Surga di atas lara

Surga di atas lara
Bab 62. Pnemonia Aspirasi


__ADS_3

Karena kondisinya sudah membaik, Zada memberanikan diri untuk mampir sebentar ke rumah bu khadijah. Dia ingin memberikan mainan yang belum sempat dia berikan pada Arka.


Zada juga akan berusaha untuk bersikap senormal mungkin saat bertemu Zaky, seperti sembilan bulan yang lalu saat Zaky meminta dirinya menjaga anak dan istrinya.


Saat dirinya baru turun, perutnya terasa perih sehingga membuat ekspresi wajahnya meringis. Walau demikian, Zada tetap menyeret langkahnya memasuki rumah dengan mainan yang di tentengnya di dalam paperbag.


"Assalamualaikum." sapa Zada untuk pertama kalinya.


"Waalaikumsalam." jawab semua yang sedang berkumpul di ruang tengah. Ada Zoya, Yasa, bu Khadijah dan ... Zaky. "Eh!Ada Zada. Sini masuk, Da ... Zaky sudah pulang tapi kamu kok kemarin tumben nggak kesini?" ucap bu Khadijah dengan binar di matanya.


Zada tersenyum tipis. "Kemarin aku capek banget, Bu. Jadi nggak sempat kesini," jawab Zada berbohong. "Sini, Mas. Mas Zaky mau bicara sama kamu," ucap Zoya berdiri, lalu mempersilahkan Zada untuk duduk di samping Zaky.


"Mas, ada mas Zada tuh," ucap Zoya memberitahu Zaky yang memang belum bisa melihat. "Dimana? Zada? Kamu disini? Ayo duduk sini," ucap Zaky tersenyum lalu menepuk tempat kosong di sebelahnya.


Dengan terpaksa, Zada menyeret langkahnya untuk duduk di samping Zaky. Ada perasaan canggung yang menyergap di hatinya. Dan bersamaan dengan itu, perutnya lagi-lagi merasa perih dan kepalanya mendadak pusing.


Sebelum benar-benar duduk, Zada mengangsurkan paperbagnya pada Zoya dan berkata. "Ini mainan untuk Arka. Tadi aku lihat di jalan dan kayaknya bagus untuk belajar Arka," Zada memegangi dadanya yang sejak tadi sesak namun sekarang, terasa lebih sesak lagi hingga membuatnya kesulitan bernapas.


Zoya menerima paperbag itu dan tersenyum. "Terima kasih ya, Mas. Jadi repot kamunya," Baru saja Zoya menyelesaikan ucapannya, tubuh Zada tiba-tiba limbung dan hampir saja menimpa Zoya jika Zaky tidak segera menghalanginya.


"Mas Zada!"


"Zada!"


"Ya Allah Ya Robbi!"

__ADS_1


Semua yang berada di ruangan sontak memekik kaget karena Zada lagi-lagi tak sadarkan diri seperti tempo hari. Semua mendadak panik dan bergegas membawa Zada ke rumah sakit. Bu khadijah, Zaky, dan Zoya yang mengantar Zada ke rumah sakit.


Sedang Yasa, dia ditugaskan untuk menjaga Arka di rumah. "Tolong jaga Arka dulu ya, Sa. Aku takut terjadi sesuatu yang buruk jika mas Zada tidak segera dibawa ke rumah sakit," ucap Zoya dengan wajah paniknya.


Yasa mengangguk. "Mbak Zoya tenang saja, aku akan menjaga Arka, Mbak. Selesaikan dulu urusan mbak Zoya,"


....................


Semua menunggu dengan gelisah karena sudah satu jam pemeriksaan, dokter belum juga keluar dari ruangan. Bu Maya dan pak Rama yang sudah datang dan ikut menunggu, sejak tadi mondar-mandir dengan gelisah.


"Pa, bagaimana kalau Zada kenapa-napa?" Bu Maya terisak dan menyusut air matanya yang sejak tadi mengalir deras. "Tenang, Ma. Zada pasti baik-baik saja," ucap pak Rama menenangkan walau sebenarnya, dirinya berada dalam posisi yang sama, yaitu takut dan khawatir.


Zoya hanya terdiam dengan pikiran kalutnya. Zoya tidak bisa memaafkan dirinya sendiri jika sampai terjadi sesuatu pada Zada. Kondisi Zada yang sekarang ini tidak lain adalah karena dirinya.


