Surga di atas lara

Surga di atas lara
Bab 89. Extra Chapter


__ADS_3

"Ghaida?" panggil Adis sambil menuruni anak tangga. Ghaida yang sedang berada di dapur pun menoleh dengan alis bertaut. "Kenapa, Mas?" tanya Ghaida lalu fokus kembali pada nasi goreng yang Ghaida buat untuk sarapan.


"Nanti siang aku mau antar Arumi ke dokter. Nggak papa kan?" tanya Adis ketika sudah berdiri di belakang Ghaida, melihat makanan apa yang sedang dibuat istri tercintanya. Pasalnya, perutnya selalu meronta setiap mencium wangi masakan yang Ghaida buat.


Ghaida yang paham akan gelagat Adis pun akhirnya memberitahu. "Aku maska nasi goreng telur asin, Mas," ucap Ghaida memberitahu.


"Nggak papa kok, Mas. Memangnya kenapa?" jawab Ghaida yang bertanya balik. Adis menggeleng. "Ya nggak papa. Aku mau minta izin saja sama kamu biar aku tetap bisa adil sama kamu dan Arumi," jawab Adis yang berhasil membuat Ghaida menoleh cepat.


Mulutnya sudah terbuka untuk berbicara namun, urung dan hanya berakhir di tenggorokan saja. Ghaida kembali fokus dengan nasi goreng yang baru saja di cicipi dan rasanya masih kurang asin.


"Kamu mau ngomong apa? Kok nggak jadi?" kejar Adis merasa tidak terima respon Ghaida hanya seperti itu. Ghaida tergelak renyah. "Sebentar, Mas. Aku lagi fokus bikin nasi goreng yang enak dulu. Ini sudah selesai kok," jawab Ghaida yang saat ini sudah mematikan kompornya.


Ghaida bergumam panjang, lupa dengan apa yang ingin dia bicarakan. "Aku mau ngomong apa ya, Mas? Kok aku lupa?" jawab Ghaida berupa pertanyaan. Adis tergelak lalu mencubit pelan pipi Ghaida. "Bagaimana reaksi kamu tentang aku yang akan berubah adil dan akan selalu meminta izin denganmu terlebih dahulu sebelum melakukan apapun itu?" ulang Adis panjang lebar.


Ghaida mendongak untuk bertemu tatap dengan suaminya. Senyumnya terulas lebar, begitu bahagia dengan pertanyaan suaminya. "Aku bakal bersyukur berkali-kali lipat akhirnya, doa-doaku selama ini terkabulkan," jawab Ghaida masih menatap suaminya sendu.


Adis tersenyum malu-malu. "Doa? Kamu mendoakan aku?" tanya Adis tidak percaya. Ghaida mengangguk. "Kalau aku sudah tidak bisa berbuat apapun, aku memilih berdoa kepada Allah agar diberi petunjuk dan segera meluluhkan hati kamu, Mas. Karena aku percaya, Allah Maha membolak-balikkan hati,"


"Ehem! Selamat pagi semuanya!"


Suara itu berhasil membuat suasana romantis di pagi hari yang indah menjadi kacau. Lagi-lagi Arumi datang disaat waktu yang tidak tepat. "Selamat lagi, Arumi," jawab Adis dan Ghaida hampir bersamaan. Arumi yang kini sudah menapaki anak tangga terakhir, dibuat melongo. "Kalian janjian ya?" tanya Arumi tak masuk akal.


"Maksudnya?" tanya Ghaida dan Adis bersamaan lagi. "Itu, kalian jawabnya bareng terus. Kalian janjian kan? Kok aku nggak di ajak sih?" ujar Arumi sambil memajukan bibirnya lima senti.

__ADS_1


"Hah? Oh, kenapa harus ikutan? Eh! Maksudnya ... Sarapan. Iya, sarapan. Kan kita memang mau sarapan bareng kan?" ucap Ghaida tergagap dan tidak jelas. Dia juga tidak paham mengapa sikap Arumi menjadi manja seperti itu. Adis mengangguk membenarkan. "Ayo, kita sarapan dulu. Yusuf dimana? Belum turun ya?" tanya Adis sambil pandangannya mengedar.


"Yusuf disini. Habis kasih makan ikan, Om," sahut suara Yusuf dari ambang pintu. "Yuk, makan dulu Yusuf," ajak Ghaida lalu memindahkan nasi goreng ke wadah besar. "Ini Mbak Ghaida yang masak ya? Bibi belum sampai, Mbak?" tanya Arumi sambil menghidu aroma nasi goreng telur asin.


"Iya, tolong ambilkan punya Mas Adis dulu dong, Rum. Baru kamu boleh isi piring kamu," ucap Ghaida saat melihat Arumi ingin menyendokkan nasi goreng tersebut ke piringnya. Adis menoleh pada Ghaida yang saat ini masih memegang teflon yang baru saja dia gunakan untuk menggoreng nasi.


Adis tersenyum haru, Ghaida begitu menghormati dan menghargai dirinya yang bestatus sebagai kepala keluarga.


