Surga di atas lara

Surga di atas lara
Bab 91. Extra Chapter


__ADS_3

Pagi harinya, Arumi sengaja bangun pagi untuk menjalani program hidup sehat. Namun, hal itu berakhir sia-sia ketika Arumi melihat suaminya sedang bersenda-gurau dengan Ghaida.


"Mas, dari semalam kamu nggak bicara sama aku tapi, ketika aku melihatmu pagi ini, justru membuatku semakin sakit hati," monolog Arumi merasakan sesak di hati.


Darah tinggi Arumi bukannya turun malah semakin naik ketika melihat Adis memeluk Ghaida dari belakang dan begitu mesranya. Ingin marah pun, rasanya percuma karena Arumi sadar bahwa menjadi istri kedua memang tidak seindah yang dibayangkan.


Arumi akhirnya mengurungkan niat untuk ke dapur. Dia akan keluar setelah sarapan selesai di hidangkan saja.


..........


"Arumi kok belum turun ya, Mas?" tanya Ghaida setelah sarapan terhidang di atas meja. Adis menoleh ke arah tangga dimana biasanya, Arumi selalu datang tiba-tiba dan merusak suasana yang tercipta. "Iya ya. Mungkin lagi mandi," jawab Adis menerka-nerka.


Tidak berapa lama, Yusuf masuk dari arah depan dimana kolam ikan berada. Begitulah kegiatan pagi Yusuf sebelum sarapan, yaitu memberikan ikan-ikan di kolam dengan makan.


"Tante Arumi belum turun ya, Ma?" tanya Yusuf yang juga memperhatikan keabsenan Arumi. Ghaida menggeleng. "Belum. Coba kamu susul ke kamarnya. Barangkali dia pusing lagi," pinta Ghaida lembut.


Yusuf menurut dan menaiki anak tunggu menuju kamar Arumi. Sepeninggalan Yusuf, Ghaida mulai menaruh satu tumpuk roti bakar kesukaan suaminya. "Satu dulu ya, Mas. Kalau mau lagi tinggal nambah saja," ucap Ghaida tersenyum manis. Adis mengangguk dan segera mengambil garpu juga sendok.


Tidak berapa, Yusuf sudah kembali namun hanya sendiri. Tatapan Ghaida tidak pernah lepas menatap Yusuf untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Arumi. "Tante Arumi kemana? Dia baik-baik saja kan?" tanya Ghaida khawatir.


Yusuf tidak langsung menjawab namun, menunggu hingga dirinya duduk di kursi. "Katanya, kepalanya pusing, Ma," jawab Yusuf yang membuat Adis menghentikan gerakannya. "Ya Allah. Aku ke kamar dulu ya, Da. Semoga nggak terjadi apa-apa sama Arumi," ucap Adis khawatir kemudian, berlalu meninggalkan sarapan juga Ghaida yang masih tercenung.

__ADS_1


'Sebegitu khawatirkah mas Adis pada Arumi? Apa saat aku sakit, mas Adis juga khawatir? Ghaida sadar! Arumi kan sedang hamil anak Adis,' batin Ghaida merasa cemburu sekaligus tertampar oleh kenyataan.


"Ma? Yuk kita sarapan," ajak Yusuf yang menyentak lamunan Ghaida. Ghaida tersenyum kikuk dan mengangguk. Setelah itu, keduanya makan dalam diam. Bukan, tepatnya Ghaida yang sedang tidak ingin mengatakan apapun karena saat ini, pikirannya begitu penuh akan rasa cemburu yang tiba-tiba hinggap di hatinya.


Padahal, Ghaida sudah berusaha untuk memaklumi dan menerima poligami yang Adis lakukan. Harusnya, Ghaida tidak boleh terlalu terbawa perasaan dan berujung sakit hati. Ghaida merasa, selera makannya sudah menguar entah kemana. Perut yang semula terasa lapar kini, kenyang mendadak walau tanpa diisi sedikitpun makanan.


Akhirnya, Ghaida berangkat tanpa berpamitan terlebih dahulu pada suaminya. Dia hanya menitipkan pesan pada Bibi, asisten rumah tangganya supaya memberitahu jika dirinya dan Yusuf sudah berangkat dan tidak berpamitan karena tidak ingin menganggu Arumi.


Tidak sampai satu jam, akhirnya Ghaida sampai di toko bunga yang pintu gesernya sudah terbuka. Ghaida berpikir jika Zoya sudah datang untuk membuka tokonya. Namun, dugaannya salah karena saat ini, justru Reni yang berada dalam toko bunga.


