentar dan menutupnya lalu membukanya lagi. Bisa dibilang, saat ini Zoya sedang plonga-plongo karena tidak percaya dengan pendengarannya. "Bagaimana kau bisa tahu? Bahkan aku belum memberitahukannya padamu?"
"Aku bisa tahu apapun yang ingin aku ketahui termasuk mencari tahu tentang kehidupanmu," jawab Tama tanpa mengalihkan pandangannya. "Aku sudah melihatmu sejak pertama kali kamu masuk kursus. Dan saat itu juga, mungkin orang akan menyebutnya dengan cinta pandangan pertama," Tama berucap dengan mata yang sudhs tertuju pada Zoya.
Zoya memutar bola matanya jengah. "Cinta, cinta, cinta. Semua orang seakan mengagungkan cinta. Padahal, karena cinta juga orang bisa terluka," Zoya menjawab sinis ucapan Tama.
Tama sama sekali tidak tersinggung dan malah tersenyum lebar. "Bukan cinta yang salah, tapi orangnya. Cinta tidak akan ternoda jika bersama orang yang tepat,"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
jangan lupa dukungannya ya😍
__ADS_1
dengan cara like, komen, vote dan kasih hadiah semampu kalian.
lope untuk kalian semua😍😘🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