Surga di atas lara

Surga di atas lara
Bab 66. Kalimat perpisahan


__ADS_3

Akhirnya operasi donor mata sedang berlangsung di sebuah ruangan yang di khususkan untuk ruang operasi. Zoya menunggu dengan duduk di salah satu kursi tunggu dengan perasaan yang campur aduk. Sedih, bahagia, takut, khawatir, sangat sulit sekali di definisikan.


Zada telah memberi nyawa disaat nyawanya sendiri sudah tiada. Ada Yasa dan bu khadijah yang menemani Zoya untuk menunggu operasi selesai.


Zoya menunggu dengan gelisah sambil menatap lampu yang masih menyala merah dia atas pintu ruangan. Itu pertanda bahwa operasi masih lama lagi.


Zoya memilih untuk menemui Arka yang berada di taman rumah sakit bersama baby sisternys terlebih dahulu. Sudah beberapa hari ini, dirinya jarang menghabiskan waktu bersama Arka.


"Zoya temui Arka sebentar ya, Bu? Aku juga mau langsung ke mushola," pamit Zoya pada ibu mertuanya. Bu Khadijah mengangguk. "Pergilah, Nak. Mintalah pada Allah agar semua berjalan dengan lancar," ucap bu Khadijah dengan tatapan sendu.


Zoya mengangguk dengan senyum tipisnya dan berlalu dari sana untuk menemui Arka terlebih dahulu. "Arka? Kamu tahu nggak? Sebentar lagi papa bisa melihat wajah imut kamu loh? Kamu pasti sudah nggak sabar ingin di gendong dan di ajak jalan-jalan sama papa kan?" tanya Zoya dengan mengulas senyum, berusaha menyembunyikan beban hidup yang sedang menimpanya.


Arka terlihat mengernyit tanda dia bingung dengan ucapan Zoya. "Papa, mama, Arka, akan pergi jalan-jalan," ucap Zoya lagi demi menjawab kebingungan Arka.


"Oum Yada?" celoteh Arka dengan pengucapan yang belum jelas. "Ya? Om Zada?" tanya Zoya memastikan bahwa Arka memang menyebut nama Zada. Arka mengangguk polos masih dengan wajah penuh tanda tanya.


Zoya berusaha tersenyum walau matanya sudah berkaca-kaca. "Om Zada? Om Zada lagi kerja. Nanti juga pasti ketemu sama Arka," jawab Zoya berbohong.


"Cole?" tanya Arka lagi dengan suara cadelnya. Satu tetes air mata berhasil lolos saat Zoya tahu bahwa Arka sedang menunggu kedatangan Zada. "Iya, sore," jawab Zoya berbohong lagi.


Setelah mendengar penuturan Zoya, Arka berubah girang dan bertepuk tangan seakan ucapan Zoya barusan begitu menyenangkan untuk Arka. Zoya sudah tidak sanggup lagi menahan air matanya. Dia menangis dengan dada yang begitu sesak.


Bahkan, anaknya yang masih berusia sepuluh bulan sudah bisa mengenal orang-orang terdekatnya termasuk Zada, orang yang sangat dekat dengannya. Zoya terisak dengan Arka yang masih berada dalam gendongannya.


Baby sister yang melihat itu ingin mengambil alih Arka agar Zoya bisa menenangkan diri terlebih dahulu namun, Zoya menolak dan mengatakan dia tidak apa-apa. "Arkanya sama Mbak dulu yuk? Mama mau ke WC sebentar," bujuk baby sister itu pada Arka.

__ADS_1


Zoya menggeleng. "Nggak papa, Mbak. Aku rindu sama Arka. Sudah beberapa hari ini aku nggak ada waktu untuk bermain dengan Arka," jawab Zoya lalu menghapus jejak basah di pipinya.


Arka terlihat bingung dengan pemandangan Zoya yang menangis. Dia begitu peka lalu memeluk wanita yang sudah melahirkannya seakan tahu jika ibunya sedang tidak baik-baik saja. Zoya membalas pelukan tangan mungil anaknya yang bertengger di lehernya.


Zoya menangis haru melihat Arka yang paham akan emosi orang-orang di sekitarnya. Arka memang anak yang peka. Cup. Cup. Cup.


Zoya semakin meraung-raung saat kecupan demi kecupan Arka berikan di pipinya. Ada rasa hangat yang menjalar di hatinya. Zoya seperti mendapat kekuatannya lagi. Kecupan Arka benar-benar membuat Zoya lebih bersemangat menjalani ujian hidup.


Cup. Cup. Cup.


