
Adis tersenyum memandangi wajah Ghaida yang saat ini sedang bersembunyi di dada bidangnya. Keduanya baru saja melakukan kegiatan panas di malam yang terasa dingin menusuk kulit.
Namun akibat permainan keduanya, malam yang dingin pun tidak terasa. Ghaida memejamkan matanya untuk menetralisir rasa malunya. Ghaida rela menggoda Adis demi bisa merebut hatinya kembali. Mungkin benar kata Reni, Ghaida harus menjadi pelakor di rumah tangganya sendiri.
"Ghaida? Terima kasih ya?" ucap Adis lembut lalu mengecup kening Ghaida cukup lama. Dia merasa snat bahagia karena sudah beberapa bulan ini berpuasa. Adis sadar, dirinya sudah salah karena tidak memberikan nafkah batin untuk Ghaida selama hampir dua bulan.
Ghaida tidak menjawab namun, wajahnya semakin dia sembunyikan di dada Adis. Ghaida yakin, pipinya saat ini sudah merona. Ghaida berharap, ini awal yang baik untuk cintanya.
"Ghaida?" panggil Adis lagi lalu menghapus keringat yang berada di kening Ghaida. Sisa-sisa keringat masih menempel di tubuh keduanya.
"Hm?" jawab Ghaida tanpa berani menatap suaminya. Adis terkekeh lalu mengangkat dagu Ghaida lembut agar wajah istrinya bisa dirinya pandangi puas-puas. "Maafkan aku selama ini. Aku sudah mengabaikanmu terlalu lama hingga membuatmu merasa kesepian," ucap Adis bersungguh-sungguh sambil menatap mata Ghaida lekat.
Wajahnya mendekat untuk mengecup bibir Ghaida sekilas. Ghaida hanya bisa pasrah saat merasakan sapuan lembut di bibirnya. Ghaida sampai memejamkan mata dan tidak ingin malam ini cepat berlalu. Ghaida ingin memiliki Adis seutuhnya dan selamanya.
"Aku bisa apa, Mas? Mungkin aku sudah tidak menarik lagi untukmu hingga kamu melupakanku," jawab Ghaida dengan mata yang berkaca-kaca. Adis menelan salivanya, ucapan Ghaida benar-benar menamparnya. Adis sekarang sadar, di tengah kebahagiaannya bersama Arumi, ada hati yang setiap harinya selalu dirinya lukai.
Adis semakin memeluk tubuh Ghaida erat. "Maafkan aku ... Maafkan aku. Aku lupa dari tugasku sebagai seorang suami. Maafkan aku, Ghaida," sesal Adis sambil mengecupi puncak kepala Ghaida berulangkali.
__ADS_1
Ghaida menjauhkan wajah untuk mencari kebohongan di wajah suaminya. Namun, hanya ada kesungguhan disana. "Bagaimana kalau kita buat kesepakatan?" tanya Ghaida sambil tersenyum. Adis tampak menautkan kedua alisnya, dalam. "Kesepakatan apa?"
Ghaida mengangguk dan memiringkan badan untuk bisa menatap wajah tampan Adis sepenuhnya. "Iya. Kamu bilang, kamu lupa pada tugasmu sebagai suami. Bagaimana jika aku ingatkan? Bukankah jika mempunyai dua istri, Mas Adis harus adil?" tanya Ghaida sengaja menekankan kata 'dua' dan 'adil' agar suaminya itu sadar.
"Baiklah. Kita akan buat kesepakatan itu," ucap Adis menyetujui. Ghaida tersenyum puas. "Dan aku minta, Mas Adis jangan marah saat aku tegur. Begitu juga aku, jika ada tingkah atau perlakuanku yang kurang tepat, Mas Adis boleh tegur aku," sambung Ghaida lalu mengalungkan lengannya di leher Adis.
Huh! Ghaida merasa dirinya bagaikan wanita penggoda.
Adis menatap mata Ghaida lekat, satu tangannya bergerak menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah istrinya. "Aku setuju. Ingatkan aku saat aku kehilangan arah. Tapi, apakah kamu rela saat aku harus berbagi cinta?" tanya Adis merasa bersalah.
"Hanya saja, aku minta kepadamu agar lebih adil lagi, Mas. Termasuk menemani tidur di malam hari. Jujur, menurutku itu hal yang bisa membuat kita semakin dekat. Kita bisa bercerita tentang hari-hari yang telah kita lewati di malam hari, menjelang tidur. Aku rindu kamu yang dulu, Mas," ucap Ghaida panjang lebar dengan mata menatap Adis sendu.
"Aku akan coba lakukan saranmu. Aku akan berusaha berubah menjadi suami yang adil pada dua istriku. Doakan aku supaya aku tidak pernah salah jalan dan tersesat," jawab Adis yang membuat hati Ghaida menghangat.
"Terima kasih, Mas."
....................
__ADS_1
Pagi harinya.
"Gimana, Da? Berhasil nggak?" tanya Zoya mengerling nakal saat melihat wajah Ghaida yang terlihat berseri-seri dari biasanya. Ghaida yang baru saja memasuki toko bunga, memejamkan mata merasa malu.
Ghaida pikir, Zoya tidak punya ide jahil seperti itu dengan menanyai dirinya hal-hal sensitif. "Berhasil apanya, Mbak?" tanya Ghaida pura-pura tidak paham. "Yang soal kemarin? Soal saran Reni itu?" tanya Zoya memperjelas maksud.
"Zoya?" panggil suara dari lantai atas yang tidak lain adalah milik Zaky, suaminya. "Kenapa, Mas?" jawab Zoya sedikit meninggikan suaranya. "Arka haus kayanya," jawab Zaky yang berhasil mengurungkan niat Zoya untuk menanyai Ghaida lebih jauh lagi.
Sungguh, Ghaida merasa terselamatkan dengan hal itu. Dia bisa bernafas lega ketika Zoya memilih menaiki anak tangga dan melupakan niat pertamanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
kasih like dan komen kalian ya😘
terima kasih untuk kalian yang masih setia baca. semoga di beri kesehatan dan di lancarkan rezekinya ❤️
lup kalian semua❤️
__ADS_1