
Ghaida harus kembali bekerja ketika hari telah berganti. Dia sudah berangkat bersama Adis sekalian mengantarkan Yusuf ke sekolah. Oh ya, mulai hari ini sudah ada asisten rumah tangga yang mengerjakan pekerjaan rumah. Jadi, Ghaida tidak perlu repot beres-beres sebelum berangkat bekerja. Ghaida tersenyum senang melihat perubahan pada suaminya.
Saat ini Ghaida sudah berada di balik meja kasir dan siap memulai pekerjaan paginya. Zoya baru saja keluar setelah membuka toko dan mengatakan akan ke toko rotinya.
Bel berdenting menandakan ada pelanggan yang masuk. Namun kali ini, pelanggan itu terlihat berbeda dari biasanya. "Selamat datang di Adhisty florist," sambut Ghaida pada pria di depannya.
Pria itu terlihat rapi dengan setelan jas mahalnya, sepatu pantofel warna hitamnya juga terlihat mengkilap, menandakan bahwa hsrgs sepatu tersebut tidak main-main. Ketika tatapnya bertemu dengan pria tersebut, Ghaida mengernyit karena saat ini, pria tersebut justru balik menatap dirinya.
"Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Ghaida ramah uang segera mendapat gelengan dari doang tersebut. "Apa benar, nama Anda adalah Ghaida Sanjaya?" tanya pria tersebut yang berhasil membuat jantung Ghaida seperti mencelos.
"Iya. Darimana Anda tahu?" tanya Ghaida penasaran. "Perkenalkan nama saya Randy, adik dari Rudy," ucap pria tersebut yang berhasil membuat Ghaida mundur perlahan. Ghaida seketika merasa ketakutan saat nama Rudy lagi-lagi disebutkan. Melihat wajah Ghaida yang tampak panik, pria tersebut mencoba menenangkan. "Tenang, Mbak. Saya nggak bermaksud jahat. Say datang menemui mbak Ghaida untuk sesuatu hal yang penting," ucap pria tersebut lembut.
Ghaida yang tubuhnya sedikit bergetar akhirnya memilih duduk. "Ada apa? Kenapa mencari saya?" tanya Ghaida yang kini tak lagi ramah seperti pertama kali. Pria tersebut menunduk. "Maaf jika kedatangan saya membuat mbak Ghaida terkejut. Tapi, saya harus datang demi anak yang mbak Ghaida lahirkan," ucap pria tersebut yang berhasil membuat Ghaida mendongak dengan tatap terkejutnya.
Ghaida menatap nyalang pada sosok pria bernama Randy. "Ada apa dengan putraku? Dia hanya putraku," ucap Ghaida dingin dan penuh penekanan. Pria itu mendekat selangkah. "Tenang, Mbak. Saya tidak bermaksud jahat. Saya cuma ingin memberikan sebagian harta yang kakak saya punya untuk anaknya, Yusuf," ucap Randy yang berhasil membuat emosi Ghaida naik.
"Pergi dari sini! Jangan ganggu aku dan anakku lagi! Aku sudah menebus semua kesalahan dengan mendekam di penjara. Tolong pergi dari sini dan jangan temui aku lagi," ucap Ghaida dengan suara yang meninggi.
"Tapi ini wasiat dari Rud—"
"Jangan sebut nama itu di hadapanku! Pergi dari sini aku mohon! Urusanku sudah selesai!" sela Ghaida dengan kedua tangan menangkup di depan dada. Akhirnya, pria bernama Randy itu terpaksa pergi dan mungkin, lain kali dia akan menemui Ghaida lagi.
__ADS_1
Setelah Kepergian Randy, Ghaida menyeka keringat dingin yang sejak tadi hadir di keningnya. Entah mengapa, Ghaida begitu takut saat nama Rudy disebutkan lagi. Apalagi, pria tadi membawa-bawa nama Yusuf. Ghaida tahu bahwa dirinya tidak bisa menyembunyikan fakta yang ada.
Tapi, Ghaida tidak mau Yusuf tahu siapa ayah kandungnya. Ghaida takut hal itu bisa membuat mental Yusuf terpukul jika mengetahui seluk-beluk dari ayah kandungnya.
"Ghaida aku lupa buku catatannya keting—" Ucapan itu berhasil membuat Ghaida tersentak. Ucapan yang mengambang karena saat ini orang yang datang itu justru terpaku menatap Ghaida. Dia adalah Zoya yang terpaksa putar balik saat catatan keuangannya tertinggal di toko bunga.