"Jadi anak sholeh ya, Ka," ucap Zoya setelah balas mengecup pipi gembul anaknya. Setelahnya, Zoya memeluk tubuh mungil anaknya erat namun tetap lembut. Baby sister yang melihat pemandangan itu sampai meneteskan air mata, terharu.


......................


Bu Maya sejak tadi tidak beranjak dari sisi jenazah Zada yang sedang dibacakan ayat-ayat Al Qur'an oleh kerabat yang tetangga terdekat. Bu Maya menangis dalam diam, melamun, dan seperti begitu banyak beban pikiran di kepalanya.


Zoya yang sudah beberapa menit yang lalu datang bersama Arka pun tak mampu menghentikan air matanya. Dia menatap tubuh Zada yang sudah terbujur kaku dan sebentar lagi akan kembali menyatu dengan tanah sebagaimana dulunya diciptakan.


Arka yang digendong baby sister hanya memandang sekitar dengan bingung. Dia belum paham apa itu hidup dan mati. Zoya sengaja mengajak Arka karena memang dia sudah mengatakan bahwa Zada akan datang.


Tapi kali ini, Zoya akan mengatakan pada Arka bahwa Zada telah pulang ke rumah Allah. Zoya tahu, Arka belum paham akan hal itu. Tapi, Zoya percaya suatu saat Arka akan memahami. Dan Zoya berharap, Arka tidak melupakan sosok Zada dalam hidupnya.


Zada adalah pahlawan di hidup Arka. Disaat dirinya dan Zaky sedang berusaha sembuh, Zada lah yang menemani hari-hari Arka. Nama Zada akan selalu di kenang dalam sejarah hidup Zoya sebagai orang baik.


Tidak berapa lama, ada intruksi dari ustadz yang mengatakan bahwa jenazah Zada harus segera di makamkan. Akhirnya, semua mengantar kepergian Zada ke tempat peristirahatan terakhirnya.

__ADS_1


Setelah para pelayat pulang satu persatu, termasuk Bu Maya yang kondisi tubuhnya melemah, akhirnya berpamitan pulang terlebih dahulu bersama pak Rama.


Tinggallah Zoya, Arka dan baby sister yang merawat Arka disana. Zoya mengambil alih Arka dan memangku Arka dengan berjongkok di hadapan gundukan tanah yang bertulisan nama Zada disana.


Zoya menghembuskan nafasnya terlebih dahulu sebelum berbicara. "Arka?" ucap Zoya dan berhasil membuat Arka yang sedang kebingungan menatap gundukan tanah itu beralih menatap ibunya. "Ini rumah baru om Zada. Nanti kalau Arka sudah besar, rajinlah kesini ya?" ucap Zoya menatap Arka lembut. Sedang Arka yang ditatap hanya menunjukkan wajah bingungnya.


"Arka sama Mbak ke mobil dulu ya? Mama mau bicara sedikit sama om Zada," ucap Zoya lalu mengintruksi baby sister Arka untuk kembali mengambil alih Arka.


Selepas kepergian anak dan baby sisternya, Zoya mulai menatap gundukan tanah di depannya. "Mas ... Aku mungkin sudah terlambat untuk mengatakannya. Tapi, bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali?" ucap Zoya mulai berbicara sendiri seakan Zada ada di hadapannya.


"Terima kasih, Mas, kamu sudah menjadi sosok ayah yang baik untuk Arka disaat aku dan mas Zaky sedang berjuang antara hidup dan mati. Kamu hadir memberikan cinta dan kasih sayang pada Arka yang bukan siapa-siapa untukmu," Buliran demi Buliran air mata mulai berjatuhan di atas tanah yang masih basah itu.


"Kamu memberikan Arka semuanya sampai ingatan Arka begitu membekas mengingatmu. Oh iya mas, dia bahkan ingat jadwal kamu mengunjungi dia. Di sore hari, Arka akan menunggu kamu untuk datang ke rumah dan bermain denganmu. Tapi, disaat dia menyadari kamu tidak datang, wajahnya terlihat murung dan tidak bersemangat," ucap Zoya terkekeh miris.


Zoya menutup wajahnya dengan telapak tangan karena kembali sesenggukan. "Bahagia di surga ya, Mas. Kamu berhak mendapat surga atas apa yang sudah kamu lakukan di dunia. Terima kasih atas waktu yang sudah kamu habiskan untuk menemani Arka tumbuh," Sesak rasanya saat Zoya harus mengucapkan kalimat perpisahan untuk Zada.


Rasanya, Zoya belum percaya bahwa Zada telah meninggalkan dunia untuk selama-lamanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


🤕🤕🤕💔💔💔


like komennya jangan kendor ya💔💔


aku lagi patah hati soalnya. babang Zada sudah tiada😭

__ADS_1


__ADS_2