Surga di atas lara

Surga di atas lara
Bab 60. Mundur perlahan


__ADS_3

Akhirnya, setelah penantian dan kesabaran cukup lama, Zaky telah sembuh dari sakit lumpuhnya. Walau untuk matanya, masih perlu pendonor yang cocok dan bersedia memberikan organ penting itu.


Bagi Zoya, itu tidak masalah. Dia bersyukur karena suaminya sudah bisa berjalan lagi. Tepat hari ini, suaminya akan pulang ke Indonesia untuk merajut asa bersama keluarganya. Hidup harus tetap berlanjut entah bagaimanapun keadaannya.


Zaky akhirnya mengundurkan diri dari kepolisian dan memilih untuk memperbesar usahanya. Ya, Zaky sudah punya usaha yang sedang diurus oleh orang kepercayaannya.


"Sebentar lagi aku mau take off, aku matikan dulu teleponnya ya, Sayang?" izin Zaky pada Zoya. Keduanya sedang melakukan panggilan video sebelum Zaky pulang ke Indonesia. Bisa Zoya lihat, Zaky menyerahkan telepon genggamnya pada Roni, seseorang yang sudah menemani Zaky selama di luar negeri.


"Iya, Mas. Semoga Allah melindungi mas Zaky dan selamat sampai tujuan. Wassalamualaikum, Mas," Setelah mendengar jawaban dalam, telepon akhirnya berakhir. Zoya tersenyum bahagia, sebentar lagi dia akan berjumpa dengan suaminya setelah sembilan bulan lamanya tidak berjumpa.


Itu bukanlah waktu yang sebentar bagi Zoya. Sembilan bulan bagi Zoya layaknya sembilan windu. "Bu, mas Zaky sedang dalam perjalan pulang. Sebentar lagi pesawatnya take off katanya," ucap Zoya berjalan mendekati bu Khadijah yang sedang sibuk di dapur.


"Alhamdulillah ... Ibu sudah tidak sabar untuk bertemu anak ibu. Semoga Allah selalu melindungi Zaky dimanapun dia berada," jawab bu Khadijah tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.


"Aamiin ya rabbal'alamin."


"Arka dimana, Bu? Kok nggak ada suaranya?" tanya Zoya sambil pandangannya mengedar. "Arka main sama Yasa di depan, Nak. Susul gih ... Kayaknya ada yang mau Yasa bicarakan sama kamu," ucap bu Khadijah lembut.


Zoya tampak ragu karena ibu mertuanya itu sedang sibuk sedang dirinya malah akan duduk dengan santai. "Ibu nggak papa aku tinggal?" tanya Zoya memastikan. Bu khadijah terkekeh. "Nggak papa, Nak. Sebentar lagi bi Tutik nyuci toiletnya selesai kok. Nanti ibu suruh dia bantu ibu," ucap bu khadijah lagi.


Zoya mengangguk dan berpamitan ke depan untuk menemui Yasa. Karana kebetulan hari ini hari minggu, toko bunga Zoya tutup. Jadi, Yasa tidak perlu menjaganya.


"Eh, si Arka lagi main sama Tante Yasa ya? Senang banget keliatannya," ucap Zoya lalu mencolek hidung mancung anaknya. Anaknya itu sedikit demi sedikit mulai pandai berbicara. Di usianya yang sudah sembilan bulan hamori sepuluh bulan, Arka sedang latihan berjalan.


Sungguh, Zoya tidak menyangka anaknya akan tumbuh secepat itu. "Ada yang mau kamu bicarakan, Sa?" tanya Zoya menatap Yasa penuh tanda tanya. "Ada, Mbak. Ini penting," ucap Yasa gugup.

__ADS_1


Zoya mengernyit. "Penting banget?" tanya Zoya lalu mulai mencari keberadaan baby sister Arka untuk mengaja Arka bermain di halaman rumah terlebih dahulu. "Banget, Mbak."


"Mbak! Tolong ajak Arka main dulu ya?" ucap Zoya meminta tolong yang kebetulan baby sister Arka sedang berada tidak jauh darinya. Setelah sang baby sister menjawab iya, Arka dibawa oleh baby sisternya ke depan.


Baru setelah keduanya tak terlihat, Zoya mulai menanyakan lagi pada Yasa. "Bicara aja, Sa. Kaya sama siapa aja sih kamu," Zoya terkekeh melihat wajah Yasa yang terlihat gugup dan takut-takut.


Yasa berdehem kecil sebelum memulai pembicaraan seriusnya. "Mbak, sepertinya aku mau berhenti kerja di toko bunga mbak Zoya," aku Yasa dengan wajah yang menunduk.