"Assalamualaikum." sapa Ghaida saat memasuki toko. "Waalikumsalam." jawab Reni yang saat ini sedang duduk di kursi yang tersedia di salah satu sudut ruangan tersebut.


Ghaida tersenyum sendu. "Bulan madu ya?" tanya Ghaida terdengar sumbang. Dahi Reni mengernyit, "Iya. Kenapa? Kok Mbak Ghaida kaya nggak suka gitu?" cecar Reni yang membuat Ghaida terkejut setengah mati.


Ghaida menggeleng cepat untuk mematahkan asumsi Reni. "Nggak. Bukan itu maksudku, Ren. Aku justru ikut bahagia dengan kebahagiaan yang mbak Zoya rasakan sekarang. Aku hanya mengingat diriku sendiri," jelas Ghaida tersenyum getir.


"Memangnya kenapa, Mbak? Nggak pernah bulan madu ya?" canda Reni terkikik. Ghaida mengangguk. "Iya. Aku nggak pernah bulan madu karena ada Yusuf yang tidak mungkin aku tinggal," jawab Ghaida tidak sepenuhnya berbohong.


Memang, selama ini Ghaida terlalu sibuk mengurusi Yusuf dan harus bolak-balik ke rumah sakit untuk kemoterapi. Dan beruntungnya, sekarang Yusuf sudah lebih baik dan tidak separah dulu.


"Kan sekarang Yusuf sudah besar, Mbak. Kenapa nggak waktu sekarang saja bulan madunya?" tanya Reni tanpa berpikir terlebih dahulu. Ghaida tersenyum kecut. "Justru, sekarang semakin tidak bisa karena istri muda suamiku sedang hamil. Lagian, aku tidak terlalu berharap untuk pergi bulan madu bersama suami kok," ujar Ghaida berbohong. Padahal dalam hati, Ghaida ingin sekali pergi berdua bersama suaminya.

__ADS_1


Reni mengerjap dan merasa begitu bersalah karena pertanyaannya tanpa sadar telah melukai hati Ghaida. "Maaf ya, Mbak. Aku nggak bermaksud untuk membuat mbak Ghaida tersinggung," sesal Reni.


Ghaida mnggeleng cepat dan berusaha mengulas senyumnya. "Nggak papa kok, Ren. Kamu sama sekali tidak menyinggungku," kekeh Ghaida lalu segera mengambil posisi di balik meja untuk memulai tugas yang sudah menjadi tanggung jawabnya.


Hening.


Begitulah kira-kira suasana yang bisa menggambarkan keadaan di ruangan tersebut. Reni berdehem beberapa kali karena merasa tidak nyaman terlibat dalam keheningan yang membuat suasana semakin menegang.


"Mbak Ghaida?" panggil Reni lirih. Ghaida menoleh dengan raut wajah penuh tanda tanya. "Kenapa?" jawabnya singkat yang berhasil membuat nyali Reni menciut seketika. Sejauh ini, Reni belum pernah melihat Ghaida bersikap sedingin itu. Dan pada saat Ghaida mengeluarkan ekspresi tersebut, suasana yang awalnya tegang semakin bertambah mencekam.


"Maafkan aku ya, Mbak. Aku suka sekali berbicara tanpa berpikir terlebih dahulu. Aku tidak sengaja saat mengucapkannya dan tidak ada niatan untuk menyindir atau membuat mbak Ghaida terluka. Sekali lagi, aku minta maaf ya, Mbak," sesal Reni masih belum menyerah untuk mendapatkan kata maaf dari Ghaida.


Ghaida tertawa. "Apa kamu sedang menganggapku sedang marah?" tanya Ghaida disela tawanya. Walau ragu, Reni mengangguk sebagai jawaban. Hal itu justru semakin membuat Ghaida tertawa terbahak-bahak. "Ya Allah, Reni ... Aku nggak papa kok ... Aku biasa saja. Kamu nggak perlu sekhawatir itu," ujar Ghaida menenangkan.


Reni tersenyum lega menatap Ghaida. "Aku kira mbak Ghaida marah karena ucapanku yang ceplas-ceplos. Sekali lagi, aku minta maaf ya, Mbak?" pinta Reni lagi.


Ghaida mengangguk mantap. "Aku sudah memaafkan kamu walau tanpa kamu minta kok, Ren," jawab Ghaida tersenyum haru.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


jangan lupa kasih dukunganya 😍

__ADS_1


__ADS_2