Surga di atas lara

Surga di atas lara
Bab 45. Penjelasan Ghaida


__ADS_3

Saat ini, Zoya sedang berada di sebuah restoran yang masih berada dalam mall. Dia kesana atas ajakan Ghaida yang katanya ingin membicarakan hal yang penting.


Sejak tadi, Zoya hanya terdiam menunggu kata apa yang akan Ghaida ucapkan. Ya, ibu dari Yusuf adalah Ghaida. Zoya juga tidak pernah menyangka takdir akan mempertemukannya dengan Ghaida lagi.


Sedangkan Zaky, dia sengaja memberikan ruang untuk zoya berbicara dengan Ghaida. Zaky juga mengajak Yusuf untuk bermain dengannya terlebih dahulu agar tidak menganggu dua wanita itu.


"Mbak Zoya apa kabar?" tanya Ghaida tersenyum canggung. Zoya berdehem terlebih dahulu sebelum menjawab. "Ehem, aku kabar baik. Kamu sendiri?"


Ghaida tersenyum lagi. "Tidak ada yang baik setelah tujuh tahun terakhir ini," ucapnya sendu. Zoya menatap Ghaida lekat. Belum banyak yang berubah dari penampilan Ghaida. Hanya saja, wajahnya kini sudah terdapat beberapa kerutan halus di bawah mata. Padahal, usia Ghaida lebih muda dari Zoya.


"Maksud kamu?" tanya Zoya yang memang tidak mengerti. Ghaida menatap Zoya lekat dan Zoya bisa melihat, mata itu berkaca-kaca. "Maafkan aku, Mbak," Hanya kalimat itu yang terucap setelahnya, Ghaida semakin terisak.


Zoya sangat benci dengan keadaan yang seperti itu. Entah mengapa, melihat Ghaida yang menangis membuat salah satu sudut di hatinya merasakan nyeri. Harusnya, Zoya merasa senang karena orang yang telah merebut kebahagiaanya kini hidupnya tidak lebih baik dari dirinya.


Zoya memberikan ruang pada Ghaida untuk menangis terlebih dahulu. Sesekali Zoya menyeka air matanya yang sebenarnya tak perlu jatuh. Setelah tangisnya reda, Ghaida mendongak lagi, menatap Zoya.


"Mbak ... Aku mempunyai begitu banyak kesalahan dengan, Mbak Zoya. Dan aku nggak tahu apakah kesalahanku bisa di maafkan. Aku sadar, Mbak ... Kesalahanku sudah sangat besar," sesal Ghaida berlinang air mata.


Zoya menatap mata Ghaida lekat untuk mencari kebohongan disana. Namun, sialnya Zoya tidak menemukannya. Yang ada, mata Ghaida memancarkan penyesalan yang begitu dalam. Zoya menghela nafasnya lelah. "Semua sudah berlalu, Da. Tidak ada yang harus di ungkit lagi," jawab Zoya datar.


Ghaida menggeleng. "Semua memang sudah berlalu, Mbak. Tapi, rasa bersalah dan penyesalan itu selalu menghantuiku. Tapi, Mbak Zoya tenang saja, hidupku saat ini sangat buruk dan aku sadar, itu pantas untukku," ucap Ghaida menyesal sedalam-dalamnya.


Zoya masih terdiam tidak tahu harus menjawab apa. Bisa dibilang, Zoya sudah berdamai dengan masa lalunya. Jadi, rasanya Zoya tidak perlu membahasnya lagi.


"Mbak?"

__ADS_1


Zoya mendongak saat tangan Ghaida menyentuh punggung tangannya yang berada di atas meja. Zoya juga menatap tangannya yang sekarang sudah di genggam oleh Ghaida. "Apa?" jawab Zoya seadanya.


"Tolong maafkan aku, Mbak. Seumur hidup, aku tidak akan bisa hidup tenang tanpa maaf dari, Mbak Zoya. Aku sudah tidak sanggup lagi menerima balasan dari perbuatanku dulu, Mbak. Aku ... Aku begitu menderita. Di kucilkan, di gunjingkan, bahkan, aku juga di usir berpuluh-puluh kali dari tempat tinggal yang aku sewa," Ghaida terisak lagi.


Sedangkan Zoya, dia membelalak tak percaya bahwa efek dari perbuatan Ghaida akan berimbas pada masa depannya. Bahkan, imbasnya tidak main-main.


