Surga di atas lara

Surga di atas lara
Bab 77. Extra Chapter


__ADS_3

"Kamu masak apa, Da, pagi ini? Dari atas tercium wangi banget masakan kamu," ucap Adis yang berhasil menyentak lamunan Ghaida. "Eh! Aku buat roti bakar kesukaan Mas Adis. Selainya mau yang coklat atau kacang, Mas?" tanya Ghaida hanya sekedar basa-basi.


Adis terkekeh. "Kalau campur boleh nggak? Kayaknya coklat kacang enak deh. Iya nggak, Suf?" ucap Adis lalu meminta persetujuan Yusuf. Yusuf mengangguk membenarkan. "Enak kok, Om. Aku pernah coba karena waktu itu Mama juga lagi coba-coba," jawabnya polos.


Memang, Yusuf belum mengubah nama panggilan untuk Adis. Entah Ghaida maupun Adis, keduanya tidak ingin memaksa dan mengharuskan Yusuf memanggil Adis dengan papa.


Adis merasa, dirinya tidak seistimewa itu di mata Yusuf. Apalagi, setelah mengetahui dirinya telah menikah lagi, rasa peduli dan simpati Yusuf untuknya seakan ikut berkurang. Adis merasa, Yusuf seperti menjauhi dirinya.


"Ya sudah, aku buat yang coklat kacang kalau gitu," ucap Ghaida lalu sibuk kembali dengan bahan-bahan makanan di depannya. Tidak butuh waktu lama, roti bakar dengan isi coklat kacang pun terhidang di hadapan Adis dan Yusuf.


Mungkin, roti bakar yang berisi coklat akan Ghaida makan sendiri. Setelah membuat lima tumpuk roti bakar, Ghaida bergabung ke meja makan untuk sarapan. Saat mereka semua sedang menikmati sarapannya, tiba-tiba Arumi muncul dengan rambut berantakan dan baju tidur yang dipakai dari semalam. Bisa Ghaida tebak, sepertinya Arumi belum mandi.


"Sarapan apa, Mas?" tanya Arumi yang sudah berdiri di samping Adis dengan satu tangannya menggaruk kepala sedang satu tangan yang lainnya digunakan untuk menggaruk pahanya. Jangan lupakan mulutnya yang menganga lebar saat menguap.


Ghaida dan Yusuf hanya bisa diam tanpa ingin berkomentar. Sedang Adis, dia menghela nafasnya lelah. Bukankah Arumi tidak pernah menyentuh pekerjaan rumah? Bukankah selama ini jika berada di rumah, pekerjaanya hanya bermain ponsel? Lalu, mengapa untuk merawat diri saja tidak bisa?


Adis seketika beristighfar karena pikiran semacam itu muncul di kepalanya. "Arumi, mandi dulu bisa nggak? Kamu tuh harus jaga kebersihan karena kamu lagi hamil," ucap Adis berusaha bersikap lembut, takut menyinggung perasaan Arumi.


"Maksud kamu? Aku bau? Tega kamu ya, Mas,"

__ADS_1


Nah, ini dia yang Adis takuti. Perasaan ibu hamil memang sangat sensitif. Adis sudah berusaha untuk tidak menyinggung perasaan Arumi namun, tetap saja ucapannya di anggap menghina.


"Bukan begitu. Kamu kan lagi hamil, kamu harus jaga kebersihan. Mandi lalu salat subuh dulu ya? Nggak papa kok sholatnya terlambat. Karena lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali," ucap Adis lembut dan mengulas senyum manisnya.


Arumi terlihat mengerucutkan bibirnya. Ghaida hanya bisa memutar bola matanya malas melihat kemesraan dua manusia di depannya yang kelewat batas. Ghaida beristighfar dalam hati lalu beranjak dari kursi untuk menaruh piring kotor bekas makannya.


"Ghaida?" panggil Adis yang melihat Ghaida ingin menjauh. Ghaida menoleh. "Kenapa, Mas? Mau nambah?" tanya Ghaida berusaha bersikap biasa saja. Adis menggeleng. "Nggak. Aku mau minta di temani kamu saat sarapan," jawab Adis yang berhasil membuat Arumi menatap tajam pada Ghaida.


