Surga di atas lara

Surga di atas lara
Bab 42. Bisa ditebak


__ADS_3

Saat ini, Zoya sedang menemani Tama memilih roti di tokonya. "Belum dapat juga?" tanya Zoya setelah setengah jam berdiri dengan hanya melihat Tama yang sekedar memilih tanpa ingin membeli. "Zoya?"


"Hm?"


"Mulai sekarang, aku akan berhenti untuk menyebut namamu di sepertiga malamku. Karena doa yang selalu ku langitkan sudah kalah dengan doa yang Zaky langitkan. Dia yang akan menjadi suamimu kelak," ucap Tama menunduk lesu.


Zoya mengerjapkan matanya beberapa kali. "Maaf ya, aku nggak bisa balas perasaanmu. Tapi, kamu coba buka hati kamu lagi, pasti akan ada cinta baik yang datang," ucap Zoya sendu.


Tama tersenyum getir. "Aku sudah kelihatan seperti sadboy nggak sih?" Zoya tersenyum dan geleng-geleng kepala. "Jangan jadi sadboy. Jadilah happy boy,"


"Caranya?" tanya Tama menatap Zoya yang berada di sampingnya. "Caranya ...." Tama begitu antusias menunggu kelanjutan ucapan Zoya. "Nungguin ya?" tanya Zoya tanpa dosa yang membuat Tama mendengus sebal.


"Iya, aku nunggu kamu tapi kamunya malah sama yang lain," ucap Tama mendramatisir keadaan. Zoya menghela nafas lelah. "Maaf ya," Hanya itu yang mampu terucap dari bibir Zoya sejak tujuh tahun yang lalu.


Sejak dimana dirinya mengenal Tama dan akrab dengannya. Entah mengapa, Zoya sama sekali tidak memiliki perasaan yang lebih pada sosok Tama. Padahal, banyak sisi positif yang Tama berikan pada Zoya. Dan pilihan Zoya, jatuh pada Zaky yang selalu setia menemani dirinya.


Ah! Zoya jadi merindukan lelaki itu yang kini sedang menjalankan tugas negara di luar kota. Padahal, belum lama Zoya mendengar suaranya.


"Nggak perlu merasa bersalah karena tidak ada yang salah dengan apa yang terjadi. Kalau begitu, aku pamit dulu ya," Kemudian, Tama sedikit mendekati Zoya dan berkata lagi. "Kalau lama-lama, takut di pidanakan sama pak polisi,"


Zoya terkekeh. Iya, Zaky mulai posesif pada Zoya sejak pertunangan mereka dilaksanakan. Zaky pasti akan marah jika Tama terlalu dekat dengan dirinya. "Hati-hati, Mas. Semoga bahagia," ucap Zoya sebelum Tama benar-benar menghilang dari balik pintu.


"Reni, aku ke toko bunga dulu ya. Tolong kamu urus semuanya disini. Aku percayakan semuanya pada kalian," ucap Zoya pada semua karyawannya. "Siap, komandan!" seru semuanya serentak hingga berhasil membuat Zoya tergelak renyah. "Kalian bisa aja sih,"


______________________


"Yasa? Kamu kerepotan nggak?" tanya Zoya saat melihat begitu banyak bunga pesanan di meja kasir. Yasa menoleh sebentar sebelum fokus lagi pada pekerjaannya. "Boleh lah, Mbak ... Beri aku teman satu. Sepertinya aku kewalahan karena pesanan yang membludak," jawab Yasa sambil merangkai bunga di hadapannya.


"Kan aku sudah bilang dari lama, tapi kamunya bilang, aku masih sanggup kok, Mbak," ujar Zoya menirukan suara Yasa tempo hari. Yasa terkekeh. "Sekarang tawaran itu masih berlaku kan, Mbak?" tanya Yasa bermaksud negosiasi.


"Masih dong, kasihan kamu. Aku cari dulu paling nggak dua orang agar pekerjaan kamu sedikit lebih ringan," Setelah itu, Zoya mulai sibuk dengan ponselnya untuk membagi postingan lowongan kerja.

__ADS_1


Belum genap satu menitan postingan yang Zoya bagikan, aplikasi pesannya sudah berbunyi tanpa henti. Zoya menatap Yasa dengan tatapan terkejut sekaligus bingung. "Padahal belum satu menit aku posting, Sa,"


Yasa terkekeh. "Aku kan sudhs pernah bilang ke Mbak Zoya, kalau yang ingin bekerja disini tuh banyak banget. Siapa sih yang nggak mau punya atasan seperti Mbak Zoya? Aku saja merasa sangat beruntung," ucap Yasa penuh binar di matanya.


"Jangan berlebihan deh, Sa. Nanti aku terbang," jawab Zoya berusaha mengalihkan perhatian. Yasa tergelak karena teringat sesuatu. "Bulan depan jadi terbang ke Korea nggak, Mbak? Buat bulan madu?" tanya Yasa sengaja menggoda Zoya.


