Surga di atas lara

Surga di atas lara
Bab 95. Extra chapter


__ADS_3

Disinilah Ghaida berdiri, di depan rumah orangtuanya tinggal. Ya, di hari minggu ini, Ghaida gunakan untuk mengunjungi orangtuanya yang entah sudah berapa lama tidak dirinya kunjungi.


Ada alasan tersendiri mengapa Ghaida tak lagi mengunjungi orangtuanya, yaitu karena Ghaida selalu mendapat penolakan ibunya. Namun, ditengah-tengah perseteruan Ghaida dan orangtuanya, rindu selalu hadir di relung terdalam Ghaida.


Ghaida rindu dengan senyum, tawa, canda, dan bagaimana orangtuanya berbicara. Sungguh, Ghaida merindukan keduanya sangat.


"Ma? Kenapa kita kesini lagi? Aku nggak mau Mama terkena pukulan lagi dari nenek, Ma," ucap Yusuf bertanya sambil memegangi telapak tangan ibunya. Ghaida menoleh ke samping dimana Yusuf berdiri. "Mama rindu sama kakek dan nenek kamu," Tersenyum sendu menatap anaknya.


Yusuf menghela napasnya kasar. "Ya sudah. Sekarang kita masuk saja ya, Ma? Nanti kalau nenek masih marah-marah lagi sama mama, kita langsung pulang saja," ucap Yusuf kemudian. Ghaida mengangguk. "Kita masuk."


Setelah itu, keduanya berjalan beriringan memasuki pekarangan rumah yang lumayan luas dengan ditumbuhi berbagai macam jenis palawija dan tanaman hias. Ghaida sangat merindukan suasana rumah mass kecilnya.


Tangan Yusuf bergerak untuk mengetuk pintu rumah. Tok, tok, tok. Tidak ada jawaban dari dalam hingga membuat Yusuf berniat untuk mengetuknya lagi. Namun, hal itu segera diurungkannya setelah mendengar pintu dibuka dari dalam.


Ceklek.


Pintupun terbuka lebar dan menampakkan sosok wanita lanjut usia yang masih tetap cantik dengan kerudung yang melekat di tubuhnya. Ghaida terpaku dengan jantung yang berdebar-debar. Apalagi, ibunya itu kini sedang menatap Ghaida dalam diam. Ghaida tidak tahu apakah ibunya sedang dengan kedatangannya atau justru malah sebaliknya.


Namun satu hal yang Ghaida tahu, ibunya terlihat begitu terkejut. Tidak ada yang bersuara untuk memecahkan keheningan yang tercipta. Hingga suara yang berasal dari dalam berhasil memecahkannya. Suara yang sangat Ghaida rindukan, suara milik ayahnya. "Siapa, Bu?" ucap suara ayahnya sedikit berteriak.

__ADS_1


"Assalamualaikum, Nek," sapa Yusuf lirih lalu mengambil telapak tangan bu Jubaedah untuk dicium punggung tangannya. Bu Jubaedah hanya pasrah dengan perlakuan Yusuf. "Waalaikumsalam." jawabnya dengan suara bergetar.


Mendengar itu, air mata Ghaida seketika menetes. Apakah ibunya juga sedang merindukannya? Ghaida bersimpuh di kaki bu Jubaedah yang kini terdiam membeku. "Ibu?" Kalimat itu berhasil membuat bu Jubaedah ikut menangis.


Ghaida semakin meraung-raung dengan kedua tangannya menyentuh kaki bu Jubaedah. "Ibu ... Ghaida rindu ...." Dengan suara yang teredam tangis, Ghaida mengucapkannya.


Bu Jubaedah menangis sesenggukan mendengar ungkapan rindu dari anak yang selama ini tidak pernah dirinya ketahui keberadaanya. Bukan, lebih tepatnya Bu Jubaedah yang memilih untuk tidak mengetahui kehidupan anaknya itu.


Bu Jubaedah ikut bersimpuh dengan kedua tangan merentang. Ghaida buru-buru masuk di antara rentangan tangan itu dengan air mata yang sudah tumpah ruah. "Ibu ... Ibu ...." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Ghaida saking tidak sanggupnya mendefinisikan perasaannya saat ini.


"Ghaida? Kemana saja kamu selama ini?" tanya bu Jubaedah terdengar memarahi dengan posisi masih dalam pelukan. Suaranya bergetar dan tak jelas karena teredam oleh tangis.