"Kamu kenapa, Da? Kok muka kamu pucat banget? Kamu sakit?" tanya Zoya khawatir kemudian mendekat. Ghaida menggeleng pelan. "Aku nggak papa kok, Mbak," jawab Ghaida berbohong kemudian berdiri untuk menyambut Zoya. Zoya segera mencegah dan membiarkan Ghaida untuk tetap duduk. "Nggak usah berdiri, duduk aja nggak papa. Aku ambil sendiri bisa," ucap Zoya, Ghaida akhirnya menurut.
Ghaida melihat Zoya yang berjalan menaiki tangga untuk mengambil buku catatan keuangannya. Sebenarnya, catatan keuangan bisa Zoya catat di tablet atau laptopnya. Tapi, Zoya memilih menggunakan buku sebagai alatnya.
Tidak berapa lama, Zoya telah kembali dan berjalan mendekati Ghaida. "Kamu nggak papa kan, Da?" tanya Zoya sekali lagi untuk memastikan. Ghaida menggeleng dengan senyum yang terpaksa diulasnya.
"Kalau kamu belum siap cerita, nggak papa kok. Kamu bisa cerita lain hari," ucap Zoya tidak ingin memaksa karena melihat raut wajah Ghaida yang berbeda. Ghaida mendongak untuk bertemu tatap dengan mata Zoya.
"Dia adik dari seseorang yang pernah me le cehkan aku, Mbak. A–aku takut dia da-datang untuk membawa Yusuf," ucap Ghaida terbata-bata. Zoya membuka mulutnya tak percaya. Sedetik kemudian, mulut Zoya kembali terkatup, tidak tahu harus berkata apa.
"Dia tahu kamu ada disini?" tanya Zoya memastikan. Ghaida mengangguk membenarkan. "Pasti tahu, Mbak. Mereka orang kaya yang punya akses mencari informasi sebanyak-banyaknya," jawab Ghaida realistis.
..................
Sore harinya, Ghaida sudah berada di rumah. Pemandangan yang pertama kali Ghaida lihat adalah Yusuf dan Arumi yang sedang mengobrol di teras belakang. Entah membicarakan apa tapi, keduanya terlihat akrab hingga iri terbesit di hati Ghaida.
__ADS_1
Yusuf terlihat begitu ekspresif ketika sedang berbincang dengan Arumi. Akhirnya, Ghaida memilih mendekat untuk bergabung bersama keduanya.
"Lagi ngobrol apa nih? Kok kayanya seru banget?" tanya Ghaida mencoba masuk ke obrolan keduanya. "Eh! Mbak Ghaida sudah pulang? Ini, Yusuf cerita tentang teman-temannya di sekolah. Iya nggak, Suf?" ucap Arumi sambil bertanya pada Yusuf.
Yusuf mengangguk dan tersenyum menatap ibunya. "Iya, Ma. Yusuf lagi cerita tentang teman Yusuf di sekolah. Mama mau aku ceritakan juga? Sini, Ma ... Duduk di sebelahku," ajak Yusuf sambil menepuk tempat kosong di sampingnya.
Deg.
Seketika Ghaida sadar, selama ini dia belum bisa menjadi ibu yang baik untuk Yusuf. Hal yang belum pernah Ghaida lakukan, kini Arumi yang lebih dulu melakukannya, yaitu mendengarkan cerita Yusuf tentang apa yang dia lewati di sekolahnya.
Rasa bersalah seketika menyeruak. "Mama boleh gabung?" tanya Ghaida memastikan yang langsung mendapat anggukan cepat dari Yusuf.
Setelah Ghaida duduk, Arumi segera membuka pembicaraan. "Mbak? Tahu nggak? Yusuf katanya ada teman perempuan loh?" ucap Arumi bermaksud menggoda Yusuf. Yusuf yang sadar sedang digoda, menatap Arumi tidak terima karena hal yang baru saja dirinya ungkapkan, justru diceritakan pada ibunya.
"Oh ya? Namanya siapa, Suf? Cantik nggak?" tanya Ghaida tanpa marah sedikitpun. Ghaida sadar, putranya sudah bukan anak balita lagi yang akan merengek jika ingin mainan. Yusuf, putranya sudah beranjak remaja dan sebentar lagi akan masuk Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Mengingat hal itu, membuat mata Ghaida tiba-tiba memanas dan cairan bening yang hangat mengalir dari sudut matanya sederas aliran sungai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
terima kasih untuk kalian yang masih stay disini😘
__ADS_1