
Zoya sudah sampai di rumahnya saat langit masih menyiram bumi dengan rintik-rintik air. Zoya pulang saat derasnya hujan sudah mereda. Zoya menghela nafasnya lega karena pulang dengan selamat.
"Mbak Zoya kehujanan ya?" tanya Yasa khawatir. Zoya tersenyum simpul. "Iya nih ... Tapi nggak papa karena hujan itu berkah," jawab Zoya bahagia. Yasa tersenyum dan mengangguk membenarkan. "Iya, hujan adalah berkah,"
"Aku masuk dulu buat ganti baju ya? Takut masuk angin," pamit Zoya pada Yasa yang berada di meja kasir. Mulut Yasa terbuka seperti ingin berbicara. Zoya yang mengerti akan itu pun memilih bertanya. "Kenapa, Sa? Apa ada yang mau kamu bicarakan?"
"Itu, Mbak. Tadi ada pak Polisi yang mencari, Mbak Zoya. Katanya dia mau bicara penting," jelas Yasa menatap Zoya. Zoya mengangguk. "Nanti saya hubungi dia balik," ucap Zoya lalu akan berjalan meniti anak tangga namun, semua itu urung karena Yasa bersuara lagi.
"Mbak Zoya kenal sama pak Polisi itu ya? Boleh dong, Mbak ... Kenalin ke aku," ucap Yasa malu-malu. Zoya terkekeh pelan dan geleng-geleng kepala melihat wajah Yasa yang tersipu malu. "Nanti aku kenalkan ya," jawab Zoya yang berhasil membuat Yasa memekik girang. "Yes!"
Lagi-lagi Zoya menggelengkan kepalanya merasa heran. Setelah itu, Zoya berlalu menuju kamarnya untuk mandi dan berganti baju.
Zoya telah kembali dengan baju one set rumahan namun tetap mewah dan kerudung instan berwarna hitam. Dia menuruni anak tangga untuk sekedar berbincang dengan Yasa. "Mbak, ada tamu tuh," tunjuk Yasa pada laki-laki yang sedang duduk di kursi rotan yang tersedia di lantai bawah.
Zoya mengikuti arah tunjuk Yasa dan menemukan Zaky sedang duduk disana, menatapnya dengan senyum manisnya. "Assalamualaikum, Zoya," ucap Zaky ramah. Zoya tersenyum. "Waalaikumsalam. Kapan datang, Mas? Kok aku nggak dengar ya?" tanya Zoya lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan Zaky.
"Tadi, pas kamu mandi. Jadi kamu nggak dengar," jawab Zaky tersenyum lebar. "Ada apa ya, Mas? Kata Yasa, kamu mau bicara penting?" Zoya bertanya langsung pada intinya. Zaky terdiam menatap Zoya dalam. Sebelum membuka mulutnya, Zaky menghela nafasnya terlebih dahulu. "Ini tentang mantan suami kamu, Zoya,"
Zoya mengernyit heran. "Memangnya kenapa? Aku sudah tidak ada urusan lagi dengannya, Mas," ucap Zoya tak peduli. "Aku menangani kasus mantan suami kamu. Dia ....,"
Zaky tampak ragu untuk memberitahu Zoya yang sebenarnya. Zoya semakin penasaran karena Zaky memotong ucapannya. "Kenapa, Mas? Dia terkena kasus apa memangnya? Sampai harus berurusan dengan polisi?" tanya Zoya penasaran.
"Coba kamu lihat sosial media kamu," perintah Zaky lalu menunjuk ponsel zoya yang tergeletak di atas meja. Zoya menggeleng. "Nggak perlu, Mas. Aku tidak mau ikut campur urusan dia lagi," tolak Zoya tidak mau menambah lukanya lagi.
"Tapi beneran, Zoya ... Kamu harus lihat. Mungkin ini adalah alasan kenapa mantan suami kamu menikahi Ghaida,"
__ADS_1
Mendengar nama Ghaida disebutkan, Zoya menyambar ponselnya tidak sabaran. Dia meng-scroll sosial medianya dan bisa melihat dengan jelas berita yang sedang beredar.
Zoya menutup mulutnya tak percaya. Jantungnya berdetak tidak karuan, dan air matanya seketika luruh saat melihat wajah Zada beredar di sosial media atas kasus pembunuhan. Wajah Ghaida juga terpampang nyata disana sebagai korban dari pele cehan sek sual.
"Nggak mungkin, Mas ... Ini nggak mungkin ...."
"Tapi, itulah kenyataanya. Jika ada yang ingin kamu bicarakan dengan mantan suami kamu, kamu bisa datang ke rumahnya. Dia sedang di tahan dan kasusnya sedang diselidiki," ucap Zaky menjelaskan.