Zoya menghela nafasnya kasar. "Sudah sekitar empat bulan terakhir ini, Mas," jawab Zoya lesu lalu menyandarkan kepalanya yang terasa berat pada bahu Zaky.


Deg.


"Apa keadaan Zada yang sekarang semua itu karena aku yang menyuruh dia untuk menjaga kalian?" tanya Zaky dengan jantung yang memompa dua kali lebih cepat.


Zoya terdiam tidak menjawab apapun. Zaky yang tidak mendengar apapun seketika sadar bahwa kondisi Zada yang sekarang adalah karena dirinya. "Jangan menyalahkan diri sendiri, Mas. Kita doakan saja semoga mas Zada baik-baik saja," ucap Zoya yang tahu akan pemikiran suaminya.


Akhirnya, dokter keluar dari ruangan dan semua yang menunggu langsung berhambur menghampiri sang dokter. Bu Maya dan pak Rama yang paling tergesa-gesa untuk segera mendapat informasi dari dokter. "Bagaimana keadaan anak saya, Dok? Dia baik-baik saja kan?" tanya bu Maya tidak sabaran.


Pak Rama mengelus punggung bu Maya agar istrinya itu lebih tenang. Zoya, Zaky, dan bu Khadijah hanya terdiam menyimak penjelasan yang akan dokter katakan.

__ADS_1


Dokter tampak menghela nafasnya kasar. Gurat lelah terpancar di wajah dokter pria itu. "Apa pasien mengalami asam lambung sejak lama?" tanya dokter pada bu Maya.


"Iya, Dok. Anak saya pernah masuk rumah sakit dan dirawat untuk sakit mag. Memangnya kenapa, Dok?" jawab pak Rama yang tidak sabar untuk mengetahui kondisi anaknya.


Lagi-lagi dokter terlihat menghela nafas seakan berita yang akan dia katakan beritu berat. "Pasien mengalami PNEMONIA ASPIRASI atau infeksi paru-paru," ungkap dokter yang membuat semuanya terkejut bukan main.


"Kenapa bisa seperti itu, Dok? Apa ini berbahaya?" tanya Zoya yang mulai menangis. Zaky berusaha untuk memeluk Zoya demi memberikan ketenangan. "Asam lambung yang naik ke tenggorokan atau mulut dapat terhirup ke dalam paru-paru jika itu dibiarkan terus-menerus. Dan gejalanya sudah ada namun sepertinya, pasien berusaha menyembunyikannya," jelas dokter hingga membuat semua yang ada disana tertunduk lesu.


"Kemungkinan untuk sembuhnya lebih besar kan, Dok?" tanya Zoya semakin ketakutan. "Kita berdoa saja ya, Bu. Semoga kondisi pasien membaik setelah sadar nanti,"


Mendengar ucapan dokter membuat pikiran Zoya semakin tidak karuan. Apa tadi dokter bilang? Semoga membaik setelah sadar? Apa itu artinya ... Tidak! Zoya segera menggelengkan kepalanya untuk menggusah pikiran buruknya.


Setelah Zada di pindahkan dari IGD ke ruang ICU, satu persatu dari mereka bisa melihat kondisi Zada yang masih terkulai lemah. Kulitnya terlihat membiru karena efek Pnemonia Aspirasi yang diderita Zada.


Hati Zoya merasakan sakit yang teramat ketika melihat wajah pucat Zada dengan alat medis yang menempel di tangan dan dadanya. Belum lagi pernapasannya yang butuh bantuan oksigen. Kondisinya masih perlu pemantauan dari dokter oleh karena itu, Zada tidak langsung di pindah ke ruang bangsal.


"Kamu harus kuat, Mas. Kamu harus bahagia setelah ini. Jangan biarkan kamu berada di posisi seperti ini," ucap Zoya dengan jemarinya yang bergerak menyusut air matanya. "Jangan buat aku hidup dalam rasa bersalah yang besar karena kamu belum bahagia," sambungnya lagi menyayat hati.


Hanya ada dirinya dan Zada yang berada ruangan itu karena tidak diperbolehkan banyak orang yang masuk. Akhirnya mereka bergantian menemui Zada yang masih belum sadarkan diri.


"Lawan sakitmu ya, Mas. Kamu pasti bisa,"


***********


jangan lupa like komen, vote, dan kasih hadiahnya ya😍

__ADS_1


__ADS_2