"Aku sudah memafkanmu," jawab Zoya singkat. Ghaida langsung tersenyum haru dan mengusap pipinya yang basah karena air mata. "Terima kasih, Mbak. Hati Mbak Zoya begitu baik dan lembut wajar, bila mas Zada akhirnya meninggalkan aku dan katanya, ingin kembali lagi pada, Mbak Zoya,"


Mendengar nama Zada, Zoya langsung menghela nafas lelah. " Lima hari lagi, aku akan menikah," ucap Zoya yang tidak ingin membahas tentang mantan suaminya. Ghaida tampak terkejut. "Mbak Zoya akan menikah? Dengan pak polisi itu?" tanya Ghaida dengan nada yang sedikit meninggi.


Zoya mengangguk santai. "Dia calon suamiku,"


"Maaf, Mbak. Aku mengira, Mbak Zoya akan kembali lagi dengan mas Zada," Ghaida menunduk kemudian mendongak lagi. "Tapi, ada satu hal yang harus mbak Zoya ketahui,"


"Apa?"


Ghaida menghela nafasnya. "Soal aku dan mas Zada yang melakukan ...." Zoya mengangguk paham kemana arah pembicaraan Ghaida. "Itu karena ... Aku yang menggoda mas Zada," Ghaida menunduk lagi, merasa sudah tidak punya muka.


Entahlah, Zoya harus bersikap biasa saja atau terkejut. Karena, itu sudah tidak penting lagi untuk dibahas. "Itu hanya masa lalu, Da. Aku masih punya masa depan yang cerah bersama mas Zaky. Aku tidak peduli lagi apa yang terjadi pada kalian berdua waktu itu. Aku sudah tidak mau membahasnya lagi,"


"Tapi, Mbak. Ada satu hal yang harus mbak Zoya ketahui. Aku menaruh obat di minuman mas Zada waktu itu agar mas Zada mau menyentuhku. Mas Zada sebenarnya menolak tapi, aku — "


"Cukup! Aku rasa pembicaraan kita cukup sampai disini. Aku sudah tidak mau membahasnya lagi. Aku pergi dulu,"


Tanpa memedulikan Ghaida, Zoya keluar begitu saja meninggalkan Ghaida yang masih menatap kepergian Zoya. "Maafkan aku, Mbak. Aku memang tidak tahu diri. Tapi, aku harus menjelaskannya padamu supaya mas Zada tidak disalahkan terus menerus. Aku yang sangat bersalah disini," gumam Ghaida yang samar-samar masih tertangkap oleh indera pendengaran Zoya.

__ADS_1


.............................


Pekerjaan Zada sejak tadi hanya berbaring di sofa lalu berpindah ke kamarnya, begitu terus selanjutnya. Zada begitu patah hati saat mendengar Zoya akan menikah lagi. Zada pikir, selama tujuh tahun terakhir ini, Zoya menunggu dirinya karena tak kunjung menikah.


Zada tentu tahu semua tentang Zoya karena ada orang kepercayaannya yang mengawasi Zoya. Jujur saja, Zada masih sangat mencintai Zoya. Rasa cinta yang hadir untuk Ghaida hanya sesaat saja karena rasa kehilangan Zoya ternyata lebih pedih dari apapun.


Apalagi, orang kepercayaannya mengatakan bahwa Zoya masih berhubungan baik dengan orangtuanya, yaitu bu Maya dan pak Rama. Zada merasa, dia masih punya secercah harapan untuk kembali membangun rumah tangga dengan mantan istrinya. "Zada? Sampai kapan kamu terus seperti itu?" tanya bu Maya yang merasa jengah dengan sikap anaknya.


Dulu, saat masih bersama Zoya, malah disia-siakan. Sekarang, Zoya akan menikah malah menangis. "Ma ... Sakitnya tuh, disini," ucap Zada sambil menunjuk dadanya sebelah kiri.


"Rasakan! Salah siapa bertindak tanpa berpikir dahulu. Kamu pikir, bangkai tidak akan tercium busuk kalau di sembunyikan? Sekarang, nikmatilah penderitaanmu," ucap bu Maya menggebu-gebu.


Zada menjambak rambutnya frustasi. Berbicara dengan mamanya sama sekali tidak memberikannya solusi. Yang ada, Zada semakin di buat pusing dan patah hati berkali-kali. "Sebenarnya, yang anak Mama tuh, aku atau Zoya sih?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


wkwkwk, rasakan pembalasannya 😄😄


duh duh... si Zada lagi patah hati nih😄


jangan lupa dukungannya ya 😍. dukungan kalian akan sangat berpengaruh pada kerja otakku 🙃


kalian moodbooster😍😘


baca juga yuk, karya temanku ..

__ADS_1



__ADS_2