Dan benar saja, wajah Zoya langsung memerah seperti kepiting rebus. "Apaan sih ... Bisa nggak jangan di bahas dulu? Yang pasti, mas Zaky tidak mungkin membatalkan rencana awal tanpa mendiskusikannya terlebih dahulu. Kalaupun nggak jadi, itu tidak masalah kok," ucap Zoya tatapannya menerawang jauh.


"Cie ... Yang lagi kasmaran," goda Yasa terang-terangan. Ya, hubungan Zoya dan Yasa memang sudah sedekat itu. Berawal dari rasa nyaman untuk menceritakan semua masalah hidupnya hingga membuat keduanya bagaikan teman dekat.


Zoya sudah menganggap Yasa seperti adik, teman, sahabat, bahkan kakak untuk dirinya. Yasa telah merangkap menjadi banyak peran dalam hidup Zoya. Selain Zaky, Yasa juga selalu ada untuk Zoya.


Yasa seakan mengabdikan hidupnya untuk menemani Zoya. "Terima kasih ya, Sa. Selama ini, kamu selalu ada untukku," ucap Zoya tersenyum haru.


"Sama-sama, Mbak. Aku juga sangat berterima kasih karena Mbak Zoya sama sekali tidak merasa keberatan berteman denganku. Mbak Zoya tidak pernah pandang bulu pada siapapun dan dimanapun," jawab Yasa yang membalas senyuman Zoya tak kalah haru.


"Assalamualaikum,"


Yasa menoleh pada Zoya untuk memastikan kakak angkatnya baik-baik saja. "Mbak? Mbak nggak papa kan?" tanya Yasa berbisik pelan. Zoya mengangguk meyakinkan. "Tolong kamu urus dia ya, Sa. Aku mau ke atas dulu,"


"Zoya?"


Baru saja Zoya berbalik, namanya sudah di panggil oleh Zada. Zoya urung melangkah dan menjawab tanpa menoleh. "Kenapa?" tanya Zoya datar.


"Boleh aku membeli bunganya? Tapi aku ingin kamu yang menemani memilih bunga," ucap Zada sengaja ingin berdekatan dengan Zoya lebih lama.


"Ada Yasa. Kamu bisa minta tolong dengannya. Dia sama sepertiku bahkan, ingatan Yasa lebih baik dan tahu mana bunga yang bagus," Setelah itu, Zoya kembali melangkah meninggalkan Zada yang pasrah dengan keputusan Zoya.


Setelah berada dalam kamarnya, Zoya langsung menjatuhkan dirinya di atas ranjang sehingga menimbulkan gaya pegas antara tubuh Zoya dan kasur.


Zoya menatap langit-langit kamarnya untuk menetralisir degup jantungnya. Zoya tidak boleh goyah karena kedatangan Zada yang tiba-tiba. Zoya langsung mencari ponselnya untuk menghubungi seseorang.

__ADS_1


Nama Zaky tertera disana dan Zoya segera mendial tombol hijau untuk bisa terhubung. "Assalamualaikum, Mas,"


"Waalaikumsalam. Kenapa telepon lagi? Apa ada masalah?"


Zoya menghela nafasnya kasar. Sikapnya sudah bisa ditebak oleh Zaky walau dari jarak beribu-ribu kilo. "Aku hanya ...."


"Hanya apa?"


"Kangen."


Terdengar kekehan Zada di seberang sana yang membuat suasana hati Zoya membaik. "Yakin hanya itu? Aku rasa sa hal yang lain," ucap Zaky yang memang pandai dalam segi komunikasi.


"Oke, sepertinya keadaan telah terbaca," jawab Zoya pasrah. Dan Zaky lagi-lagi terkekeh hingga membuat Zoya mengulas senyumnya. "Kamu kapan pulang?"


"Kenapa memangnya? Sekitar dua harian lagi baru aku pulang. Sebenarnya masalah sudah di atasi namun, aku harus mengecek bagaimana ajudanku menjalani tugasnya. Aku nggak bisa lepas tugas begitu saja,"


Zoya menghela nafas kasar hingga Zaky bisa mendengarnya di seberang sana. "Katakan ... Jika ada yang ingin kamu sampaikan, katakan saja,"


"Mas Zada sudah kembali,"


Tidak ada jawaban setelah Zoya mengucapkannya. Zoya sambil memeriksa layar ponselnya takut telepon sudah terputus namun, telepon masih tersambung. "Hallo, Mas? Kamu masih disana kan?" tanya Zoya memastikan.


"Aku pulang sekarang juga,"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


hai jangan lupa dukungannya ya😘😘


oh iya, sambil nunggu disini up, yuk baca juga karya teman aku yang keren🤗🤗


__ADS_1


__ADS_2