Surga di atas lara

Surga di atas lara
Bab 93. Extra Chapter


__ADS_3

Adis merasa lega ketika Arumi akhirnya tertidur. Dia berniat keluar dari kamar menuju lantai bawah untuk menemui Yusuf dan Ghaida yang mungkin saja sudah pulang. Adis tersenyum mengingat itu.


Saat langkahnya sudah sampai di depan pintu dan memutar kenopnya, Adis sadar bahwa ponselnya terlupa yang ditaruhnya di atas nakas. Dia kembali lagi untuk mengambil ponsel dan meninggalkan pintu yang saat ini sudah terbuka sedikit.


Samar-samar Adis mendengar suara langkah kaki dari depan kamar. 'Itu pasti Ghaida? Dia sudah pulang,' ucap Adis hanya dalam hati, tidak mau membangunkan Arumi yang baru saja terlelap.


Saat akan mencapai pintu, matanya menangkap pergerakan dari luar yang diduga adalah Ghaida. Saat dirinya ingin membuat pintu lebih lebar, Adis bisa melihat dengan jelas Ghaida yang saat ini berjalan mengendap-endap mendekati pintu kamarnya.


Adis mengernyit bingung sekaligus merasa curiga hingga memilih melihat hal apa yang akan Ghaida lakukan dengan cara mengintip keluar menggunakan satu matanya. Betapa terkejutnya Adis ketika mata Ghaida juga ikut mengintip.


Mata keduanya bertemu dan sama-sama membelalak saking terkejutnya. Adis ingin berteriak tapi sadar bahwa keadaannya tidak memungkinkan. Ghaida benar-benar mengagetkannya hingga membuat jantungnya mau copot dari tempatnya.


Adis akhirnya menjauhkan tubuhnya dari bilah pintu yang kemudian Ghaida lakukan juga.


...................


"Kamu kenapa tadi ngintip gitu?" tanya Adis sambil menahan tawanya. Ghaida yang merasa tertangkap basah, memilin jemarinya dan duduk dengan gelisah di sisi ranjang. Sedang Adis, dia berdiri di depannya dengan kedua lengan berkacak pinggang.


"A-aku ... Itu ...." Ghaida terbata-bata. Sungguh Ghaida merasa malu setengah mati karena sudah tertangkap basah suaminya sedang mengintip kamarnya. Tawa Adis meledak begitu saja hingga membuat Ghaida mengerjap kebingungan. "Mas Adis nggak marah?" tanya Ghaida memastikan.


Adis tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya. "Aku nggak marah. Kamu tahu nggak? Aku terkejut lihat mata kamu dekat banget sama mata aku. Ternyata kamu suka mengintip. Hati-hati loh, nanti bintitan," ucap Adis menakut-nakuti yang tentunya tidak membuat Ghaida takut sama sekali.

__ADS_1


Setahu Ghaida, bintitan bukan karena suka mengintip, melainkan karena kurang menjaga kebersihan. "Lagian, kamu juga lagi ngintip tadi, Mas. Aku juga terkejut tadi. Bisa-bisanya hal itu terjadi sih," seru Ghaida tidak habis pikir.


Adis tertawa lagi dan mengambil posisi duduk di sebelah istrinya. "Jangan-jangan, kamu memang selalu ngintip ke kamar ya?" tanya Adis dengan alis naik turun. Ghaida membuang pandangan asal. Yang terpenting, tidak mengarah pada suaminya. Ghaida bergumam panjang. "Ya karena aku penasaran," jawab Ghaida asal.


"Yakin? Atau sebenarnya, kamu punya maksud lain?" tanya Adis lagi belum puas menggoda istrinya yang saat ini pipinya sudah merah merona. "Memangnya nggak boleh ya?" jawab ghaida balik bertanya. Adis terkekeh pelan. "Nggak boleh dong. Pasti jiwa kepo kamu sedang meronta kan?" tanya Adis lagi tak kenal lelah.


"Mana ada? Aku cuma penasaran aja. Katanya Arumi kan lagi pusing. Aku ngintip dikit kan nggak masalah, cuma mau cek dia baik-baik saja. Soalnya kalau aku masuk, takut ganggu dia yang sedang istirahat," sangkal Ghaida lalu memberikan alasannya.


"Yakin?" tanya Adis tersenyum meremehkan. Ghaida langsung beranjak dari duduknya. "Ish, apaan sih, Mas. Masa nggak percaya sama istri sendiri," kesal Ghaida lalu melepas mukenanya asal dan menaruhnya di tas meja rias begitu saja.


