Surga di atas lara

Surga di atas lara
Berbagi Suami by Ika Oktafiana


__ADS_3


Inara menyeret langkahnya menuju ballroom, tempat dimana acara pernikahan sang Suami akan berlangsung. Sebenarnya, Inara tidak harus menghadiri acara tersebut. Hanya saja, ibu mertuanya memaksa hadir, sebagai sebuah bukti jika Inara benar-benar rela untuk dimadu.


"Kamu harus datang. Jangan sampai orang-orang mengira jika kamu tidak dengan sukarela membagi Arjuna. Padahal, kamu saja yang tak kunjung hamil hingga pernikahan kedua Arjuna harus digelar," ucap Mama Azni, sang ibu mertua.


Ya. Pernikahan Inara sudah berjalan hampir lima tahun. Tetapi, Inara tak kunjung diberi momongan oleh Yang Maha Kuasa. Menurut syariat, memang tidak ada larangan karena sang Suami ingin memiliki keturunan.


Walau sesak sekaligus kecewa karena harus berbagi suami, Nara mencoba menguatkan hati. Seperti janji suaminya tempo hari, anak yang akan lahir dari istri kedua, akan menjadi anak Nara juga. Namun, untuk membayangkannya saja Nara tidak sanggup.

__ADS_1


Tidak ingin terlihat menyedihkan di tengah keramaian, Nara duduk di antara tamu undangan yang ingin menyaksikan pernikahan itu berlangsung.


Banyak tatapan mata iba tertuju kepadanya. Mungkin, mereka sudah mengetahui jika Nara merupakan istri pertama dari seorang Arjuna Bagaswara.


Gamis panjang yang Nara gunakan seakan sudah tak mampu meningkatkan kepercayaan diri Nara. Padahal, gamis itu didesain dengan sangat indah walau Nara memilih warna hitam sebagai dasarnya.


"Saya terima nikah dan kawinnya Ranadya binti Bapak Beni Anggara, dengan maskawin yang tersebut, tunai!"


"Para saksi sah?"

__ADS_1


"SAH!"


Saat itu juga Inara kembali menitikkan air mata. Apalagi ketika melihat suaminya tengah mencium kening Nadya, sang Istri kedua. Bagai ada ribuan belati yang menghunus jantung Nara.


Dunia Nara seakan berhenti berputar. Nyawanya seperti ditarik paksa untuk menerima kenyataan pahit di depan sana. Namun, ketika tatapnya bertemu dengan mata sang Suami, Nara memaksakan bibirnya untuk tersenyum.


"Selamat," gumam Nara dengan menguatkan hatinya sekeras baja. Arjuna yang berada beberapa meter darinya, balas tersenyum iba. Nara tidak suka ditatap seperti itu seakan dia adalah seorang wanita yang payah.


.... baca selengkapnya langsung di aplikasi ya...

__ADS_1


__ADS_2