Surga di atas lara

Surga di atas lara
Bab 75. Sah


__ADS_3

Hari pernikahan Yasa akhirnya tiba. Arka sudah Zoya pakaian baju batik seukurannya hingga membuat wajah imutnya semakin tampan. Zoya memakai dress pesta syar'i berwarna mocca dan Zaky menggunakan baju batik yang seragaman dengan Arka.


Dua laki-lakinya kini sudah terlihat tampan semua. Zoya menatap anak dan suaminya dengan hati yang berbunga-bunga sekaligus merasa terharu. Kehidupannya yang penuh lika-liku akhirnya berakhir bahagia.


"Kita berangkat sekarang saja kan?" tanya bu Khadijah yang saat ini mengenakan gamis berwarna maroon yang elegan dan sesuai dengan umurnya. "Iya, Bu. Kita berangkat sekarang saja," jawab Zoya lalu menggamit lengan bu Khadijah untuk diajak keluar rumah.


Zaky mengikuti dari belakang dengan Arka yang berada dalam gendongannya. Mereka pergi ke rumah Yasa dengan bantuan sopir. Sang sopir sudah menunggu sejak tadi sehingga, mereka harus bergegas. "Yuk, berangkat, Pak," titah Zaky lembut yang kini sudah duduk di samping kemudi. Sedang Zoya dan bu khadijah, mereka duduk di kursi penumpang belakang.


Akhirnya, mobil melaju membelah jalanan kota yang sedikit lengang karena sudah masuk jam kantor. Tidak butuh waktu lama, mereka telah sampai di kediaman Yasa yang kini sudah ada banyak orang sebagai tamu undangan dari kerabat dan tetangga dekat.


Mereka turun dari mobil dan memasuki rumah Yasa bersamaan. Banyak orang yang menyambut kedatangannya dan Zoya menyapanya dengan senyuman lalu, menganggukkan kepala.


"Kita langsung masuk aja kan, Mas?" tanya Zoya yang sudah berhasil melewati banyaknya tamu undangan di depan rumah Yasa. "Iya, langsung masuk saja. Sebentar lagi kan, akad nikahnya akan di mulai," belum sempat keduanya masuk lebih dalam, bu Maya dan pak Rama terlihat turun dari mobil.


"Itu ada Bu Maya. Ibu nunggu bu Maya aja kalau gitu," ucap bu Khadijah sambil menunjuk arah kedatangan bu Maya dan pak Rama. "Assalamualaikum, Arka ... Apa kabar?" sapa bu Maya untuk pertama kalinya setelah berhadapan dengan Arka.


"Waaalikumsalam, Oma. Alhamdulillah Arka sehat," jawab Zoya lalu mencium punggung tangan pak Rama dan bu maya bergantian. Zaky juga melakukan hal yang sama hingga membuat Arka terkekeh entah karena apa.


"Yuk, sama Oma aja ... Mama sama Papa biar nemuin Tante Yasa dulu," ajak bu Maya sambil mengulurkan tangannya pada Arka. Arka tertawa bahagia dan langsung menerima uluran tangan bu Maya. Setelah Arka berada dalam gendongannya, tiba-tiba musik dangdut terdengar mengalun dari penyanyi dangdut yang entah sejak kapan sudah berada di atas panggung.


Lagu dengan judul Pengantin Baru yang dipopulerkan oleh Nasidaria itu mengalun merdu.


Duhai senangnya pengantin baru

__ADS_1


Duduk bersanding, bersenda gurau


Duhai senangnya pengantin baru


Bersanding bersenda gurau


Bagaikan raja dan permaisuri


Tersenyum simpul bagaikan bidadari


Duhai senangnya, menjadi pengantin baru


Begitulah penggalan lirik dari lagu Pengantin Baru. Zaky tiba-tiba saja membuat gerakan tubuhnya ke kanan dan kiri lalu menengadahkan telapak tangannya dan mengangkatnya tinggi-tinggi, bagai sedang melakukan konser qosidah. Zoya tergelak renyah melihat tingkah suaminya yang mulai bisa melucu.


