Surga di atas lara

Surga di atas lara
Bab 100. Extra chapter


__ADS_3

Setelah sholat Zuhur, Ghaida bergegas menyelesaikan tugas yang besok pagi harus siap. Dia mengambil koper untuk menaruh semua bajunya. Ya, Ghaida yang akhirnya memilih pergi setelah sekian lama hidup bersama sang Madu.


Adis belum mengetahui jika dirinya memilih pergi. Mungkin, memberitahu tiba-tiba akan membuat suaminya terkejut dan kecewa. Tapi, itu lebih baik agar Ghaida tidak menahan beban terlalu banyak karena mungkin saja, suaminya itu akan menahannya. Tapi, hidup itu butuh pilihan dan pilihan Ghaida adalah, meninggalkan suaminya setelah satu bulan penuh bersikap manis dan bertindak layaknya istri pada umumnya.


Ya, Ghaida ingin di akhir pernikahannya dengan Adis memberi kesan manis sebelum dirinya benar-benar berpisah. Ghaida juga ingin menikmati hari-hari bersama Adis sebelum dirinya benar-benar tidak bisa lagi menatap mata teduh suaminya.


Kejadiannya adalah saat sang ibu datang ke rumah, bermaksud untuk menengok Yhara. Ibunya seketika merasa tidak tega saat mengetahui Ghaida telah di madu. Ada rasa tidak rela anaknya ternyata harus merelakan sakit hati berkali-kali dan belum menemukan kebahagiaan.


Sebagai seorang ibu, bu Jubaedah ingin melihat anaknya hidup bahagia tanpa adanya orang ketiga. Bagaimanapun, Ghaida berhak bahagia dengan orang yang benar-benar menjadikan Ghaida ratu satu-satunya.


Flashback On.


"Ghaida?" ucap bu Jubaedah saat pertama kalinya masuk ke kamar Ghaida. Ghaida yang saat ini sedang menutup pintu pun menoleh. "Kenapa Bu?" tanya Ghaida kemudian segera mengunci pintu. Sepertinya, sang Ibu ingin membicarakan hal yang serius bila di dengar dari cara bicaranya.


Yusuf yang saat ini sudah duduk bersama sang Kakek di sofa yang terletak di kamarnya, ikut menatap neneknya dengan raut penasaran. Bu Jubaedah yang memilih duduk di sisi ranjang, menepuk tempat kosong di sebelahnya untuk Ghaida duduki. "Duduk sini, Da. Ibu sama ayah mau bicara sama kamu dan Yusuf," ucap bu Jubaedah lembut.

__ADS_1


Ghaida menurut dan duduk di samping ibunya. Tiba-tiba, tangan Ghaida digenggam oleh bu Jubaedah dengan lembut. Ghaida sedikit meneleng dan menatap ibunya bingung. "Ibu mau bicara apa si, Bu? Sepertinya sangat serius?" tanya Ghaida penasaran.


Bu Jubaedah tersenyum hangat. "Nggak papa. Ibu cuma merasa nggak rela," ucap bu Jubaedah memulai sesi bicaranya. Sekarang, Ghaida tahu kemana arah pembicaraan ibunya. "Nggak rela kenapa, Bu?" tanya Ghaida pura-pura tidak tahu.


Bu jubaedah terlihat menghela napasnya pelan. "Kamu kuat?" tanya bu jubaedah memastikan yang berhasil membuat mulut Ghaida hanya bisa terkatup. "Ibu tahu, kamu tidak sekuat itu. Kamu hanya sedang berusaha untuk kuat," Bu jubaedah berbicara lagi, seakan mengerti maksud keterdiaman Ghaida.


"Jika kamu sudah tidak sanggup, kamu bisa kembali bersama ayah dan ibu. Kami akan selalu menerima kalian dengan senang hati. Jangan pernah takut untuk kembali ke pelukan ibu dan ayah, Da," ucap bu jubaedah yang saat ini mulai berkaca-kaca.


Dia merasa tidak terima anaknya di madu. Apalagi, saat ini Ghaida tak kunjung hamil dan belum pernah melahirkan keturunan dari Adiswara. Sangat berbeda dengan Arumi yang saat ini sudah mempunyai anak dari Adis.


Kemudian, pak Jarwo mengambil posisi duduk di sebelah Ghaida hingga kini, Ghaida duduk di tengah, di antara ayah dan ibunya.


"Ayah sama ibu ingin kamu bahagia tanpa ada orang ketiga di dalamnya," ucap pak jarwo mulai mengemukakan pendapatnya. Ghaida mengangguk paham. "Tapi, itu pantas untukku, Yah. Aku pernah menjadi orang ketiga di rumah tangga orang lain. Sekarang, aku sedang memanen dari apa yang aku tanam. Aku akan terima hukuman yang sudah Allah gariskan untukku," jawab Ghaida menjelaskan alasannya mau bertahan.


Bu Jubaedah langsung menatap kesal pada Ghaida. "Kamu sepertinya terlalu bodoh. Coba kamu fokus untuk menjadikan suamimu ya, milikmu seorang. Jangan mau dibagi, Da. Ibu nggak percaya zaman sekarang ada suami yang adil. Kebanyakan, suami lebih mengutamakan istri mudanya," ucap bu Jubaedah sesuai realita.

__ADS_1


Ghaida hanya terdiam mendengarkan. "Tapi, semua terserah kamu. Ibu dan ayah cuma memberi saran. Tapi satu yang harus kamu pertimbangkan, kamu itu berhak bahagia dan menentukan jalan hidupmu. Entah bersama suamimu atau tidak, ibu yakin, kamu akan bahagia karena kamu sudah memohon ampunan pada Allah," ucap bu Jubaedah panjang lebar.


"Benar. Jika ada masanya kalian sudah tidak sanggup lagi, kalian merasa ini sudah cukup, kembalilah bersama kami,"


Flashback off.


Sejak saat itulah, Ghaida mulai memikirkan kehidupannya, dia mulai peduli dengan dirinya sendiri. Setelah Arumi melahirkan, suaminya itu lebih sering berada di kamar Arumi ketimbang di kamarnya. Ghaida cukup sadar diri bahwa dirinya memang belum bisa memberikan Adis keturunan.


Melihat suaminya yang begitu bahagia saat mempunyai anak dari Arumi, perlahan Ghaida mulai menata hati dan hidupnya untuk masa depan. Benar kata ayah dan ibunya, Ghaida berhak bahagia.


Jika Ghaida memilih untuk tetap tinggal bersama Arumi dan Adis, itu tandanya Ghaida harus siap makan hati setiap harinya. Tidak! Ghaida berpikir, dirinya terlalu berharga untuk mengalami hal semacam itu. Ghaida masih sayang dengan dirinya sendiri.


Belum lagi mengenai Yusuf, sudah di pastikan dia juga akan mengalami hal yang sama, yaitu makan hati setiap harinya. Ghaida tidak yakin bahwa kasih sayang yang Adis berikan pada Yhara akan sama dengan yang diberikan pada Yusuf. Entah mengapa Ghaida merasa seperti itu karena yang setiap harinya dia lihat, Adis selalu menyambangi kamar Arumi untuk menemui Yhara, sedangkan Yusuf, Ghaida jarang melihatnya.


"Mas, kamu sudah memiliki keluarga yang lengkap seperti impianmu. Aku berharap setelah aku pergi, kamu akan bahagia bersama keluarga kecilmu yang baru," monolog Ghaida menahan sesak di dada.

__ADS_1


__ADS_2