
Mata David membelalak saat melihat papanya mulai membaringkan wanita itu di sofa, keduanya saling berciuman, berpelukan, hingga tubuh keduanya tidak lagi di selimuti oleh sehelai benang pun. Tubuh David seketika gemetaran, perutnya serasa sangat mual.
"Sudah saatnya melakukan permainan yang sesungguhnya," ucap Efendi Bahkri, ayah David dengan tatapan mata penuh gelora pada sosok wanita tak berbusana di bawahnya.
"Ya, aku sudah tidak tahan lagi, di bawah sana sudah cukup basah," sambut wanita itu dengan suara manja yang menambah kegilaan pada ayah David.
David menelan saliva, saat merasakan sesuatu dari kerongkongannya mulai merambat naik ke tenggorokan, dadanya terasa sesak hanya untuk sekedar menghirup udara. Apalagi, ketika dua orang dewasa itu dengan tak tahu malu melakukan adegan yang belum pernah David lihat seumur hidupnya. Suara rintihan bersahut-sahutan mengisi ruangan hingga menimbulkan gema. Saat itu juga, David tidak kuasa menahan sesuatu yang bergejolak di perutnya. Hingga..
Hoekk.. huuekk..
David muntah. Hal itu tentu saja menarik perhatian dua orang yang sedang berbagi keringat di ruang terbuka yang tak berani di datangi oleh para perkerja rumah, lantaran mereka tahu aktifitas apa yang sedang dilakukan oleh sang Tuan Rumah.
"Siapa itu?!" teriak Efendi yang kini tergesa-gesa mengenakan pakaiannya. Tak berbeda jauh dari wanita yang semula berada di bawah kungkungannya, raut wajahnya sudah panik sambil memasang pakaian ke tubuh dengan tergesa-gesa. Ia pun berkata.
"Apa istrimu di rumah? Kenapa tidak memberitahuku?"
__ADS_1
Namun, Efendi tak menghiraukannya karena sibuk mencari sumber suara hingga terdengar David kembali memuntahkan seluruh isi perutnya, membuat tenggorokan dan hidungnya terasa panas juga perih. Kepalanya pusing dengan tengkuk yang begitu berat.
"David!" pekik Efendi terkejut bukan main. Mendengar teriakan itu begitu dekat, David mendongak dan mendapati sang Ayah ada di hadapannya. Seketika, tubuh David menegang di tempat.
"Papa. A-a-aku— Aargh!" David memekik kesakitan saat tubuhnya didorong dengan kencang hingga terbentur rak dan mengakibatkan buku-buku yang tertata berserakan.
"Dasar anak si alan! Kamu melihatnya sejak tadi? Hah? Jawab!" cecar Efendi murka. Hal itu membuat David tidak berani mengangkat kepala. Belum lagi rasa sakit di tubuhnya akibat dorongan kencang sang Ayah, dia hanya bisa menangis tanpa suara, sesenggukan hingga rasanya begitu menyesakkan.
"M-m-maaf, Pa. A-a-ak-Aaaaargh! Papa jangan! Sakit, Pa! Aargh!" David kembali berteriak pilu saat tubuhnya diseret paksa. Air matanya sudah bercucuran lantaran tak sanggup lagi membendung sikap kasar sang ayah untuk pertama kalinya. Bocah kecil itu harus merasakan kekerasan yang begitu menyakitkan.
"Tante ... Tolong aku ... Tolong." David sesenggukan, memohon pada wanita yang kini berdiri tidak jauh dari ayahnya, dia berharap wanita itu masih memiliki belas kasihan padanya. Namun nyatanya, wanita itu justru tersenyum miring, tidak peduli akan kesakitan yang David rasakan.
"Papa, sakiiiit!" teriak David saat dagunya dicengkram erat tanpa ampun. Ayahnya membabi-buta meluapkan seluruh kemarahan pada David.
"Jangan panggil aku Papa. Dasar anak tidak tahu diri! Berani-beraninya kamu mengintip! Mau jadi apa kamu nantinya, Hah?!" Rahang ayahnya sudah mengeras dengan gigi-gigi yang bergemeretak, pancaran matanya sangat mengintimidasi, membuat nyali David menciut.
__ADS_1
David menangis histeris dan memejamkan mata saat tubuhnya terasa melayang. "Papa! Jangan, Pa!" Berulang kali David memohon sampai suaranya serak, agar papanya mau menghentikan aksi gilanya. Mengabaikan tangis pilu sang Putra, karena batinnya sudah dikuasai amarah, Efendi membanting tubuh David ke lantai dengan kencang.
Bugh.
Sejenak, David seperti kehilangan nyawanya. Matanya berulangkali mengerjap saat sekeliling terlihat memburam. Belum genap David mengembalikan kesadaran, sang Ayah kembali mendekat dan menjerat lehernya erat.
David tak bisa bernapas. Tangan kecil dan lemahnya bergerak memukul lengan sang Papa agar terlepas dari sana. "P-paaa..." cicit David. Tubuhnya sudah bergerak tidak menentu, bagai merasakan kesakitan orang-orang yang sedang sekarat.
"Fendi! Sudahlah. Kalau dia ma ti, kita juga yang repot," ucap wanita itu sambil melipat lengan di depan dada. David seketika kecewa. Ayahnya lebih mendengarkan wanita iblis itu dibanding darah dagingnya sendiri. Terbukti, ayahnya kini melepaskan David dari cengkeraman.
Ayahnya berdiri di samping wanita itu sambil berkacak pinggang. Tanpa berkata-kata, Efendi berlalu meninggalkan David dengan sekujur tubuh yang sakit. Mulai saat itu, David tak banyak bicara lagi. Gambaran keluarga bahagia dan ulang tahun meriah tidak akan pernah terjadi. Semua itu hanya tinggal mimpi, berganti dengan rasa kecewa dan sakit yang teramat dalam.
Sebuah tanya seketika terbesit di kepala. Kemana ibunya pergi sekarang ini? Apa ibunya itu tidak mendengar jerit kesakitan yang David rasakan? "Papa orang jahat," gumam David dengan suara terbata-bata. Semua yang David lihat baru saja, terekam jelas di kepala. Hal itu membuat David berpikir jika hari ini adalah hari paling sial sedunia. Terlebih tak ada satu pun pekerja yang datang membantu David kala itu, rumah ini seperti neraka, pikirnya.
baca selengkapnya langsung ke novelnya yuk...
__ADS_1