
Zoya menatap Zada yang terbaring lemah tak berdaya di atas brankar dari balik kaca kecil yang terdapat di pintu. Hatinya begitu bimbang untuk mengatakan pada suaminya bahwa Zada bersedia menjadi pendonornya.
Zoya merasakan tepukan pelan dari belakang dan menoleh. Bu Maya sudah berdiri di belakangnya dengan wajah yang sudah lebih segar. Mungkin habis cuci muka setelah menangis sesenggukan dan akhirnya bisa tenang saat jantung Zada dinyatakan masih berdetak.
"Iya, Bu?" ucap Zoya penuh tanda tanya. Bu Maya menunduk sebelum berbicara. "Bawa Zaky kesini untuk segera melakukan operasi matanya. Ini adalah permintaan terakhir Zada yang mungkin akan bermanfaat untuknya," ucap bu Maya lirih.
Zoya menggeleng. "Tidak, Ma. Mas Zada pasti akan sembuh," elak Zoya mencoba berpikir positif. Bu Maya menggeleng. "Tidak Zoya. Jantung Zada berdetak karena alat pemompa jantung itu menempel. Dia hanya hidup karena penunjang jantung," Bu Maya terlihat susah payah saat mengucapkannya.
Zoya menutup mulutnya dan satu tetes cairan bening berhasil lolos. "Maksud Mama, mas Zada ...." ucap Zoya terhenti karena tidak sanggup lagi menyelesaikan kalimatnya.
Bu maya terisak kemudian pak Rama datang dengan mata sembab dan memerahnya. Zoya bisa melihat tubuh renta itu sangat rapuh saat ini. "Ma? Maksudnya apa? Tolong jelaskan pada Zoya," tanya Zoya merasa menjadi manusia bodoh yang tidak tahu apa-apa.
"Zada ... Zada ... Sudah tiada," tangis bu Maya kembali pecah dan pak Rama memeluk tubuh istrinya erat. Dunia Zoya seperti berputar-putar dan kalimat Bu Maya seperti tengiang-ngiang di pendengarannya. Bagai ada sambaran petir yang menimpa tubuhnya.
Zoya mematung, berusaha mencerna ucapan Bu Maya. "Jangan bercanda, Ma. Pa? Apa itu semua benar?" tanya Zoya lagi berharap apa yang dia dengar adalah salah.
Pak Rama menatap Zoya. "Bawalah Zaky kesini, Zoya. Lebih cepat lebih baik agar jenazah Zada bisa segera di makamkan," itu bukan atas pertanyaannya namun, pernyataan pak Rama membuat sekujur tubuh Zoya lunglai dan berakhir terduduk di lantai.
Zoya mulai meraung-raung dan memukul dadanya yang terasa sesak. Apa yang sudah dirinya lakukan? Mengapa dia tidak tahu kalau Zada telah tiada? Kemana saja dirinya sejak tadi? Mengapa Zada harus pergi secepat ini? mengapa Tuhan tidak membiarkan Zada hidup lebih lama lagi? Bukankah Zada sudah berubah? Pertanyaan demi pertanyaan memenuhi isi kepala Zoya yang hampir meledak.
Zoya semakin sesenggukan mengingat kebaikan yang telah Zada lakukan yang katanya sebagai penebusan dosa padanya. "Mengapa secepat ini?" gumam Zoya teriris. Baru kemarin Zoya melihat Zada bermain bersama Arka, baru kemarin Zoya mendengar pengakuan Zada yang masih mencintainya.
__ADS_1
Zoya menutup wajahnya dan semakin meraung-raung, mengabaikan tatapan beberapa orang yang berlalu-lalang. "Mas Zada ... Kenapa kamu yang pergi ... Harusnya aku yang pergi lebih dulu," ucap Zoya merasa bersalah. Sudut di hatinya begitu sesak ketika mengingat tatapan mata Zada yang selalu menatap dirinya dengan cinta namun tidak mengurangi rasa hormatnya.
Cinta Zada padanya begitu besar hingga berusaha membuat dirinya bahagia. Zada sangat mencintai dirinya hingga di akhir hidupnya, dia masih mengatakan mencintai Zoya. Mengingat hal itu, Zoya menjerit, berusaha meloloskan sesak di dada.
Mengapa kepergian Zada selalu menjadi hal yang menyesakkan? Ini bukan pertama kalinya Zoya ditinggal pergi oleh Zada. Namun kali ini, keadaannya berbeda. Zada pergi dengan membawa cinta untuknya.
