Surga di atas lara

Surga di atas lara
Bab 44. Anak hilang


__ADS_3

Zoya saat ini sedang mengelilingi sebuah mall untuk membeli barang-barangnya. Sengaja Zoya tidak belanja bulanan karena lima hari lagi dirinya akan menikah. Dan sudah di pastikan, barang-barang itu akan mubazir.


"Mau beli apa dulu?" tanya Zaky yang sejak tadi mengikuti kemanapun Zoya melangkah. Zoya terkekeh. "Aku masih bingung. Makanya sejak tadi muter-muter terus," Matanya memendar untuk melihat toko-toko yang berjejer. "Aku beli ... Sesuatu dulu deh, Mas. Kalau Mas Zaky tunggu di kursi itu mau nggak?" tanya Zoya sambil telunjuknya mengarah pada kursi panjang yang muat empat orang.


Zaky mengernyit heran. "Memangnya kamu mau beli apa? Kok aku harus nunggu? Nggak mau ditemani saja?" tanya Zaky kebingungan. Zoya menggeleng cepat. "Nggak perlu, Mas. Aku bisa sendiri," ucap Zoya meyakinkan.


"Iya, tapi kenapa aku nggak ikut aja?" Zaky seakan belum menyerah untuk bisa menemani Zoya berbelanja. Zoya memejamkan matanya frustasi. "Aku mau kesana, Mas. Nggak mungkin kan, Mas Zaky ikut," ucap Zoya lalu menunjuk toko yang menjual pakaian dalam wanita. Zaky mengikuti arah tunjuk Zoya dan langsung mengatupkan mulutnya. Dia mengangguk-angguk menyetujui usul Zoya.


Tidak mungkin dirinya ikut memilihkan ... Zaky menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran yang iya-iya. Setelah mendapat persetujuan dari Zaky, Zoya akhirnya bisa bernafas lega dan masuk ke toko tersebut.


Sesampainya di dalam, Zoya langsung menuju stan khusus baju tidur. Zoya memilih beberapa piyama dengan lengan panjang. Tidak perlu mencobanya karena Zoya sudah tahu ukuran tubuhnya.


"Hai, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya mbak SPG yang membuat Zoya menoleh dan tersenyum, lalu menggeleng. "Nggak perlu terima kasih, Mbak," jawab Zoya ramah lalu mulai memilih piyama yang cocok dengan seleranya.


"Mbak? Apa mbak tidak mau mencoba baju tidur yang ada disana?" tunjuk mbak SPG itu pada stan yang menggantungkan banyak sekali baju ... Bukan baju, karena pakaian itu terlihat kurang bahan. "Nggak deh, Mbak. Saya nggak pernah pakai baju begitu," tolak zoya halus.


"Wah, sayang banget ya, Mbak. Padahal, baju seperti itu bisa menyenangkan hati suami loh. Orang-orang meyebutnya dengan baju dinas," ucap mbak SPG seperti sedang mempromosikan dagangan.


Zoya meringis. 'Apa iya? Aku harus pakai baju seperti itu?' batin Zoya bimbang. "Dijamin deh, Mbak, suami senang dan nggak nakal di luar sana. Apalagi, suaminya suka kerja di luar kota. Hati-hati loh, Mbak," Mbak SPG itu seakan tidak kenal lelah untuk membuat Zoya tersugesti dan itu berhasil. Pada akhirnya, Zoya membeli baju tidur yang orang sebut dengan 'baju dinas'.


Zoya menuju kasir dengan beberapa lembar baju dinas yang akan dia gunakan nanti saat ... Astaghfirullahal'azdim! Zoya menyebut nama Tuhannya saat pikirannya menjadi tak karuan.


Setelah membayar tagihan, Zoya keluar dari toko itu untuk menghampiri Zaky. Namun, tiba-tiba Langkah Zoya terhenti karena gamis yang dia kenakan seperti ada yang menariknya dari samping. Zoya menoleh dan mendapati anak laki-laki sekitar enam tahunan sedang menatap dirinya seperti meminta bantuan.

__ADS_1


Zoya tersenyum dan berjongkok untuk mengsejajarkan tinggi badannya dengan tinggi badan anak. "Kenapa, Dek? Apa adek butuh bantuan?" tanya Zoya lembut. "Tante ... Tolong ... Tolong ...." Anak itu memohon dengan air mata yang berderai.


Zoya yang tidak tahu apa yang harus dia tolong pun semakin mengernyitkan dahi. "Iya? Saya harus menolong apa?" tanya Zoya sabar. "Saya hilang ... Saya terpisah dari mama," Anak itu semakin tergugu dalam tangisnya.