Zoya tampak terkejut namun, mimik wajahnya segera dia rubah karena hal seperti ini pasti akan terjadi. Zoya justru tersenyum dan berkata. "Apa alasan kamu mau berhenti, Sa? Apa kamu punya masalah denganku?" tanya Zoya hati-hati.


Yasa langsung menggeleng kuat. "Nggak kok, Mbak. Itu nggak benar. Aku mau berhenti karena aku mau ... Menikah," ucap Yasa berusaha menatap mata Zoya. Zoya menutup mulutnya tak percaya dan mengulas senyum lebarnya.


"MasyaAllah Yasa ... Selamat ya, semoga bahagia dan sakinah hingga Jannah. Eh, ngomong-ngomong, siapa seseorang yang sudah berhasil membuat hati kamu luluh?" tanya Zoya tersenyum dengan alis yang naik-turun.


Mata Yasa langsung berbinar. "Nggak papa, Mbak? Ini aku di kasih gratis nih? Nggak bayar kan?" tanya Yasa beruntun. Zoya tergelak renyah. "Iya, untuk kamu aku aksih gratis. Mau sebanyak apapun itu bunga, nggak bayar sedikitpun," jawab Zoya tersenyum senang.


"Alhamdulillah ... Alhamdulillah ... Terima kasih ya, Mbak. Tapi acaranya masih dua bulan lagi kok, Mbak. Dan aku bakal berhenti kerja sepuluh hari sebelum hari H. Boleh nggak, Mbak?" tanya Yasa memohon.


Zoya melotot. "Ya Allah Yasa ... Ku kira nikahnya minggu depan ... Makanya kamu izin berhenti sekarang. Tahunya malah masih dua bulan lagi," Zoya sampi tepuk jidat melihat tingkah Yasa. Apalagi, sekarang dia justru sedang menyengir tanpa dosa.


"Hehe maaf, Mbak. Aku sengaja bilang jauh-jauh hari supaya Mbak Zoya sudah menemukan pengganti gitu. Biar Mbak Zoya langsung ada yang bantu setelah aku nggak kerja lagi," Yasa menjelaskan maksud tujuan dia mengatakannya jauh-jauh hari.


Kepala Zoya mengangguk-angguk. "Kamu benar juga, Sa. Aku bisa suruh salah satu yang ada di toko roti buat pindah kayaknya deh. Soalnya aku nggak bisa langsung percaya sama orang baru," Zoya berbicara sambil magut-magut.


"Itu lebih baik, Mbak. Nanti kalau karyawan baru Mbak bisa di andalkan, bisa tuh di lepas," jawab Yasa yang ikut magut-magut. Zoya menatap Yasa heran. "Di lepas? Kamu kira hewan peliharaan?"

__ADS_1


...................


Zada berhasil memarkirkan mobilnya di pelataran rumah bu Khadijah. Dia masih melakukan rutinitasnya untuk menemui dan bermain bersama Arka. Sejak tadi, Zada tidak berhenti tersenyum menatap mainan baru yang sudah dia siapkan untuk Arka.


"Semoga kamu suka ya, Arka," monolog Zada lalu bergegas keluar mobil. Dia berjalan ke arah pintu dengan tak sabaran karena sudah terlalu rindu dengan anak lucu itu.


"Assala ...mualaikum," sapa Zada melirih di akhir kata. Bahu Zada merosot saat melihat siapa yang pertama kali dirinya lihat. Dada Zada seperti sesak, dunia mimpinya telah berakhir dan harus menjalani kehidupan nyata.


Zaky telah kembali. Seharusnya Zada senang karena Zaky sudah pulih dan bisa berjalan lagi. Namun, ada sudut di hatinya yang tidak menyukai itu. Dengan kembalinya Zaky, mungkin dia sudah tidak bisa lagi menemui Arka seperti biasa. Apa itu akan tetap terjadi? Zada rasa sudah tidak bisa seintens kemarin.


Lihat! bahkan semua orang yang berada di ruangan tersebut sampai tidak menyadari kedatangannya. Semua sibuk dengan penyambutan Zaky. Apalagi Zoya, Zada bisa melihat air mata penuh haru terpancar disana.


Pelukan Zoya dengan Zaky seperti tidak mau terlepas. Zoya terlihat begitu mencintai suaminya. "Semoga bahagia, Zoya," gumam Zada lirih lalu mundur perlahan menuju mobilnya terparkir lagi.


Mainan yang sejak tadi berada di tangannya terpaksa harus dibawa pulang kembali. Mungkin Zada bisa memberikannya lain hari.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hmmm...


bagaimana nih kisah Zada selanjutnya?


yuk mampir juga ke karya temanku.


__ADS_1


__ADS_2