Sungguh, Ghaida ingin tertawa saat itu juga namun, harga dirinya sedang di pertaruhkan. Dia harus bersikap elegan dan manis. "Boleh, Mas. Tapi, aku taruh piring kotor dulu ya? Arumi, kamu yakin nggak mau mandi? Bau banget ini lho," ucap Ghaida sengaja menggoda Arumi.


"Apaan sih!" jawab Arumi tak terima lalu berlalu dengan menghentakkan kakinya kesal menuju kamarnya lagi. Ghaida hanya bisa mengulum senyumnya. 'Arumi ... Arumi ... Kamu itu lucu banget. Entah mengapa aku selalu bisa menganggap kamu layaknya adikku sendiri,' batin Ghaida menatap sendu kepergian Arumi.


Tapi di sisi lain, ada kecemburuan di hatinya saat perhatian Adis akhir-akhir ini selalu tertuju pada Arumi. Dan Ghaida, merasa terabaikan.


"Ghaida?" sentak Adis karena sejak tadi melihat Ghaida masih saja berdiri dengan tangan yang memegang piring. "Yusuf berangkat sekolah dulu ya, Ma, Om," pamit Yusuf yang berhasil mengembalikan kesadaran Ghaida kembali.


"Iya, hati-hati di jalan ya, Suf. Bilang sama pak sopir jangan ngebut," ucap Zoya saat anaknya menyalami tangannya. Setelahnya, Yusuf juga menyalami tangan Adis dan hal itu membuat hati Adis sedikit menghangat. "Hati-hari di jalan ya, Suf,"


"Iya, Om. Assalamualaikum, Yusuf berangkat ya?"

__ADS_1


"Waaalikumsalam."


Sepeninggalan Yusuf, Ghaida segera menaruh piring kotor menuju wastafel untuk segera dirinya cuci. "Ghaida?" panggil Adis lagi yang membuat kepala Ghaida terpaksa berputar sembilan puluh derajat. "Kenapa, Mas?"


Adis tampak ragu untuk mengungkapkan isi hatinya. Namun, doa berusaha meyakinkan dirinya bahwa Ghaida pasti bisa mengerti dirinya. "Maaf ya," hanya kata itu yang terucap dari bibir Adis hingga membuat Ghaida mengkerutkan dahinya. "Maaf? Untuk?" tanya Ghaida heran.


"Semua. Maaf karena sudah mengabaikanmu akhir-akhir ini. Maaf karena aku banyak menghabiskan waktuku bersama Arumi," sesal Adis sambil menatap mata teduh Ghaida. Ghaida tersenyum getir dan menggeleng. "Untuk apa minta maaf? Bukankah Arumi juga istri kamu? Kamu berhak melakukan apapun yang kamu inginkan, Mas. Jangan khawatir, aku tidak akan menghalanginya," jawab Ghaida berbohong.


'Tapi aku akan berusaha merebut hatimu kembali lewat jalur langit,' sambung Ghaida dalam hati.


Perkataan Ghaida, membuat hati Adis semakin dirundung rasa bersalah. "Kamu punya kewajiban untuk mengingatkan aku jika aku lupa arah jalan pulang," ucap Adis masih menatap Ghaida sendu.


"Arah jalan pulang?" tanya Ghaida kebingungan. Adis tersenyum dan mengangguk. "Kamu rumahku untuk berpulang," jawabnya yang berhasil membuat pipi Ghaida seketika memanas. Untuk menyembunyikannya, Ghaida kembali berbalik dan menyelesaikan pekerjaannya.


"Mas? Aku mau sarapan juga. Tapi kamu suapin ya?" sahut suara yang diduga adalah milik Arumi. Ghaida mendengus pelan agar tidak terdengar oleh siapapun. 'Ganggu saja si Arumi ini,' batin Ghaida kesal.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


jangan lupa like, komen, vote, dan kasih hadiah semampu kalian ya..

__ADS_1


lup untuk kalian semua😘


__ADS_2