"Tapi, datanglah bersamaku agar ada akses untuk masuk kesana. Dan aku kesini juga mau meminta izin padamu agar aku bisa menangani kasus ini hingga selesai" sambung Zaky lagi.
"Nggak perlu izin sama aku, Mas. Ini kan tugas kamu yang sudah atasan kamu berikan. Dan juga ... Mas Zada sudah bukan tanggung jawabku lagi. Walau alasan dia menikahi Ghaida karena ingin menyelamatkannya. Semua sudah terlambat, Mas,"
•••••••••••••••••••••••••
Disinilah Zoya berada, di makam kedua orangtuanya. Zoya menatap gundukan tanah yang ditumbuhi oleh rumput Jepang dengan nisan yang bertuliskan nama kedua orangtuanya. "Ayah, Bunda ... Maaf Zoya baru mendatangi kalian lagi," lirih Zoya menunduk.
"Ayah, ayah pasti juga melihatku dari atas sana kan? Entahlah, Zoya merasa hati Zoya merasakan kebas setelah perceraian Zoya dengan mas Zada. Tidak ada keinginan Zoya untuk menemuinya lagi karena aku dan mas Zada bukan suami istri lagi,"
Zoya menghela nafasnya panjang lalu menengadahkan kedua telapak tangannya ke atas. Mulutnya komat-kamit melafalkan doa-doa untuk orangtuanya tercinta.
Setelah itu, Zoya beranjak untuk meninggalkan makam orangtuanya. Saat Zoya berbalik, dia melihat pria jangkung yang dia temui waktu berteduh sedang berdiri di sebelah motornya terparkir.
Seketika Zoya teringat dengan jas yang pria itu pinjamkan. Dia bergegas mendekat untuk berterima kasih dengan bantuan yang telah pria itu berikan. "Ehem. Soal yang kemarin, terima kasih ya, Mas. Dan jasnya sudah aku cuci—"
Belum sempat Zoya menyelesaikan kalimatnya, lelaki itu sudah menyelanya. "Namaku Pratama." Zoya mengerjapkan matanya lucu. 'Perasaan nggak nanya,' batin Zoya keheranan.
__ADS_1
"Nggak perlu di kembalikan. Aku sudah menyumbangkannya padamu," Dengan sombong pria itu berucap. Zoya memutar bola matanya malas dan enggan berdebat. "Makasih!" ketus Zoya berlalu meninggalkan pria itu dan akan menjalankan motornya namun, terhalang oleh mobil pria tersebut.
"Tolong, aku mau lewat," ucap Zoya penuh nada penekanan. Tama malah naik ke kap mobilnya dan duduk dengan santai disana bagaikan berada di pantai. "Silahkan lewat kalau bisa," ucap Tama tanpa rasa bersalah.
Zoya menggeram kesal. Pria di hadapannya telah membuat Zoya semakin badmood. "Apa sih mau kamu?" ketus Zoya kesal. Tama menatap Zoya lamat-lamat hingga membuat Zoya salah tingkah. "Tolong, jaga pandangan kamu," ucap Zoya mencoba mengalihkan pandangan.
"Aku mau meminta izin padamu," ucap Tama penuh misteri. Zoya mengernyit heran. "Minta izin untuk apa? Aku rasa kita tidak sedekat itu," jawab Zoya kesal.
Mengabaikan ucapan Zoya, Tama melanjutkan kalimatnya lagi. "Izinkan aku menyebut namamu di sepertiga malamku seandainya kita di pertemukan lagi untuk ketiga kalinya," ucap Tama penuh keseriusan.
Zoya terperangah hingga mulutnya terbuka namun sedetik kemudian, mulutnya terkatup lagi. Dia sedikit tersanjung dengan cara pria di hadapannya bersikap. 'Tunggu, menyebut namaku di sepertiga malamnya?' Zoya menutup mulutnya tidak percaya.
Bisa-bisanya ada seorang pria yang baru, bukan baru, tapi belum Zoya kenal namun sudah meminta izin untuk menyebut namanya di sepertiga malamnya?
"Silahkan saja. Kamu boleh memanjatkan doa apapun pada Allah tanpa harus meminta izin terlebih dahulu. Bukankah urusanmu dengan Tuhanmu biar jadi rahasiamu? Sekarang minggir dulu, aku terburu-buru untuk datang ke kursus,"
Tama tersenyum sangat tipis sampai-sampai Zoya yang berada di hadapannya tidak melihat senyum samar itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Yuklah jangan lupa like, komen, vote, dan kasih hadiah semampu kalian ya😘
tentang kasus Zada, othor belum bisa bersuara karena takut jadi fitnah🤣
__ADS_1
sebelum pak polisi menjelaskan duduk perkaranya, othor mau diam dulu🤣
karena othor bukan admin lambe mblewer, canda🤣🤣