Bu Maya yang ikut menangis akhirnya jatuh pingsan dan di rawat di salah satu ruang rawat inap. Yasa yang memang sudah mendengar kabar tentang Zada langsung menyusul ke rumah sakit bersama Reni.
Saat melihat Zoya terduduk di lantai dengan keadaan menyedihkan namun sudah lebih tenang, mendekat pelan. "Mbak?" sapa Yasa hati-hati. Zoya mendongak dengan sisa air mata di sudut matanya. "Yasa?" Zoya langsung berhambur memeluk Yasa.
Yasa ikut menangis begitu juga dengan Reni. Walau dia tidak terlalu dekat dengan Zada, Reni mengenal Zada dengan kepribadian yang baik. "Istighfar, Mbak. Semua sudah ada waktunya masing-masing," ucap Yasa berusaha menenangkan.
Memang benar, Zada mendonorkan matanya karena memang punya tujuan.
.........................
Zoya berjalan memasuki rumah dengan perasaan yang ... Entahlah. Harusnya Zoya bahagia karena sebentar lagi suaminya akan bisa melihat dunia.
Zoya berusaha bersikap biasa-biasa saja agar tidak kentara dirinya sedang berduka cita. Zoya sudah mengabari bu Khadijah tentang Zada yang sudah tiada dan ingin mendonorkan matanya.
Namun, Zoya meminta bu Khadijah untuk merahasiakan siapa orang yang bersedia menjadi pendonornya. Zoya yakin, Zaky tidak akan menerima donor mata itu. Dan bagaimana pun, itu sudah menjadi permintaan terakhir Zada untuk merahasiakannya.
__ADS_1
Zoya menghela dan menghembuskan nafasnya beberapa kali sebelum membuka bilah pintu kamarnya. Tadi Zoya sempat bertemu bu Khadijah yang juga sedang menangisi kepergian Zada.
Bagaimanapun, sikap baik Zada di rumah itu sudah terkenang di hati masing-masing. Dan Zoya meyakini, bahwa kepergian Zada banyak membuat orang terdekatnya merasa kehilangan.
Setelah mengumpulkan niat, Zoya memutar kenop pintu perlahan dan melihat suaminya yang sedang berdiri membelakanginya, menatap pemandangan di bawah sana. Walau Zoya tahu, Zaky tidak bisa melihat.
Tanpa suara, Zoya langsung memeluk Zaky dari belakang dan menyandarkan kepalanya di punggung tegap suaminya. Zoya merasa nyaman berada dalam posisi seperti itu. Zaky sedikit terkejut namun saat menghidu wangi vanilla, Zaky terdiam dan tidak bergerak untuk menikmati hangatnya pelukan Zoya. Zaky sudah tahu bahwa pelakunya adalah Zoya.
"Masuk kok nggak ngucapin salam?" tegur Zaky halus. Zaky membalik tubuhnya agar bisa menghadap Zoya. "Lupa, Mas. Ibu sudah kasih tahu ke Mas Zaky kan? Soal ada ... pendonor?" tanya Zoya yang entah mengapa matanya mulai berkaca-kaca lagi.
"Iya, Alhamdulillah ... Akhirnya aku akan melihat wajah cantik istriku lagi. Aku sangat bahagia mendengar kabar ini, Zoya. Terima kasih karena kamu selalu setia menemaniku," ucap Zaky sumringah lalu membawa tubuh Zoya untuk dirinya peluk.
Zoya tak mampu menahan air matanya. Ada rasa bersalah yang hinggap di hatinya saat melihat senyum Zaky begitu merekah. Jika Zoya mengatakan bahwa pendonornya salah Zada, senyum itu pasti akan hilang. Zoya semakin sesenggukan hingga membuat Zaky merenggangkan pelukan.
"Kok kamu nangis sih? Kamu nggak bahagia ya?" tanya Zaky dengan wajah kecewanya. Zoya menggeleng kuat walau hal itu tidak bisa Zaky lihat. "Aku ... Aku terlalu bahagia, iya, terlalu bahagia makanya aku nangis, Mas. Ini tangis haru," ucap Zoya berusaha tersenyum dikala tangisnya.
Zoya langsung mengecup rahang suaminya sekilas dan memeluk tubuh kekar itu lagi. Zoya berharap, semua kesedihan dan mimpi buruknya segera berlalu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
kabuuuur🏃🏃🏃
__ADS_1