Surga di atas lara

Surga di atas lara
Bab 41. Bergetar


__ADS_3

Tujuh tahun kemudian.


Akhirnya Zada bisa menghirup udara bebas setelah tujuh tahun berada dalam kurungan. Selama tujuh tahun itu, Zada mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dimana dia sadar bahwa, kehilangan Zoya adalah hal yang paling disayangkan.


Zada sangat menyesal karena pernah menyia-nyiakan istri sesempurna Zoya. Jika dia diberi kesempatan untuk bersama Zoya lagi, Zada akan memperjuangkan dan mencintai Zoya dengan sangat besar.


Waktu tujuh tahun nyatanya tidak membuat Zada bisa melupakan Zoya. Justru, semakin kuat Zada berusaha melupakan, semakin besar pula rasa rindu yang mendera pada sang Dara. Zada sadar, mungkin saja Zoya sudah mulai melupakan. Atau yang lebih parahnya lagi, Zoya sudah menikah dengan laki-laki lain.


"Assalamualaikum, Ma, Pa," sapa Zada saat pertama kali memasuki rumah orangtuanya. Bu Maya yang sedang berada di dapur dan melihat Zada datang pun mematung. Dia sansgt terkejut karena anaknya sudah bebas. Walau dia juga merasa bahagia.


"Zada? Kamu sudah bebas, Da? Ya Allah ... Zada ...." Bu Maya berhambur ke pelukan Zada untuk menyalurkan rasa rindu pada anak semata wayangnya. Tidak ada kata yang terucap. Zada juga membalas pelukan wanita yang telah melahirkannya dengan erat. "Maafkan Zada selama ini ya, Ma. Zada nggak bisa jadi anak yang baik untuk, Mama dan papa," ucap Zada tersedu.


Bu Maya melepaskan pelukan dan mendongak, menatap wajah anaknya yang kulitnya terlihat gelap daripada dulu. "Nggak papa. Mama sadar bahwa manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Yang terpenting, sekarang kamu sudah berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi," ucap bu Maya lalu tangannya bergerak untuk mengusap pipinya yang basah karena air mata.


Zada mengangguk dengan keadaan mata yang memerah dan berair. Saat dunia seakan membencinya, hanya mama dan papanya yang selalu ada untuk Zada. Zada percaya bahwa kasih sayang orangtua pada anaknya itu sepanjang masa.


"Zada? Kamu—" Suara pak Rama terdengar menginterupsi. Zada dan bu Maya sontak menoleh. "Iya, Pa ... Zada pulang," Tanpa menunggu lama, Zada mendekat untuk memeluk ayah tercinta. "Maafkan Zada selama ini ya, Pa. Zada memang salah dan pantas dibenci," ucap Zada terisak dalam pelukan papanya.


Pak Rama berkaca-kaca hingga membuat matanya berkedip-kedip aagr air mata itu urung jatuh. Tangannya dia gerakkan untuk mengelus punggung anaknya. "Nggak papa. Kamu tetap anak papa ... Terlepas dari apa yang telah kamu lakukan. Berubahlah menjadi pribadi yang lebih baik lagi," Ucapan pak Rama penuh dukungan dan kasih sayang.


"Assalamualaikum,"


Suasana penuh haru itu pun harus terhenti karena ucapan salah dari seorang wanita. Ketiganya menoleh karena memang sudah sangat mengenal pemilik suara itu. Tak terkecuali Zada, hatinya bergetar dan berdegup kencanga saat suara itu menelusuri indera pendengarannya.


"Waalaikumsalam," jawab ketiganya serentak.


"Mama sama papa sehat kan? Sudah satu minggu ini aku nggak datang," ucap Zoya belum menyadari jika ada Zada disana. Bu Maya dan pak Rama saling lempar pandang, merasa canggung dengan keadaan saat ini.

__ADS_1


Ya, walaupun Zoya bukan lagi menantu di rumah itu, Zoya tidak pernah memutus tali silaturahminya. Dia tetap mengunjungi seseorang yang dia sebut papa dan mama. "Kami sehat kok," jawab pak Rama setelah beberapa menit terdiam. "Aku bawa martabak sama sup buntut kesukaan kalian. Aku—" Langkah Zoya terhenti saat menyadari ada orang lain disana.


