Surga di atas lara

Surga di atas lara
Bab 98. Extra chapter


__ADS_3

"Mas? Sudah selesai ya?" Cepat sekali?" tanya Ghaida heran. Pasalnya, Adis belum terlalu lama masuk ke kamarnya. Adis tersenyum menatap Ghaida yang saat ini sedang sibuk mencarikan baju ganti untuknya. "Kalau di kamar mandi kan nggak boleh lama-lama, nggak baik. Kalau urusan kita sudah selesai, sebaiknya segera keluar," jelas Adis dengan lembut.


Ghaida mengangguk membenarkan. "Ya sudah. Pakai kaos saja kan, Mas?" tanya Ghaida menoleh pada suaminya yang kini sedang berjalan mendekati dirinya. "Iya, kaos saja. Lagian, sore ini nggak kemana-mana kok," jawab Adis kemudian mencuri ciuman di bibir Ghaida.


Tatapan tajampun melayang dari mata indah dan bulat milik Ghaida. Adis terkiki geli kemudian tanpa malu membuka handuk yang melilit di pinggangnya dengan percaya diri. Padahal, handuk tersebut merupakan kain satu-satunya yang menutupi tubuh bagian bawahnya.


Ghaida langsung memejamkan mata erat-erat melihat tingkah suaminya yang terlewat nakal. "Untung aku sudah tutup pintu, Mas. Bagaimana kalau ada yang lihat?" ucap Ghaida merasa kesal. Adis terkekeh. "Aku berani buka karena sudah memastikan terlebih dahulu. Jadi, kamu nggak perlu khawatir," jawabnya dengan santai.


"Tapi tetap saja, Mas. Pintunya nggak dikunci," ucap Ghaida lagi merasa geram. Setelah memakai bajunya lengkap, Adis kembali berjalan menuju pintu dan segera memutar kunci hingga terdengar bunyi 'klik' dua kali.


Ghaida memperhatikan suaminya sejak tadi dalam diam. "Kamu cemburu ya? Kalau nggak sengaja ada yang lihat?" tanya Adis setelah sampai di hadapan Ghaida lagi. Ghaida tidak menjawab, namun, tatapannya lekat pada wajah suaminya. "Apa hal itu perlu kamu tanyakan? Rasanya, mengatakan cemburu pun percuma," ucap Ghaida lembut namun mampu membuat Adis tertohok.


Ghaida menghela napas lalu berlalu meninggalkan Adis begitu saja. Adis masih setia memandang ke arah pintu dimana jejak Ghaida masih ada disana. "Apa aku salah bicara?" gumam Adis menyesal. Kemudian, Adis segera memakai bajunya agar bisa menyusul Ghaida.


Saat sudah keluar kamar dan Adis melongok ke bawah, tidak ada Ghaida. Hanya ada Arumi dan Yusuf yang saat ini sedang duduk bersama dan bersenda-gurau dengan Yhara berada dalam gendongan.

__ADS_1


Adis menghela napas, akhirnya Adis memutuskan untuk bergabung bersama Arumi dan Yusuf. Saat hampir mencapai lantai dasar, Adis bisa melihat senyum Arumi yang merekah. Adis balss tersenyum kemudian duduk di sebelah Arumi untuk melihat wajah anaknya.


"Yusuf? Kamu sudah pulang dari tadi ya?" tanya Adis pada Yusuf terlebih dahulu. Yusuf mengangguk. "Ya ... Belum terlalu lama si, Om." jawab Yusuf sambil masih fokus pada pipi bulat Yhara.


Sedang di kamar lain, Ghaida berulangkali menarik dan menghembuskan napasnya agar rasa sesak di hatinya sedikit berkurang. Setelah lebih tenang, Ghaida keluar dari kamar menuju dapur. Sebentar lagi hari hampir gelap, Ghaida harus menyiapkan makan malam untuk semua keluarga.


Sebenarnya, tugas itu bisa saja dilakukan oleh Bibi. Namun, Ghaida lebih senang jika menyiapkan makan untuk semua keluarganya sendiri. Saat sudah berada di luar, Ghaida melongok ke bawah dan mendapati semua anggota keluarga ada di ruang tengah.


Ghaida bergegas turun dan sedikit tersenyum ketika bertemu tatap dengan Arumi. Kemudian, Ghaida langsung berjalan menuju dapur. Tanpa Ghaida ketahui, Adis menyusul Ghaida untuk meminta maaf. Bagaimanapun, Adis sadar bahwa ucapan Ghaida seperti sedang menyindirnya yang memilih poligami.


"Enggak. Aku biasa saja kok, Mas. Itu perasaan Mas aja," jawab Ghaida cuek. Adis terkekeh kemudian memeluk Ghaida dari belakang. Sedang Ghaida, dia bergerak tak nyaman karena Adis tidak tahu tempat sama sekali. "Mas! Aku masih banyak kerjaan," protes Ghaida mencoba melepaskan diri.


Adis justru semakin mengeratkan pelukan hingga membuat Ghaida kesusahan bernapas. "Biarkan seperti ini dulu," lirih Adis tepat di telinga Ghaida. Tidak ada hal yang bisa Ghaida lakukan selain pasrah menerima perlakuan manis suaminya.


Ya, Ghaida merasa, Adis begitu manis dengannya. Dan jika boleh jujur, Ghaida sangat menyukai hal itu. Jadilah Adis layaknya cicak yang menempel di punggung Ghaida dan mengikuti kemanapun Ghaida melangkah dengan posisi masih memeluk Ghaida dari belakang.

__ADS_1


Sesekali Adis mencuri kecupan di kedua sisi pipi Ghaida dan terkadang menyasar ke bibir Ghaida. Ghaida sampai tidak mengerti mengapa sikap Adis jadi manja seperti itu.


"Om Adis lagi ngapain?" tanya Yusuf yang entah sejak kapan berada disana. Adis segera melepas pelukan dengan wajah yang begitu kaget. "Kamu sudah sejak lama ada disitu? Atau baru saja?" tanya Adis panik.


Melihat wajah suaminya yang panik, Ghaida justru terkikik geli. 'Makanya, jangan sembarangan main cium saja,' batin Ghaida merasa puas.


Yusuf kemudian berjalan menuju water dispenser. "Aku baru saja kok, Om. Cuma, lihat Om yang nempel ke mama kaya cicak gitu bikin aku bingung," ucap Yusuf yang membuat Adis seketika bernapas lega.


Bukannya apa, dia hanya sedang menjaga mata suci Yusuf agar tidak ternodai karena dirinya yang bersikap impulsif tanpa memikirkan bahwa bisa saja siapapun masuk ke area dapur, termasuk Yusuf seperti saat ini.


"Aku baru saja kok, Om," jawab Yusuf yang semakin membuat Adis bernapas lega. Dia tidak perlu takut lagi menodai mata suci Yusuf karena dirinya sejak tadi menciumi pipi dan bibir Ghaida tiada henti.


Sedang Ghaida, dia hanya mendengarkan pembicaraan suami dan anaknya dengan masih fokus pada masakan yang sedang dia pindah ke wadah.


"Oh iya, aku tadi lihat Om Adis cium Mama terus-menerus loh," ucap Yusuf tersenyum polos. Adis dan Ghaida sontak menatap Yusuf dengan mata membelalak. Perasaan yang awalnya lega, kini harus sirna karena pengakuan dari Yusuf.

__ADS_1


__ADS_2