Arumi menunduk malu. "Iya, Mbak. Aku kasih ke mas Adis dulu," setelah itu, Arumi mulai menuangkan nasi tersebut ke piring Adis. Setelah di rasa cukup, Arumi ingin menuangkan nasi goreng je piringnya namun, urung ketika suara Adis kembali menginterupsi.


"Arumi, tolong ambilkan punya Yusuf dulu ya?" pinta Adis lembut dengan pandangan tersenyum menatap Yusuf. Arumi menggerjap. "Baiklah," jawab Arumi lalu segera melakukannya.


Setelah Ghaida bergabung, semua makan dengan khidmat dan begitu menikmati nasi goreng telur asin tersebut. Semua merasa puas dengan hasil masakan Ghaida yang memang, selalu enak dan nagih.


Sejak tadi, Arumi merengek manja karena dokter yang harusnya memeriksa kehamilannya datang terlambat setengah jam ke depan. "Lama banget sih, Mas? Nggak bisa pakai dokter lain ya? Aku tuh pengen cepet pulang dan rebahan," rengek Arumi yang membuat Adis geleng-geleng kepala, tak habis pikir.


"Sabar. Kalau ganti dokter, kamu juga harus nunggu lagi. Lebih baik tunggu yang ini," jawab Adis menenangkan. Bibir Arumi sudah memberenggut kesal. "Tapi lama banget, Mas," rengeknya lagi seakan tidak kenal lelah.


"Aku mau jajan dulu boleh nggak, Mas?" tanya Arumi sambil pandangan menatap kantin rumah sakit yang memang letaknya bisa terlihat dari tempat keduanya menunggu.


Adis terkekeh. "Boleh dong. Kamu mau jajan apa memangnya?" tanya Adis lembut sambil mengelus pipi Arumi pelan. Arumi tampak bergumam panjang. "Ada bakso tuh, Mas. Boleh ya? Kalau aku makan bakso? Pakai pedas juga," pinta Arumi dengan puppy eyesnya.


Adis menghela napasnya pelan. "Arumi ... Kamu nggak boleh makan pedas. Kasihan anak kita kalau kamu makan pedas," ucap Adis menasihati. "Ya sudah. Aku makan bakso saja. Boleh ya, Mas?" pinta Arumi lagi yang akhirnya membuat Adis mengangguk. "Hanya satu porsi ya? Kebanyakan makan bakso untuk ibu hamil nggak baik," ujar Adis yang langsung mendapat pelukan dari Arumi.

__ADS_1


Adis terkekeh pelan. "Ayok! Aku juga mau makan. Sekalian nanti bungkus buat Yusuf dan Ghaida kalau enak," Adis menuntun tangan Arumi menuju kantin rumah sakit. Dia segera memesan bakso yang ingin Arumi makan. Tidak lupa, Adis juga memesan satu es teh dan satu air mineral untuk Arumi.


Tidak terasa, akhirnya waktu tiga puluh menit berlalu begitu cepat. Nama Arumi di panggil oleh salah satu suster untuk segera masuk ke ruang pemeriksaan. Beruntung, Arumi dan Adis sudah menyelesaikan makan baksonya dan bergegas menuju ruang dokter.


"Selamat siang, Pak, Bu," sapa dokter wanita itu ramah. Adis dan Arumi tersenyum dan mengangguk hampir bersamaan. "Silahkan timbang dulu, Bu," perintah sang Dokter lembut yang langsung Arumi laksanakan.


"Berapa berat badannya, Bu?"


"Lima puluh delapan kilo, Dok," jawab Arumi lalu dituntun Adis untuk duduk di kursi yang tersedia di depan dokter. "Naik dua kilo ya, Bu. Ini bagus untuk berat badan anaknya nanti," ucap sang dokter tersenyum senang.


"Sekarang kita tensi dulu," ucap sang dokter lagi. Arumi menurut dan menyerahkan lengannya untuk si periksa tensi darahnya. Tidak butuh waktu lama, hasilnya langsung keluar. Dokter terlihat membelalak ketika melihat angka yang tertera di Tensimeter.


"Sebentar ya, Bu."


"Sus. Tolong ganti Tensimeternya ya? Sepertinya yang ini rusak," pinta sang dokter yang langsung segera dilaksanakan oleh suster. Setelah suster membawa lagi Tensimeter yang baru, dokter kembali memeriksa tekanan darah Arumi.


Lagi-lagi dokter membelalak dan itu membuat Adis semakin khawatir. "Kenapa ya, Dok? Sepertinya dokter begitu terkejut?" tanya Adis penasaran. Dokter segera kembali dari rasa terkejutnya dan menjawab pertanyaan Adis. "Coba bapak lihat angka yang tertera disini," pinta dokter.


Adis dan Arumi sontak melihat angka yang tertera. Mereka sama terkejutnya hingga membelalak tak percaya. "Ibu darah tinggi dan itu nggak baik untuk ibu dan juga anak ibu."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


jangan lupa like dan komennya ya❤️

__ADS_1


__ADS_2