"Sudah, Mas. Nggak malu sama Arka tuh, dia lagi liatin kamu keheranan," tunjuk Zoya pada Arka yang kini sudah berada di gendongan bu Maya yang sedang mengobrol bersama ibu-ibu tetangga Yasa. Bu Khadijah juga ikut bersamanya. Sedang pak Rama, dia bergabung bersama bapak -bapak tetangga Yasa.


"Yasa belum turun kayaknya, Mas. Aku naik dulu kalau gitu ya?" ucap Zoya meminta persetujuan Zaky. Zaky mengangguk menyetujui. "Iya, aku tunggu disini kalau gitu. Kayaknya, ijabnya pakai syar'i deh. Yasa akan turun kalau akadnya sudah selesai," jawab Zaky menduga-duga yang segera dibenarkan oleh Zoya.


Akhirnya, Zoya berjalan ke sebuah ruangan, tepatnya kamar Yasa, yang sudah merangkap menjadi ruang tata rias.


Ceklek.


Zoya membuka pintu dan mengucapkan salam terlebih dahulu. "Assalamualaikum."

__ADS_1


"Waaalikumsalam."


"MasyaAllah, Yasa ... Kamu cantik pakai hijab," ucap Zoya terkagum-kagum melihat penampilan Yasa yang berbeda. Bukan karena riasannya, melainkan karena hijab yang sudah melekat menutupi kepalanya. Yasa tersenyum dan menyambut kedatangan Zoya.


Ada ibu Tama dan ada dua wanita lagi yang bisa Zoya duga adalah keluarga dari Tama. Lalu, dua perias yang merias wajah Yasa. "Terima kasih, Mbak. Doakan ya, Mbak ... Semoga aku bisa istiqomah," ucap Yasa yang kini sudah terlihat sangat cantik dengan sentuhan make up natural.


"Bi barkatillah, aamiin ya rabbal'alamin,"


Kemudian, Zoya juga menyapa ibu Tama dan dua wanita yang lainnya. Hanya membicarakan obrolan ringan hingga mereka semua tidak sadar telah menghabiskan waktu hampir tiga puluh menit.


Dan bersamaan dengan itu, pintu kamar kembali terbuka menampakkan Reni yang penampilannya terlihat berbeda dari biasanya. Dia memakai gamis dan kerudung segi empat.


"MasyaAllah, Reni ... Kamu juga—"


"Iya, Mbak. Doakan aku semoga Istiqomah ya, Mbak," ucap Reni tersenyum lalu melenggang lebih dalam lagi. Sungguh, Zoya merasa terkejut sekaligus terharu, orang-orang terdekatnya telah memutuskan berhijab dan itu membuat Zoya bersyukur sekaligus bahagia.


"Aku doakan semoga kalian berdua bisa istiqomah," ucap Zoya lalu memeluk Yasa dan Reni bersamaan. "Aamiin. Semoga kita semua yang ada disini bisa bertemu dan berkumpul di surganya Allah kelak,"


"Aamiin."


"Eh, aku sampai lupa tujuanku kesini. Selamat Yasa, kamu sudah resmi menjadi istri dari Pratama Wijaya," ucap Reni tersenyum haru dan berhambur memeluk Yasa lagi. "Alhamdulillah." ucap semua yang berada dalam ruangan hampir bersamaan.


"Yuk, kita keluar untuk sesi selanjutnya," ajak penata rias yang disetujui oleh semuanya. Suasana haru menyelimuti seisi rumah saat Yasa mulai menampakkan diri di hadapan para tamu undangan dan juga keluarga yang hadir.

__ADS_1


Akhirnya, kisah hidup Yasa yang semua orang tahu penuh lika-liku, akan lebih ringan karena ada Tama yang akan selalu menjadi tamengnya.


Termasuk Zoya. Dia sudah menangis sesenggukan mengingat perjuangan Yasa dulu awal-awla bekerja di toko bunganya. Zoya berharap, ini adalah awal dari kebahagiaan Yasa yang selama ini selalu mengalami pahitnya hidup.


__ADS_2