"Ssshhh." Zoya berusaha menenangkan anak tersebut dengan merengkuh tubuh mungil itu dalam pelukannya. "Nggak perlu takut, Sayang. Tante akan bantu cari dimana mama kamu ya? Udah, jangan nangis lagi," ujar Zoya menenangkan.


"Kenapa, Zoya?" tanya Zaky yang memang melihat Zoya seperti sedang menenangkan anak kecil yang tidak Zaky ketahui siapa dia. Zoya dan anak kecil itu mendongak. "Dia terpisah dari ibunya, Mas. Kita bantu dia dulu ya? Kasihan," ucap Zoya meminta persetujuan.


"Tentu. Kalau begitu, sini Om gendong ya, Dek? Kita menuju ruang informasi agar nanti mama kamu datang kesana," Zaky pun bergerak menggendong bocah itu di punggungnya. Zoya mengulum senyumnya membayangkan jika suatu hari anaknya akan di gendong seperti itu oleh ayahnya, yaitu Zaky.


Melihat Zoya yang belum melangkah, Zaky menoleh dan menyuruh Zoya untuk mengikutinya. "Zoya? Ayo!" Zoya tersentak dan berjalan mengikuti Zaky dengan menenteng kembali paperbag berisi barang belanjaannya.


Setelah sampai di ruang informasi, Zaky segera memberitahukan bahwa ada anak kecil yang kehilangan ibunya. "Nama kamu siapa? Biar nanti mama kamu dengar dan kesini," tanya Zaky lembut.


"Yusuf, Om." jawab bocah laki-laki itu polos. Zoya mengacak rambut Yusuf gemas. Wajahnya terlihat sangat lucu saat menatap dengan tatapan polosnya. Setelah itu, petugas yang berada di ruang informasi pun mengumumkan atas hilangnya anak bernama Yusuf. Dan menyuruh orang yang disebut 'mama' oleh Yusuf itu untuk segera menuju ruang informasi.


"Yusuf kenapa?" tanya Zoya membungkuk agar bisa menatap wajah polos Yusuf. "Tante ... Yusuf lapar," aku Yusuf sambil menatap coffe shop yang menjual donat dengan berbagai rasa. Zoya dan Zaky sontak tergelak renyah. "Kenapa kamu nggak bilang? Kita beli donat mau?" tanya Zaky yang mengerti maksud Yusuf.


Dan benar saja, wajah Yusuf yang semula mendung, seketika berubah cerah. Ketiganya berjalan ke coffe shop tersebut dan memesan satu box donat untuk Yusuf. "Kamu beli sekalian, Zoy. Aku yang bayar," ucap Zaky lembut. Zoya terkekeh. "Kamu lupa, Mas? Aku ini penjual roti?"


Zaky ikut terkekeh. "Ya barangkali kamu ingin makan produk luar negeri. Siapa tahu bisa jadi referensi," Zoya menipiskan bibirnya dan mengangguk. "Boleh deh, Mas. Siapa tahu bisa jadi referensi," kekeh Zoya mengiyakan saja.


"Ini untuk Yusuf," ucap Zaky menyodorkan satu box donat. Dalam satu box itu berisi enam buah donat. Jadi, Zaky yakin Yusuf akan kenyang.

__ADS_1


"Aku beli yang coklat kacang tiga ya, Mas," ucap Zoya meminta izin. Zaky mengangguk. "Pesan aja ... Jangan hanya tiga. Kalau perlu semuanya," ucap Zaky bersungguh-sungguh.


"Apaan sih, Mas. Siapa yang mau makan nanti? Kan kalau mau lagi, bisa bikin sendiri," jawab Zoya lalu menerima box donat pesanannya. Zaky segera membayarnya dan mengajak Zoya serta Yusuf untuk keluar.


Saat kembali, Yusuf langsung memekik kala melihat mamanya yang berdiri di samping ruang infomasi dengan tangis yang berderai.


"Mama!"


Zoya dan Zaky sontak mengalihkan pandangan kemana Yusuf menatap seseorang yang dia panggil mama. Tubuh Zoya langsung membeku saat mengetahui siapa ibu dari anak yang dia tolong.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa dukungannya ya😍


dikasih kembang aku udah seneng banget. apalagi kopi🤣


#modenglunjak


tapi, kalian like dan komen aja udah bikin aku deg-deg seeeer🤣🤣


berasa lagi baca pesan dari doi🤣


kalian moodboster banget😘😘🌹

__ADS_1


sambil nunggu up bab lagi, baca juga karya temanku yuk.



__ADS_2