Ghaida kira, Adis akan lelah untuk mengajaknya bicara setelah setengah jam Ghaida tidak merespon suaminya. Dia memilih berzikir hingga waktu isya tiba. Namun, Adis seperti tidak kenal lelah untuk mengajaknya bicara dan menunggu Ghaida sampai selesai sholat isya. Bahkan, Adislah yang memimpin sholat isyanya. Sedang Ghaida, menjadi makmumnya.


Terdengar tawa renyah dari Adis saat Ghaida berusaha menyibukkan diri di depan meja rias. Setelah itu, Ghaida bisa merasakan tangan besar dan kokoh melingkar di perutnya, disusul dengan bahunya yang tiba-tiba mendapat beban seperti dagu yang menempel.


"Ya, barangkali ada yang tiba-tiba masuk dan lihat."


"Nggak bakalan. Aku sudah kunci pintunya. Malam ini adalah jatahku tidur disini," ucap Adis tersenyum puas, merasa bangga karena bisa membuat Ghaida tak berkutik dalam dekapannya. Adis sungguh senang ketika melihat Ghaida malu-malu tapi mau seperti saat ini.


"Arumi gimana, Mas? Dia kan lagi nggak enak badan. Kalau tiba-tiba bangun terus mencari kamu, gimana coba?" tanya Ghaida tak enak hati.


Tuh kan! Ghaida sebenarnya mau tapi malu. "Nggak bakal. Aku sudah bilang ke Arumi kok. Aku juga sudah kasih Arumi obat tidur agar bisa terlelap," ucap Adis yang berhasil disalah artikan oleh Ghaida.

__ADS_1


Dengan kasar, Ghaida melepas pelukan Adis dan berbalik untuk bisa menatap wajah suaminya. "Kamu bilang apa? Dikasih obat tidur? Kamu tahu? Itu nggak baik untuk ibu hamil, Mas," kesal Ghaida tidak habis pikir dengan jalan pikiran suaminya.


Adis terkikik geli. "Ghaida ... Ghaida ... Aku kasih dia obat tidur itu atas saran dokter. Tadi siang, Arumi di periksa lagi karena katanya pusing banget. Setelah di periksa, Arumi ternyata kurang istirahat yaitu tidur," jelas Adis panjang lebar.


Ghaida akhirnya bisa bernapas lega. Dugaannya salah tentang Adis yang sembarangan memberikan obat tidur pada ibu hamil. "Aku kira kamu capek jagain Arumi dan kasih obat tidur," gumam Ghaida lalu ingin pergi dari hadapan suaminya namun, segera dicegah oleh Adis. "Mau kemana si?" tanya Adis lalu mengangkat pinggul Ghaida untuk di dudukkan di atas meja rias.


"Mas! Kalau mejanya jeblos gimana?" pekik Ghaida terkejut karena tubuhnya tiba-tiba saja melayang. Adis terkekeh. "Nggak bakal. Kamu nggak seberat itu sampai-sampai mejanya ambles."


Setelahnya, keduanya diam dengan pandangan saling menatap satu sama lain. Jemari Adis bergerak menyingkirkan anak rambut Ghaida yang menganggu penglihatannya untuk bisa menatap Ghaida sepenuhnya.


"Kamu cantik kalau pakai baju seperti ini," puji Adis lembut dengan berbisik di telinga Ghaida. Bola mata Ghaida bergerak gelisah. Suara suaminya benar-benar membuat bulu-bulu halus di kulitnya meremang.


"Lain kali aku akan belikan lagi dress yang seperti ini untukmu," sambung Adis lagi yang saat ini sudah menjatuhkan salah satu lengan di pundak Ghaida. "Mas?" lirih Ghaida dengan napas yang menderu.


Ghaida memejamkan mata saat merasakan pundaknya mendapat kecupan lembut berkali-kali. "Mas ..."


Mengabaikan protes Ghaida, Adis tetap melancarkan aksinya. "Boleh aku minta kamu sekarang?" tanya Adis meminta izin sebelum menyentuh istrinya terlalu jauh. Ghaida tidak memberikan respon apapun yang diartikan oleh Adis bahwa Ghaida saat ini juga sedang menginginkannya.


"Katakan berhenti jika kamu tidak suka. Tapi, jika kamu tetap diam, berarti kamu juga mempunyai keinginan yang sama denganku," ucap Adis lembut dengan suara seraknya. Tatapan matanya kini terlihat sayu dan itu membuat rasa di hati Ghaida semakin membuncah. Baiklah, seperti Ghaida juga menginginkan sentuhan dari suaminya.


Tanpa permisi, Ghaida menyambar bibir Adis terlebih dahulu hingga membuat senyum Adis berhasil tersungging. Adis bergerak membalas sentuhan yang membuat dirinya tenggelam sedalam-dalamnya.

__ADS_1


"Aku mencintaimu, Mas,"


__ADS_2