Ghaida semakin mengeratkan pelukan di tempat ternyamannya, pelukan yang selama ini begitu Ghaida rindukan. Bahkan, beberapa tahun ini Ghaida harus terbiasa tanpa pelukan dari sang Ibu karena hubungan keduanya yang renggang, melewati setiap hal beratnya sendirian dan hanya bisa betumpu pada Tuhannya.


Bu Jubaedah memukul punggung Ghaida pelan sebagai gerakan akan dirinya terlihat marah. "Ish! Memangnya, ibu semenyeramkan itu?" kesal bu Jubaedah marah namun, air matanya tidak bisa menyembunyikan jika bu Jubaedah juga rindu dengan sang putri.


Yusuf yang melihat itu, ikut menangis terisak. Seskali Yusuf mengusap matanya yang terdapat genangan air mata. Situasi seperti ini tidak pernah ada dalam bayangan Yusuf. Dia tentunya sudah tahu bagaimana hubungan ibu dan neneknya.


Yusuf sudah bukan anak kecil lagi yang masih polos. Hidup bersama ibunya mengajarkan tentang perjuangan dan banyak hal. Yusuf semakin terisak mengingat bagaimana perjuangan sang mama untuk bisa sampai di tahap yang sekarang.

__ADS_1


Dan Yusuf sudah menobatkan ibunya sebagai ibu yang luar biasa untuknya. Mengingat itu, Yusuf ikut bersimpuh dan memeluk mamanya dari belakang. Yusuf merasa tidak tega melihat bagaimana perjuangan hidup sang Mama.


Yusuf semakin meraung-raung hingga membuat Ghaida melepaskan pelukan sang ibu dan menoleh ke belakang. "Yusuf? Kamu nggak papa kan?" tanya Ghaida dengan suara sengaunya. Yusuf hanya memberi respon berupa gelengan.


"Yusuf?" panggil Bu Jubaedah lembut. Yusuf tidak menanggapi dan semakin menyembunyikan wajah sembabnya di punggung Ghaida. "Yusuf cucu, Nenek?" ucap bu Jubaedah bergetar. Ghaida menangis haru, akhirnya sang ibu mengakui Yusuf sebagai cucunya.


Yusuf menghentikan tangis dan mengangkat kepalanya untuk menatap bu Jubaedah. "Kenapa, Nek? Tadi Nenek bilang apa?" tanya Yusuf memastikan sekali lagi.


Bu Jubaedah tersenyum lalu mengusap air matanya yang sejak tadi deras mengalir. "Yusuf cucu, Nenek," ulang bu Jubaedah lagi yang berhasil membuat Yusuf kembali menangis. Dia merasa dianggap menjadi anggota keluarga mamanya.


"Nenek." rengek Yusuf kemudian berhambur ke pelukan bu Jubaedah. "Maafkan nenek selama ini ya, Suf? Nenek sudah jahat sama kamu sama mama juga. Nenek terlalu egois dan mementingkan gengsi," sesal bu Jubaedah dengan tangannya yang bergerak mengelus punggung sang cucu lembut.


Yusuf menggeleng. "Yang terpenting sekarang, kita bisa berbaikan lagi, Nek. Yusuf sudah senang kok," ucap Yusuf sambil mengeratkan pelukan pada sosok nenek yang tidak pernah Yusuf rasakan kasih sayangnya.


Pak Jarwo yang sejak tadi hanya menjadi penonton dari situasi haru biru itu, akhirnya bersuara dan membuat semua terkekeh dengan tangis yang tersisa. "Kalian lagi main sedih-sedihan tapi nggak ngajak kakek. Tega banget kalian semua," canda pak Jarwo terkekeh dengan air mata yang masih setia mengalir.


Hari ini adalah hari terbahagia untuk pak Jarwo. Bisa melihat anak dan cucunya datang adalah suatu hal yang sangat pak Jarwo nantikan. Tidak berbeda jauh dari istrinya, pak Jarwo juga memegang teguh ego dan gengsinya. Sehingga, dia tidak ada niatan untuk menemui sang anak sebelum Ghaida yang datang sendiri padanya. Pak jarwo berprinsip pada 'orangtua tidak pernah salah'. Namun, pak Jarwo menyadari jika sikapnnya tidak dibenarkan.


Semua ikut terkekeh. "Jangan ada sedih lagi di antara kita, Pak. Setelah ini, kita harus hidup bahagia karena cucu dan anak kita sudah kembali," ucap bu Jubaedah merangkul bahu Ghaida dan Yusuf secara bersamaan di kanan dan kiri sisi tubuhnya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


jangan lupa kasih dukungan kalian ya😍


__ADS_2