Bukan, dia bukan orang lain. Zoyalah yang menjadi orang lain disana. "Aku terus meja ya, Ma. Aku pulang dulu kalau gitu," Zoya langsung pamit undur diri dan enggan berlama-lama disana. Zoya takut goyah pada hatinya sendiri.


"Terima kasih ya, Zoya. Hati-hati di jalan," ucap bu Maya walau canggung. Zoya mengangguk. "Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam," jawab pak Rama yang memahami perasaan Zoya sekarang. Dia tidak ingin menahan Zoya untuk tetap disana walau biasanya, Zoya juga akan berlama-lama untuk sekedar berbincang dengan dirinya dan istrinya.


Setelah Zoya menghilang di balik pintu, baru Zada berani berbalik. "Zoya — dia — " ucap Zada ingin bertanya namun, dia tidak tahu harus menanyakannya darimana. "Iya, dia sering datang kesini untuk sekedar membawakan kami makanan kesukaan kami. Apalagi, Zoya sekarang sudah pandai memasak. Martabak dan sup buntut itu adalah buatan Zoya. Kami sangat menyukainya," ucap bu Maya tatapannya menerawang jauh.


Zada merasa tersentil dengan pernyataan mamanya. Dia masih sangat ingat dengan kata-katanya sendiri yang mengatakan bahwa Zoya tidak pandai memasak. 'Apa Zoya mulai berubah setelah aku memakinya? Maafkan aku, Zoya. Aku sudah sangat menyakitimu,' batin Zada menyesal.


_______________________


Zoya berlari sekuat tenaga menuju motornya terparkir. Entah apa yang sedang jantung Zoya lakukan karena dia saat ini memompa dua kali lebih cepat dari biasanya. Tentunya setelah melihat keberadaan seseorang yang sudah lama tidak Zoya lihat kehadirannya.


Tanpa menunggu lama, Zoya menjalankan motornya dengan perasaan hati yang ... Entahlah. Zoya lelah menerka isi hatinya. Di sepanjang perjalanan, Zoya berusaha mengenyahkan pikiran tentang manusia yang selalu Zoya hindari.


Zoya mematikan mesin motornya dan melenggang masuk tanpa menyapa karyawannya terlebih dahulu. Padahal biasanya, Zoya selalu berbincang terlebih dahulu dengan karyawannya sebelum masuk ke ruangannya.


"Mbak Zoya sudah datang?" tanya Reni heran karena tidak biasanya atasannya akan datang dan nyelonong masuk begitu saja. "Kenapa dengan, Mbak Zoya?" tanya pegawai lainnya.


Semua pegawai dibuat melongo dengan sikap Zoya yang tidak biasanya.


Setelah dalam ruangannya, Zoya menarik dan menghembuskan nafasnya beberapa kali untuk mencari ketenangan. Ponselnya tiba-tiba berdering hingga membuat Zoya berjenggit kaget. "Astaghfirullah," ucap Zoya sambil mengelus dadanya.


"Hallo assalamualaikum,"

__ADS_1


"........"


"Iya, Aku sehat dan sudah makan kok. Kamu juga disana sehat-sehat ya ... Jangan lupa makan yang teratur,"


"......."


Waalaikumsalam,"


Zoya menutup panggilan telepon itu lalu menghembuskan nafasnya pelan. Setelah itu, Zoya berjalan ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Tidak berapa lama, Zoya kembali dengan wajah yang basah.


Tok, tok, tok.


"Mbak, ada pelanggan yang katanya mau bertemu. Dia tidak mau dilayani siapapun kecuali, Mbak," ucap Reni masih di balik pintu.


"Iya, sebentar lagi aku keluar," pekik Zoya agar terdengar Reni di depan sana. Zoya mengernyit heran lalu segera membenarkan pashminanya. "Siapa sih yang datang? Kenapa harus aku?" gumam Zoya tidak habis pikir.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


nggak kerasa ya, udah tujuh tahun aja🤣🙈


terima kasih untuk kalian yang sudah menemani hingga tujuh tahun🤣


jangan lupa like, komen, vote dan kasih hadiah semampu kalian ya😘


sekecil apapun dukungan kalian, itu akan sansht berharga dan besar untukku.

__ADS_1


terima kasih ya ...


lope kalian sekebon🌹🌹🌹😘


__ADS_2